Oleh: Sumardi

Pemilihan Kepala Daerah 2020 sudah berlalu. Namun kisah sedih ini masih terasa perih hingga saat ini. Penyesalan kemudian menjadi tak berguna lagi dan penyesalan selalu datang di akhir sesi. Langit terasa runtuh, bumi dipijak terasa bergoyang, mata nanar dan tubuhpun lunglai tak berdaya. Dahulu gagah dengan seragam warna khaki, lambang Korpri di dada, dan lambang jabatan jengkol di saku membuat langkah tegap menatap mantab. Jabatan dengan penguasaan wilayah dan rakyat yang siap memberi hormat namun saat ini semuanya lenyap tak berbekas karena ditelan jejak digital.       

Gambaran di atas deskripsi singkat dibebaskannya beberapa ASN dari jabatannya karena tidak lagi netral selaku Aparatur Sipil Negara di sebuah Pemerintah Daerah. Mereka membuat deklarasi dukungan kepada pejabat politik bersama dengan atasannya di sebuah hotel dan kemudian menjadi viral di seantero jagat maya nusantara. “Mereka berani sekali ya, sebagai ASN membuat pernyataan politik sedemikian rupa”, gumam  sahabatku sesama ASN.  Hebatnya lagi pernyataan politik itu dilakukan dengan masih memakai seragam kedinasan selaku ASN. Temanku yang satu lagi menimpali, “tindakan bodoh yang dilakukannya”. Video berdurasi lebih dari satu menit itu juga menampilkan yel, yel dukungan kepada tokoh politik tertentu.  

Aparat pengawaspun tidak tinggal dalam mensikapi video yang sempat viral di jagat maya tersebut. Tindakan yang dilakukan oleh para ASN tersebut sudah keterlaluan karena menyimpang dari nilai dasar, kode etik dan kode perilaku sebagai ASN. Satu demi satu mereka diinvestigasi oleh aparat pengawas yang berwenang untuk memastikan kebenaran video tersebut. Alih-alih mereka mengakui perbuatannya, malah mereka membuat alibi yang sangat kompak di hadapan para pengawas. Mulai dari ketidaksengajaan, redaksi ucapannya bukan ucapan sebagaimana di dalam rekaman video, sampai mendesain seorang  tokoh yang diberi nama Ucok yang kemudian si Ucok itu menghilang bagaikan ditelan bumi sehingga tidak dapat dikonfirmasi oleh Pengawas. Seorang tokoh fiktif yang mencoba dikarang oleh ASN karena mereka sudah ketakutan mendapatkan hukuman disiplin. Alhasil mereka tetap bersikukuh menyatakan bahwa yang berada di dalam video itu benar mereka, namun isi suaranya tidak diakuinya atau ditolak. Sebagai Pengawas Senior nampaknya tidak percaya alasan ini. Setengah berbisik naluripun muncul bahwa para ASN tersebut melakukan kebohongan massal.   

Untuk kesekian kalinya sang pengawas harus bersabar sambil mengelus dada. Sambil berjalan gontai si Pengawas memeras otak untuk dapat membuktikan kebenaran video tersebut. Akhirnya ketemu jalan yang jitu yaitu menguji kebenaran video tersebut melalui ahli di bidang teknologi informasi di sebuah Kementerian. Gayung bersambut dalam waktu singkat setelah dilakukan pengujian secara mendalam  terbitlah surat penilaian ahli yang menyatakan bahwa video tersebut asli. Tidak hanya itu saja aspek keaslian suara, aspek perekaman dan pernik-pernik lainnya ditampilkan secara rinci dalam laporan tersebut. Berbekal pendapat ahli melalui surat resmi tersebut akhirnya terbitlah rekomendasi kepada Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK). PPK diwajibkan untuk mengenakan hukuman disiplin kepada para ASN tersebut dengan hukuman berat berupa pembebasan dari jabatannya masing-masing.    

Berdasarkan kisah nyata di atas dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa para ASN hendaknya tidak bermain-main dalam politik praktis. Biarlah para politisi menggunakan baju politisi. ASN-pun hendaknya cukup sadar untuk menggunakan baju ASN saja. Jangan mencoba mencampuradukkan sesuatu hal yang bukan pada tempatnya. Biarkan kaki dan badan ASN di ranah birokrasi saja. Jangan sekali-kali kalian berbaju birokrasi namun celanamu di ranah politisi. Hati-hati juga bermain dengan jejak digital karena bisa jadi karirmu akan segera terpental.  

Grand Wahid, Salatiga 3 Juni 2021

Penulis : Pegawai BPKP dalam Penugasan sebagai Asisten Komisioner KASN RI

(Visited 16 times, 1 visits today)

By Sumardi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *