Pagi itu, aku bangun seperti biasa dan mengerjakan rutinitas sebagai ibu rumah tangga yang baiknya bertanggung jawab dengan sesuatu yang berurusan dengan pengisian perut agar segala aktifitas seharian diawali dengan semangat pagi dengan kondisi yang prima.  Sebelum beranjak menuju tempat tugas yang merupakan  tangggung jawab sosial mengemban amanah  sebagai ASN, tepatnya sebagai guru, tentu kebutuhan-kebutuhan rumah tangga dan kebeersihan rumah  menjadi prioritas agar kenyamanan semua anggota keluarga dapat tercipta. Walau kebutuhan keluarga  dan kebersihan rumah  terkadang sesekali terabaikan ketika kesibukan lainnya tidak bisa dielakkan. Dengan sigap kumbil kunci kendaraan dan melaju lebih kencang dari biasanya agar keterlambatanku pagi itu tidak terlalu parah. Ketika sudah hampir melewati pintu gerbang sekolah, laju kendaraanku kukurangi  terlebih ketika melihat beberapa murid-murid ada yang bermain-main di lapangan halama sekoalah. Secepatnya aku memarkir kendaraan dan berjalan lebih cepat menuju ruang kelas . kelas yang aku tuju agak sunyi karena sebahagian murid di kelas tersebut meninggalkan kelas, termasuk Arif sang ketua kelas. Ada yang masih belanja di kantin, si Rini dan Titis, ada pula yang hanya mengobrol di bawah pohon mangga  di depan kelasnya,Si Angga, Bayu,  Ikhwan daan empat orang lainnya yang tidak sempat saya lihat wajahny. Namaun ketika melihatku, mereka lngsung masuk kelas dengan tertib. Aaahhh, anak-anak jaman sekarang, masa berkeliaran, harusnya tetap belajar walau gurunya tidak hadir apalagi kalau hanya tearlambat.

                “Assalmu Alaikum warahmatullahi abarakatuh” itu yangselalu kuucapkan setiap kali masuk kelas manapun dan jam berapapun termasuk ketika terlambat. Walau masih tersisa rasa dongkolku waktu masih di rumah tadi karea sesutu hal , tapi ketika masuk kelas, wajah dongkolitu tidak boleh terlihat. “anak-anak, hari ini kita akan belajar sastra Indonesia dengan materi Pantun,tentu kalian semua pasti  sudah tahu tentang pantun dan telah mampu membuat pantun,”  tapi semua hanya terdiam.

                Ketika suasana kelas terlihat sunyi, entah karena tidak tahu membuat pantun ataukah karena materi pelajarannya yang mereka tidak suka, ataukah karena mereka marah dengan keterlambatanku, semua kemungkinan bisa saja terjadi. Sejenak aku berfikir,  lalu menyuruh mereka kepalkan tangannya untuk beryel-yel sebagai pembuka belajar agar suasana hati mereka lapang dan gembira agar memudahkan pelajaran yang diterimanya gampang dimengerti. Setelah beryel-yel, terlihatlah wajah ceria mereka apalagi ketika aku  memulai memberikan satu contoh pantun dengan menulis di white board dengan spidol. “Teluk Bone tempat berlayar, di bibir pantai perahu kutambat, anak muda harus rajin belajar, agar kelak dapat bermanfaat,”empat kalimat ini aku susun menjadi empat baris, sesuai syarat pantun dengan pola ab ab. Ketika satu bait pantun ini aku bacakan, suasana terlihat riuh dan masing-masing mengambil pulpen untuk menulis pantun walau masih ada yang terlihat baru berpikir. Tiba-tiba ada yang nyelutuk dengan berpantun, “bambu kuning bambu biasa, gigimu kuning luar biasa,” walau pantun ini tidak sempurna, spontan kelas menjadi ramai, ribut  tertawa  karena yang berpantun kebetulan giginya kuning. Akhirnya suasana kelas kembali  menjadi lebih hidup dibandingkan awal pembelajran berlangsung, ternyata murid-murid baiknya dibawa ke suasana yang menyenangkan barulah pelajaran kita mulai, hal ini tergantung suasana hati sang guru dan kreatifitasnya ketika mengajar di kelas, termasuk jangan biarkan murid menunggu kita terlalu lama untuk memulai pelajaran.

(Visited 31 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.