Catatan Batin Ruslan Ismail Mage
Seorang anak lelaki di sebuah sudut kampung terlahir sebagai anak tugal. Sehingga tidak mengherankan kalau suasana rumahnya selalu sepi dari teriakan anak-anak bermain. Tidak jarang sang anak lelaki itu duduk sendirian termenung membayangkan dirinya bermain kejar-kejaran dengan adik-adiknya seperti tetangganya.
Seiring waktu, ia bertumbuh dan berkembang menjadi anak yang hanya berteman dengan buku-buku, koran dan majalah langganan ayahnya. Tidak mengherankan kemudian, kalau sejak SD, SMP, SMA menjadi siswa yang berprestasi. Terlebih setelah kuliah, ia semakin memperlihatkan kemampuannya. Sejak kuliah S1, S2, sampai S3, selalu mendapatkan beasiswa.
Pekerjaan sudah punya, gelar akademik suda cukup, sudah mendatangi beberapa negara sebagai undangan kehormatan. Namun ada satu hal yang tidak bisa dimiliki, yaitu saudara karena terlahir sebagai anak tunggal. Saudara sejiwa, sehati, sebatin, sevisi, setujuan dalam memaknai hidup dan kehidupan tidak bisa diciptakan apalagi dibeli. Karena ia bertumbuh dan mekar dari dalam batin.
Tuham Maha Tahu segala yang tersembunyi dalam hati setiap hamba-Nya. Tuhan Maha Mengerti apa harapan dan keinginan sekecil apa pun dalam jiwa hamba-Nya. Akhir tahun 2018, sang anak lelaki tunggal itu yang sudah menjelma menjadi akademisi, penulis buku produktif, inspirator dan penggerak itu, mendapat undangan dari PGRI Kolaka Utara untuk menjadi narasumber tunggal dalam acara seminar nasional kependidikan.
Untuk sampai ke Bumi Patampanua Kolaka Utara, lelaki setengah tua yang masih menyimpan sedikit pesona itu, melakukan perjalanan udara kurang lebih dua jam dari Jakarta ke Makassar. Kemudian langsung naik mobil dari Makassar ke kota kelahirannya Soppeng selama tiga jam lebih. Seterusnya dari kota Cabenge naik mobil lagi ke Kabupaten Wajo untuk menyeberang nail kapal feri ke kota Lasusua Kolaka Utara.
Secara fisik perjalanan ini melelahkan. Namun karena disambut dua orang suami istri yang dari jau sudah melambaikan tangan dengan senyum familiarnya, serta merta capek fisik tidak terasa. Entah kenapa jiwaku terasa sejuk, hatiku terasa damai, batinku terasa nyaman, naik mobil jeep suzuki escudo, bertiga dengan pasangan suami istri itu menelusuri bibir pantai Lacaria.
Bapak Hasbi Latif dan Ibu Rosmawati nama pasangan suami istri itu yang selama empat hari di bumi Patampanua, telah benabur dan menanam benih-benih persaudaraan tanpa batas tanpa syarat di lahan jiwaku yang selama kelahiranku di landa kemarau kesepian berkepanjangan sebagai anak tunggal.
Sejak akhir tahun 2018 benih-benih persaudaraan itu terus kami pupuk dan siram setiap saat, hingga terus bertumbuh, berkembang, dan berbunga indah di taman-taman jiwa kami. Sekarang saya tidak merasa anak tunggal lagi, karena sudah punya dua saudara walaupun tidak sekandung, tetapi sejiwa, sehati, dan sebatin namanya pak Hasbi Latif dan ibu Rosmawati.
Saya sorang ayah yang anti mendengar atau melihat anak-anauku menangis. Ketika kedua bocaku punya masalah dan menangis, pasti saya langsung menghardiknya. Tetapi entah kenapa setiap mendengar saudaraku kurang sehat yang jauh di sana, tidak jarang mataku basah. Inilah yang saya sebut inti manajemen satu rasa, “deritamu deritaku, bahagiamu bahagiaku, air matamu air mataku, senyummu senyumku.
Hari ini Senin 23 Agustus 2021, saudaraku pak Hasbi Latif dan ibu Rosmawati sedang mensyukuri hari kelahirannya berdua. Dari mataku yang basah, hatiku yang merindu, batinku bertasbih mengucapkan selamat “milad” saudaraku, sehat selalu, damai, dan bahagia tiada akhir. Semoga saudara-saudara kita semua di Bengkel Narasi selalu mendapat lindundungan Allah Swt, hingga suatu saat kita semua bisa bertemu langsung. Amin. []
Sahabatmu saudaramu RIM

Maasyaa Allah