menulissumber gambar bp-guide.id

Di era digital sekarang ini, begitu banyak platform penulisan tersedia gratis dan user friendly (mudah digunakan). Siapapun dan apapun profesi kita, memiliki kemampuan menulis akan sangat bermanfaat. Menulis disini bisa saja menulis buku harian secara manual menggunakan pena dan buku tulis, yang mungkin sudah jarang dilakukan, atau menulis catatan harian atau diari di laptop, PC (personal computer), tablet atau handphone. Atau menulis puisi puisi curahan hati…..semua bisa dilakukan dengan mudah.

Media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter dan lain lain juga dapat dijadikan sarana menulis. Sementara Blog memang dimaksudkan untuk menulis apa saja yang kita inginkan, baik berupa cerita pendek, humor, kisah nyata, feature, catatan perjalanan, resep resep masakan, artikel dengan topik yang berhubungan dengan profesi kita, puisi, diari dan lain lain.

Banyak manfaat dalam menulis. Selain untuk berbagi ilmu pengetahuan, berbagi cerita, juga bisa menjadi profesi dan mendapatkan penghasilan dari menulis. Salah satu manfaat menulis adalah sebagai terapi. Ya, menulis bisa meringankan beban pikiran, dapat menghilangkan stress dan berbagai tekanan hidup. Menulis adalah cara aman dalam menghilangkan segala problematika kehidupan yang kita hadapi. Daripada menjadi beban pikiran, lebih ditulis. Menggunakan media kertas dan pulpen, bisa. Menggunakan media digital juga bagus.  

Seorang Penulis Amerika bernama Maya Angelou pernah berkata, “There is no greater agony than bearing an untold story inside you.” -tiada penderitaan yang lebih besar dari pada memendam suatu kisah didalam dirimu-. Memendam kisah disini dimaksudkan adalah menyimpan dalam dalam pikiran dan tidak menuliskannya. Sebenarnya mengungkapkan segala pemikiran kita, bisa juga dilakukan dengan berdiskusi dengan seseorang. Namun berdiskusi tidak akan mengabadikan pemikiran pemikiran kita. Setelah kita diskusi, hasil permikiran itu pun lenyap bagaikan debu tertiup angin. Ada peribahasa Latin menyebutkan Verba volant, scripta manent yang  secara harfiah berarti “Kata-kata lisan terbang, sementara tulisan menetap”. Ya, menulis membuat buah pikiran kita menetap dan abadi.

Salah seorang teman penulis sering menggunakan istilah katarsis, yaitu bahwa menulis adalah salah satu cara untuk katarsis diri, penyucian diri dari segala beban batin yang mengimpit, dari berbagai pemikiran, dan apapun yang kita pikirkan. Makanya, menulislah agar perasaanmu lega, jiwamu tidak sesak.

Lalu apa saja yang mesti ditulis? Yang paling utama adalah apa yang kita kuasai. Tidak perlu banyak teori penulisan, dan jangan terlalu ingin kesempurnaan tulisan. Kata Ruslan Ismail Mage, yang biasa kami panggil Bang RIM salah seorang inspirator dan motivator serta penulis buku dari komunitas Bengkel Narasi, “Jangan terlalu memikirkan apa yang ditulis, tapi tuliskanlah apa yang anda pikirkan.” Maksudnya bahwa, ketika kita akan menulis, maka lupakan sejenak teori teori penulisan. Sebagaimana kita ketahui bersama, begitu banyak bahan referensi penulisan tersedia, baik buku cetaknya, maupun buku digitalnya. Terlebih lagi informasinya di Web. Tetapi apa yang kita pikirkan, itu yang dituliskan. Apa yang muncul di pikiran kita, itu yang ditulis, seakan akan kita berbicara dengan pembaca melalui jari jemari tangan kita.

Bagaimana kalau banyak salah ketik, dan terjadi kesalahan informasi. Disinilah peran seorang penyunting atau editor. Atau bisa juga kita perbaiki setelah tulisan kita selesai. Kita bisa perbaiki  typo-nya (kesalahan ketik), susunan paragrafnya, layout-nya dan lain lain. Jika kita menulis dalam format buku yang akan terbit tentu tulisan kita perlu diperbaiki lagi.

Mari kita menulis, menulis apa saja. Menulis akan melegakan jiwa dan membersihkan pikiran pikiran kita. Pemikiran dan jiwa yang bersih tentu akan membuat fisik atau badan kita menjadi sehat.  

(catatan inspiratif dari Webinar Menulis Sebagai Terapi oleh Keluarga Besar Bengkel Narasi via Zoom Meeting, Sabtu 11 September 2021)       

(Visited 66 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Suharman Musa

Suharman Musa, seorang Pustakawan pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.