Oleh : Ghinda Aprilia
Tepat di bulan ke-15 di rumah boss yang ke-5, lagi-lagi aku harus kehilangan pekerjaanku. Kaget sudah pasti karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Begitulah hidup, kadang di atas kadang di bawah, seperti roda yang selalu berputar, tergantung cara kita mensyukurinya. Aku hanya berharap mendapatkan boss yang lebih baik.
“Ghinda, you can’t stay here untill finish contract, i want take care my son.” Celetuk boss dengan mimik lesu. Kayak disambar gledek sudah pasti, tapi aku berusaha menyembunyikan rasa kagetku.
“It’s ok mom, no problem.”
“You can find another job, when we are go to Japan.” Sambungnya lagi.
Beberapa hari kesempatan untuk mencari majikan, tidak aku sia-siakan. Mendapatkan calon boss di Choi hung lembur sehari kerja, langsung suka dan siap tanda tangan kontrak. Pagi harinya aku di telepon temanku yang bekerja di Agency.
“Teh, kamu ke kantor, ada boss baik, jaga anak 1, perempuan. “Terdengar suara temanku di seberang pulau.
“Mbak, aku sudah punya boss, tinggal cimeng (tanda tangan).” Aku sanggah permintaannya dengan halus.
“Teteh datang saja, gak enak sama bosku” tegasnya setengah memaksa dari nada bicaranya.
Sebagai teman tentu aku tak kuasa untuk menolaknya. Di hari itu juga aku datang, walau lama menunggu. Di siang hari ada calon lopan dengan anaknya, Sailo yang berumur 22 tahun. Aku di suruh masuk ruangan interview, bahasa Kantonku kurang, karena dari awal di Hongkong aku komunikasi dengan bahasa Inggris. Calon boss ini sama sekali tidak ngerti bahasa Inggris. Selesai interview aku bilang sama mbak temanku.
“Mbak, maaf majikan ini tidak bisa bahasa Inggris, sedangkan aku tidak bisa (minim) bahasa Kanton.”
“Teh, jangan bilang gak bisa bahasa kanton, majikan tidak suka.” Sambil gebrak meja, baru tahu sifat aslinya, dalam hati aku beristighfar. Karena merasa tidak enak itu aku mau saja tanda tangan kerja sama orang ini. Yang belakangan aku ketahui, job utama aku mengurus anak disabilitas, yang aku panggil Sailo (anak laki-laki). Sailo bicaranya kurang jelas, walau umur 26 tahun tapi persis kayak anak 7 tahun, tetapi dia anak yang cerdas, dia juga bekerja. Aku merasa dibohongi karena liburku sebisanya majikan libur.
Tepat tanggal 12 bulan September tahun 2017 aku masuk ke rumah ini yang berdomisili di daerah Nam Cheong. Pertama kali masuk kerja, Sailo belum bisa menerima kehadiranku. Dia masih menginginkan cece yang sebelumnya, bosku interminit karena hamil. Sailo tidak bisa mengendalikan emosinya, dia selalu ngamuk, teriak-teriak, memukul dan mengusirku. Kejadian ini berlangsung hingga 4 bulan. Sailo benar-benar sering labil, dia tidak mau menerimaku. Pergi kerja pakbehe (ngamuk-ngamuk), sampai guru pembimbingnya kewalahan.
Pernah aku seperti orang gendeng, bawa koper, keliling apartemen, aku tidak boleh masuk rumah. Satu yang aku lakukan, aku sering dzikir dan shalawat dalam hati, aku mengharap keajaiban-Nya menundukkan hati Sailo. Alhamdulillah 4 bulan berlalu, Sailo mulai bisa menerima aku, belakangan yang aku tahu penyebab Sailo ngamuk-ngamuk dan tidak bisa menerima aku karena merasa di bohongi seharusnya dia dikasih tahu kalau cecenya mau pergi.
Hari-hari selalu dihantui rasa takut, terlebih tengah malam, aku takut dia ke dapur, mengambil senjata tajam, di saat aku tertidur. Akupun sempat stress karena dihantui rasa takut dan sering di pukul. Sempat ada keinginan untuk ngebreak.
Suatu hari aku izin keluar mau jemput tamu dan mengajaknya makan siang, tetapi yang terjadi malah Sailo hilang di Mtr Tsim Sha Tsui. Kesalahanku karena menyuruhnya membeli tiket mtr untuk tamunya, tetapi miscommunication. Tiada yang bisa aku lakukan selain guling-guling di tempat, mau ngomong sama siapa, aku dalam keadaan gugup. Akhirnya lapor Polisi, kami keliling TST tetapi tidak ditemukan. Ketika di kantor Polisi TST jam 17.00 ada yang telepon Singsang (tuan) ternyata itu dari Restoran Chandra. Alhamdulillah sujud syukur Sailo lagi enak-enakan makan ayam goreng di sana. Semakin dihantui rasa takut, Sailo hilang lagi.
Sailo sering aku ajak makan di restoran Indonesia dia jadi ketagihan makan Tempe. Berhubung mahal aku coba praktek bikin sendiri, tetapi lagi-lagi dia bikin ulah, kacang kedelai yang tinggal ngasih ragi dia campur dengan minyak sayur dan garam. Refleks aku banting saringan kopi. Sailo tahu aku marah, diapun pakbehe (ngamuk) lagi. Semakin tahu hati dia harus selalu senang, aku harus bisa mengerti dan mengendalikan emosiku.
Beberapa bulan sekali aku mengantar dia ke klinik yang ada di Yaumatei dan Margaret Hospital, ada obat yang harus diminum. Entah apa alasannya Singsang tidak membolehkan minum obat, akibatnya semalam 01-09-2021 sampai jam 02 pakbehe. Ini pertama kali dia kumat sejak kami pindah di rumah ini 15 bulan yang lalu.
MasyaAllah, tabarakallah, tiada yang kebetulan melainkan sudah jalan-Nya, sailo seumur dengan putraku Agung andai masih ada. Aku merawat Sailo seperti anakku sendiri. Sailo bicaranya kurang jelas, tetapi lama-lama aku bisa faham apa yang dia maksud, butuh kesabaran.
Alhamdulillah, dia bekerja dari hari senin sampai hari jum’at, haha gajinya melebihi gajiku lho. Inilah hebatnya Hongkong, orang-orang berkebutuhan khusus seperti Sailo tetap produktif. Sailo bekerja di salah satu komunitas khusus penyandang cacat, tugas dia packing produk dari Kee Wah Bakery.
Dia pinter main Puzzle walau rumit, bisa mengerjakannya sendiri. Anak yang mandiri, terbiasa melakukan tugas-tugasnya sendiri. Dia super bersih orangnya, tepat waktu, pagi dan malam selalu pakai hand body sehingga kulitnya lembut. Semakin lama Sailo Alhamdulillah bisa menerimaku, pekerjaanku sering dia bantu. Dia juga super bersih orangnya, mandi tepat waktu, selalu pakai hand body pagi dan malam, kulitnya seperti bayi, lembut sekali.
Semakin lama Sailo Alhamdulillah dia bisa menerimaku, pekerjaan rumah sering dia membantuku, sepertinya dia lebih dekat denganku daripada dengan keluarganya. Kalau aku libur pasti sudah menanti kedatanganku di pintu.
“Hallo Sailo, Yau mo hoisam? Le sik fan mea?” (Hallo Sailo, apa kamu bahagia, apa kamu sudah makan), itu kalimat yang pertama kali aku tanyakan. Dia kadang memeluk dan menciumku, aku tidak risih, karena dia tidak punya nafsyu. Sailo sering juga mengingatkanku waktunya mandi, haha terkadang aku masih menundanya dengan mengepekerjaanrjakan lain.
“Cece, lei Paisan sin (Cece kamu Shalat dulu),” seraya menggelar sajadah, terharu sudah pasti.ðŸ˜
Ketika ada kegiatan di luar, terkadang aku membawa dia pergi. Alhamdulillah walau ada kekurangan teman-temanku menyukai Sailo.Ketika aku menjanjikan sesuatu, dia akan selalu mengingatnya, memorynya sangat bagus.
Hikmah yang bisa aku ambil dari Sailo, banyak mengajarkan aku supaya bisa melatih diri untuk lebih bersabar lagi. Dia mengingatkan aku untuk bisa menghargai orang lain, walau dia ada kekurangan, tetapi tidak boleh semena-mena karena dia pun punya hati nurani. Selalu banyak bersyukur aku dikaruniai fisik yang lengkap, akal fikiran yang sehat. Bekerjalah dengan hati, semua kebaikan akan kembali ke diri kita. Ay yayu Sailo (i love you Sailo).

Masya Allah ,tulisan yg bagus dan bnyak mmberikn pelajaran kepda kita untuk lebih bersabar dan tidak menyerah.