Oleh: Sayid Anshar*

Dari tanah kembali ke tanah adalah ungkapan yang sering kita dengar, dan sudah menjadi kodrat manusia dalam kosmologi atau hukum alam. Namun, pada dasarnya dapat juga menjadi landasan berpikir yang melatarbelakangi terbentuknya konstruksi pemikiran dalam kehidupan sehari-hari.

Tanah merupakan tempat berpijak dalam mengarungi samudra kehidupan yang penuh dengan harapan, tantangan dan tanggung jawab, serta ketegasan, dan kelembutan yang dimiliki oleh tanah sekaligus tempat lahirnya ide, gagasan, serta cita-cita sang pemikir.

Sedangkan berpikir menurut Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya psikologi komunikasi adalah berpikir melibatkan semua proses baik sensasi, persepsi, dan memori.

Seperti penjelasan di atas, bahwa berpikir seperti tanah merupakan awal lahirnya ide, gagasan rasional dalam arti bahwa tanah merupakan kekuatan sangat dahsyat yang memiliki konsistensi, sehingga bisa menopang segala apa yang ada di atasnya tanpa melihat apakah itu besar maupun kecil. Namun, tetap tegar, tegas, ikhlas, dan lembut dalam menghidupkan kehidupan.

Tidak memandang apa pun yang dihadapinya, tanah tetap terbuka dan bersahabat. Begitu pun dalam proses berpikir di awali oleh landasan berpikir yang kuat guna menahan serangan dari berbagai kritikan-kritikan dan menerimanya dengan keikhlasan dan kelembutan. Namun, tetap tegar dan tegas dalam memberikan solusi yang terbaik .

Segala sesuatu yang dihadapi dari berbagai serangan pemikiran, pandangan dunia, ideologi dan relativisme moral senantiasa kita menyikapinya dengan pemikiran rasional, sistematis, kritis dan logis. Tetap tegar dan tegas dalam menerima pendapat dengan membalas argumentasi yang didasari oleh nalar dan bahasa sehingga setiap ucapan kita dapat memberikan pencerahan yang bijak.

*Penggiat literasi dan pencinta filsafat

(Visited 117 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.