Oleh : Je Osland
Gelegar candu menyair ialah,
Setiap pengelanaan laksana risalah,
Kidung lena pun panjang kalanya,
Mantik berpacu terpantik daya
Sierra Leone misalkan,
Sedekade sudah dihantam kelaparan
Ebola melumat angan-angan,
Namun kepakan hayal selalu mengawan
Sebut pula nganga pandemi,
Berurat berakar menyapu negeri,
Retorika jelata adalah rekayasa,
Berpeluh asa lawan sengsara
Di ketinggian berkilo depa ini,
Serebrum ku memikir nagari,
Mencuat ego mencabik imaji,
Andai endong dan deta berselaras peradaban,
Rebab jo sampelong meraja jaman,
Sungguhlah Minang julang menawan
Laksana PUAN SIRAMA-RAMA,
Bulu berminyak sayap berbunga,
Jinak bak rasa terkampungi,
Rupanya liar Allahurabbi,
Selingkar mati geli genggaman,
Serupa bibir ditepi cawan
Ahhhh…
Getar unggas besi menyirap darah,
Syair ku buyar tak tentu arah,
Umpama sijundai lahap menjamah
Ya sudahlah,
Halimun jayakarta tak menyembul sumringah,
Bumantara batavia juga tak sirah merekah,
Aku sudahi dengan langgam keroncong merdu gairah
Awang-awang Sunda Kelapa, 08/03/2021
“Adalah syair akan kerinduan terhadap kaya raya budaya Minangkabau yang mulai termarjinalkan”

Tulisan Pak Je memberi warna tersendiri di web. BN. Munculkan semua karyanya Pak. Semangat literasi.
Insya Allah buk.
Terimakasih semngatnya🙏