Pegawai Negeri Sipil (PNS) bukan saja unsur aparat negara, tetapi juga merupakan abdi negara dan abdi masyarakat. Dengan sumpah bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Republik Indonesia. Itulah yang diucapkan semua PNS pada saat awal pengangkatan. Begitu pun dengan aku sebagai seorang guru di Desa Kamisi, Kolaka Utara, sejak pengangkatan tahun 2006 lalu.
 
Masih ingat tanggal 24 Maret 2018 lalu ponsel aku berdering tanda pesan WhatsApp masuk. Namun, aku abaikan, tidak langsung melihat dan membaca pesan masukya. Sesaat kemudian kembali berdering. Aku ambil dan membaca pesan masuk, “Selamat ya, tapi kamu meninggalkan kami”.

Belum hilang rasa kaget dan penasaran membaca pesan masuk itu, kembali ponselku berdering telepon dari kepala sekolah. “Halo, halo,” suara di seberang sambil menangis.

“Itu kan suara kepala sekolah?” kataku dalam hati.

Seketika aku kaget membuat denyut jantungku tidak beraturan.

Ada apa dan kenapa beliau mengatakan, “Kamu meninggalkan kami”.

Aku langsung menjawab, “Iya Ibu, saya tidak akan meninggalkan Ibu, saya hanya lagi di Bali sebentar, Ibu. Besok lusa juga pulang lagi berkumpul sama Ibu mengajar di sekolah.

Kembali suara di seberang menjawab, “Bukan itu maksud Ibu. Tetapi engkau akan meninggalkan kami di sekolah karena SK pengangkatanmu sebagai kepala sekolah sudah keluar.”

Kembali saya bingung dan kaget. Ingin rasanya pulang cepat ke Sulawesi Tenggara, tetapi kami masih harus tinggal dua hari lagi. Liburan kali ini tak saya nikmati lagi.

Setelah sampai di kampung pulang liburan di Pulau Bali, esok harinya tepat pukul 16:30 aku kedatangan tamu dengan membawa amplop di sekolah. Langsung saya membuka dan pelan-pelan membaca isi suratnya. Subhanallah, ternyata betul ini SK pengangkatanku sebagai kepala sekolah. Aku simpan amplop itu di atas meja, lalu mengambil ponsel menelepon kepada saudara memberitahukan SK pengangkatanku.

Keluargaku semua mengatakan, “Itu hadiah ulang tahun kamu”. Seketika aku berteriak, aku tidak menginginkan kado apa pun, aku lempar ponselku dan menangis sejadi-jadinya. Hingga tetangga heran dan bertanya, “Siapa yang meninggal?”

Kepala Sekolah menjawab, “Tidak ada meninggal, cuma Inul dimutasi ke sekolah lain.”

Mendengar itu, Ibu-ibu tetangga pun pada heran dan bermaksud ingin melakukan demo memperotes kepindahanku.

Melihat protes ibu-ibu, kepala sekolah langsung menjelaskan maksud kepindahanku sebagai mutasi “naik jabatan sebagai kepala sekolah”. Para ibu-ibu pun kembali mengucapkan selamat.

Sungguh, kado ini menjebakku. Kata keluarga semua inilah jalan satu-satunya agar aku di pulangkan ke kampung halaman. Kado SK PNS itu membuatku dilema, satu sisi aku senang bisa menjadi PNS, namun disisi lain aku sedih karena harus meninggalkan sekolah dan warga desa yang sudah mengangapku keluarganya.

Sesungguhnya aku sudah merasakan damai dan kesenangan bertugas di desa yang jauh dari keramaian. Ada rasa nyaman dan damai di sana. Aku selalu ikhlas, tulus, serta  jujur dalam menjalani amanah. Itulah mungkin yang membuat teman guru dan warga desa menyayangiku dan merasa kehilangan atas kepindahanku. []

(Visited 19 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.