Kalau mayoritas rakyat membisu, mahasiswa memilih jalan sunyi, aktivis hanya mampu mengerutu, orang terdidik menjadi bagian propaganda politik, dan pihak kampus tidak turun gunung. Lalu kepada siapa nasib daerah dan bangsa ini bergantung ???.
Ruslan Ismail Mage
Sarapan pagi bersama buku baru Ruslan Ismail Mage. Setiap saya punya buku baru, sebelum membuka dan membacanya, selalu saya analogikan buku itu ibarat sebuah rumah, tentu yang pertama jadi fokus adalah bentuk dan coraknya, kalau menarik saya mendekat, olehnya itu bagiku cover itu perlu, desain menentukan sebagai awal daya magicnya, buku yang baru tiba dari pembuatnya lansung lewat jasa titipan jne, cover dengan warna hitam yang bermakna sangat dalam dan penuh misteri, dalam psikologi warna, hitam juga biasa identik kedukaan, mungkin yang di maksud dalam warna hitam dalam buku ini, adalah bencana dari radikalisme adalah kedukaan atas matinya sisi kemanusiaan, di Mesir kuno simbol hitam di maknai sebagai simbol kehidupan, di budaya Barat Melambangkan kematian dan kesedihan juga menunjukkan “warna dalam psikologi” simbol kekuasaan, ketangguhan, perlindungan, pengusiran, sesuatu yang negatif, mengikat, kekuatan, formalitas, misteri, kekayaan, ketakutan, kejahatan, ketidak bahagiaan, perasaan yang dalam, kesedihan, kemarahan, sesuatu yang melanggar , harga diri, anti kemapanan, seksualitas, kecanggihan, kematian. Sangat tepat untuk menambahkan kesan misteri dari isi buku ini ???
Latar belakang “warna dalam psikologi hitam dalam simbolisme psikologi” dapat menampilkan perspektif dan kedalaman. Sangat bagus untuk menampilkan karya seni atau fotografi karena membantu penekanan pada “warna dalam psikologi” – “warna dalam psikologi” lainnya.
warna tulisan judul buku ini warna putih, tentu desainer nya ingin memaknai sebuah simbol bersih dan kesucian makna hitam putih
warna hitam putih dapat dimaknai dan dijadikan referensi dalam menjalani kehidupan karena maknanya. Warna hitam putih ini biasanya juga menjadi pembuka bagi warna-warna lainnya dalam sebuah kata-kata. Kupasan saya di buku ini, terlalu jauh berimajinasi, saya ingin tuntas di cover buku ini penuh makna dan arts, sebagai dosen Desain Media tentu sangat paham tujuan setiap titik koma dalam desain memiliki ikatan makna yang sangat dalam,
Saya kunci penjelasan cover buku ini dengan pernyataan Soekarno tentang hitam putih, “Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya.”
Dengan penuh misteri dan rasa ingin tahu tentang buku ini, saya melangkah masuk, pintu utama pembuka keinginantahuan di sambut dengan kata pengantar dari guru besar , professor riset dari LIPI dengan kepakaran tentang demokrasi, pemilu, parpol, parlemen, eksekutif, legislatif. Tentu secara psikologi ada rasa kagum dan segan disambut di ruang tamu dengan pengantar beliau, biasanya saya resensi buku, secara detail namun kali ini saya putuskan, sekitaran ruang tamu saja, sesungguh tuan rumah arsitek buku ini secara psikologi sudah sangat akrab,
Ruslan Ismail Mage atau biasa kami sapa pak RIM, dari pandangan saya di ruang tamu buku ini, dapat saya rasakan dengan disuguhi kegelisahan di negeri ini, bang RIM, yang biasa nya memberi motivasi dengan menggebu gebu, saya coba memahami kalimat ini Kalau mayoritas rakyat membisu, mahasiswa memilih jalan sunyi, aktivis hanya mampu mengerutu, orang terdidik menjadi bagian propaganda politik, dan pihak kampus tidak turun gunung. Lalu kepada siapa nasib daerah dan bangsa ini bergantung ???.
Cepat cepat rasanya ingin masuk di dalam rumah, ingin melahap halaman demi halaman, point pertama di pembahasan RADIKALISME, Tertuju di kalimat Kerusakan sistem Pemicu utama lahirnya Radikalisme. menurut panulis bang RIM, Kerusakan sistem hukum yang tidak mampu mendustribusikan rasa KEADILAN yang merata kepada seluruh warga bangsa, kerusakan sistem ekonomi yang tidak mampu mengalokasikan kekayaan alam yang merata kepada warga bangsa, kerusakan sistem rekruitmen kepemimpinan yang hanya memberi kesempatan kepada pemilik modal menjadi pemimpin yang korup, adalah pemicu utama lahirnya pemikiran dan perilaku radikalisme.
Kemudian dikupas dengan grand teori yang semakin menguatkan pendapat tersebut. Selanjutnya dihalaman halaman selanjutnya sangat tersusun dan berstruktur dari kamar ke kamar mengupas kamar I, RADIKALISME, saya belum masuk dalam kamar ini tapi mulai dari assesories ruang kamar ini tuntas pemiliknya membahas dari definisi sampai penyebab radikalisme tuntas untuk di pahami dengan dinginnya AC, Agama dan idiologi sebagai peredam panasnya membahas Radix, Kamar II, Demokrasi, saya lewati ini, sengaja karena kamar ini saya akan tidur disini, Kamar III, Kemiskinan, ini ruang paling banyak disorot kumuh, tinggal di belakang tata letaknya saja bisa di tebak kamar dan isinya penyebab utama radikalisme, buku ini sengaja saya tidak kupas tuntas saya ingin sisakan ruang diskusi bagi pemiliknya untuk berdiskusi, mulai bahan, dan semua tentang buku ini.
Buku ini kalau kuibaratkan seperti rumah maka sebagus apapun rumahnya maka yang jadi mercusuar adalah pemiliknya. yang tahun ini sudah mencipta buku / rumah sudah 12 unit di kondisi pandemi seorang Arsitek kata kata, owner & founder Sipil Institute (konsultan investasi politik Indonesia) juga Motivator andalan kami di Rumah Besar BN, Ruslan Ismail Mage (RIM).
Buku ini dengan halaman 334, sebagai hadiah dan Kado, harus jadi referensi sunting bagi penulis dan peneliti, recomended secara ilmiah.
Salam literasi
Makassar, 8 Juni 2021
Dr. Sudirman, S. Pd. M. Si.
#akademisi
#penulis
#penggiat medsos.
#terorisliterasi
#penghuniBN

Suka ulasan Bapak tentang bukunya RIM. Kalian berdua hebat….