Ramadan selalu menjadi momen yang istimewa. Meskipun masih dalam masa pendemi COVID-19, kehidupan terasa lebih dinamis dibandingkan bulan-bulan lainnya. Giat ibadah bertambah, target-target kerja dipenuhi, dan perputaran uang meningkat. Pasar dan pedagang menggelar kios dan lapaknya. “Alhamdulillah, masih ada rezekinya,” ucap sebagian orang.
Sahabat, tidak ada satu makhluk pun yang sanggup menghalangi berjalannya rezeki bila Allah Swt menghendaki itu terjadi. Begitu pula sebaliknya, tidak ada satu makhluk pun yang sanggup memberikan rezeki pada seseorang bila Allah Swt menghendaki hal itu tidak terjadi padanya.
Secara bahasa, rezeki (rizki), berasal dari kata rozaqo – yarzuku – rizqon, yang bermakna “memberi atau pemberian”. Sehingga makna dari rezeki adalah segala sesuatu yang dikaruniakan Allah Swt kepada hamba-hamba-Nya.
Di dalam Lisan al ‘Arab, Ibnu al Manzhur rahimahullah menjelaskan, ar rizqu, adalah sebuah kata yang sudah dimengerti maknanya, dan terdiri dari dua macam. Pertama, yang bersifat zhahirah (nampak terlihat), semisal bahan makanan pokok. Kedua, yang bersifat bathiniah bagi hati dan jiwa, berbentuk pengetahuan dan ilmu-ilmu.
Mengacu pada penjelasan Ibnu al Manzhur tersebut, maka hakikat rezeki tidak hanya berwujud harta atau materi belaka seperti asumsi kebanyakan orang. Tetapi, yang dimaksud rezeki adalah yang bersifat lebih umum dari itu.
Allah Swt senantiasa memberi rezeki kepada setiap makhluk-Nya, di antaranya berupa hidayah, ketenangan hati, kelapangan dada, kesehatan, keadaan menyenangkan, waktu luang, jiwa yang kaya karena senantiasa merasa cukup, anak-anak yang shalih, kehidupan yang layak, menantu dan mertua yang bijak, jodoh idaman, dan lain-lain
Berkenaan dengan rezeki, jodoh, amal serta kebahagiaan, manusia hanya diberi kesempatan untuk menentukan pilihan dan berikhtiar mengusahakannya agar terpenuhinya segala pilihannya. Sedangkan hasil, kembalinya tetap kepada takdir Allah Swt.
Pada dasarnya, ada beberapa prinsip tentang rezeki. Pertama, semua makhluk – yang berakal maupun yang tidak berakal – rezekinya telah dijamin oleh Allah Swt. Karena Allah Swt adalah yang memberikan rezeki, maka kedudukan kepala keluarga yang mencari nafkah bukanlah pemberi rezeki, melainkan perantara datang rezeki kepada keluarganya.
Kedua, setiap jiwa tidak akan mati sampai dia menghabiskan semua jatah rezekinya. Sehingga siapa pun yang hidup pasti diberi jatah rezeki oleh Allah Swt sampai dia mati.
Ketiga, hakikat dari rezeki adalah apa yang dikonsumsi dan yang dimanfaatkan. Sementara yang dikumpulkan oleh manusia belum tentu menjadi jatah rezekinya. Jadi, sekaya apapun manusia, atau sebanyak apapun penghasilannya, sesungguhnya dia tidak akan mampu melampaui jatah rezekinya. Karena orang yang mempunyai satu ton beras, sungguh dia hanya akan makan sepiring atau dua piring saja. Orang yang memiliki 100 mobil, dia hanya akan memanfaatkan satu mobil saja. Begitu pun orang yang memiliki 100 rumah, dia hanya akan menempati saru ruangan saja. Padahal semua harta yang dikumpulkan, sudah pasti akan dihisab oleh Allah Swt.
Al-Qur’an dan sunnah telah mendorong manusia agar mencari rezeki yang halal lagi thayyib. Rasulullah saw bersabda, “Wahai manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, pakailah cara baik dalam mencari (rezeki). Sesungguhnya seseorang tidak akan meninggal sampai ia sudah meraih seluruh (bagian) rezekinya, meskipun tertunda darinya. Bertakwalah kepada Allah dan lakukan cara yang baik dalam mencari (rezeki).” (HR Ibu Majah)
Sejatinya, hal yang harus ada pada hati setiap muslim adalah sikap husnudzon (prasangka baik) kepada Allah Swt. Apa yang Dia pilihkan untuk makhluknya adalah yang terbaik bagi makhluk tersebut. Allah Swt tidak mungkin salah dalam memberikan suatu ketetapan. Allah Swt mendatangkan pandemi COVID-19, namun yakinlah bahwa Allah Swt tetap memberikan rezekinya bagi kita. Maka carilah rezeki dengan cara-cara yang (tetap) halal dan thayyib. [dari berbagai sumber]


Amazing