Oleh:Lolita Eka Putri

Debu kapur dan aroma spidol papan tulis seolah telah menyatu dengan pori-pori kulit Laras. Namun, bukan itu yang membuatnya sesak.

Sore itu, Laras melangkah keluar dari gerbang sekolah dengan pundak yang terasa memikul beban berton-ton.

Bukan karena tumpukan tugas siswa, melainkan karena lelah batin yang tak berdarah.

Di ruang guru tadi, ia kembali menyaksikan sandiwara yang memuakkan.

Seorang rekan sejawat—yang dengan bangga menyandang gelar ganda di belakang namanya—baru saja membentak seorang siswa yatim hanya karena lupa membawa buku cetak. Kalimatnya tajam, merendahkan, dan jauh dari kata beradab.

“Punya dua ijazah S1, tapi tidak punya satu pun lembar etika,” batin Laras perih.
Ironis memang.

Mereka adalah barisan depan yang digadang-gadang membentuk karakter bangsa.

Namun, di balik seragam rapi itu, Laras justru sering melihat ego yang melangit dan hati yang membatu.

Bagaimana mungkin mencetak anak didik yang berkarakter, jika sang pendidik sendiri kehilangan nurani?

Rasa muak itu telah mencapai puncaknya. Laras merasa asing di tempatnya sendiri.

Dua jam perjalanan di atas bus antarkota terasa seperti proses pembersihan diri.

Laras memejamkan mata, membiarkan deru mesin menghapus sisa-sisa perdebatan kusut di kantor tadi.

Ia merindukan satu tempat di mana ia tidak perlu menjadi “Ibu Guru” yang harus selalu sempurna dan kuat.

Ia ingin pulang. Bukan sekadar pulang ke sebuah bangunan, tapi pulang ke pangkuan.

Begitu kakinya menginjak ubin teras rumah yang sejuk, aroma tumis kangkung dan sambal terasi buatan Ibu menyambutnya.

Di sudut ruang tamu, Aba sedang duduk tenang dengan kacamata kudanya, membaca koran tua.

“Laras pulang, Bu… Ba…” suaranya sedikit parau.

Ibu muncul dari balik tirai dapur. Tanpa banyak tanya, ia langsung memeluk Laras.

Tak ada pertanyaan soal gaji, soal sertifikasi, atau soal kerasnya dunia pendidikan. Ibu hanya mengelus punggungnya pelan.

“Mandi dulu, Nak. Air hangatnya sudah Ibu siapkan. Setelah itu makan,” ucap Ibu lembut.

Di meja makan, suasananya begitu kontras dengan keriuhan sekolah yang penuh kepura-puraan.

Aba hanya bicara sedikit, namun setiap kalimatnya adalah penyejuk.

“Menjadi guru itu bukan soal berapa banyak gelar yang kau kumpulkan, Ras.

Tapi soal seberapa banyak cinta yang kau titipkan di hati muridmu.

Jika duniamu sedang bising dengan orang-orang yang kehilangan arah, kembali saja ke sini. Biar doamu dan doa kami yang menuntunmu lagi.”

Menjadi Anak Kembali
Malam itu, Laras berbaring di kamar masa kecilnya.

Seprei katun yang wangi matahari dan suara jangkrik di luar jendela membawa ketenangan yang tiada tara.

Di sini, ia bukan pejuang karakter bangsa yang sedang patah semangat. Di sini, ia hanyalah Laras, anak kesayangan Ibu dan Aba.

Rasa muak yang tadi siang menyesakkan dada, perlahan luruh.

Ia menyadari bahwa untuk terus memberi kepada dunia, ia harus sesekali “mengisi ulang” jiwanya di sumber mata air yang paling murni: Rumah.

Esok ia akan kembali berjuang, kembali menghadapi rekan-rekan yang nir-etika itu dengan kepala tegak.

Sebab kini ia tahu, sejauh mana pun ia lelah, pelukan Ibu dan petuah Aba adalah tempatnya pulang untuk kembali menjadi manusia.
[10.55, 21/5/2026] Lolita Eka Putri: Sate Danguang – danguang🤤

Aroma harum dari pembakaran arang tempurung kelapa menyusup ke sela-sela udara dingin di sebuah gang kecil di pusat kota Paris.

Di depan sebuah restoran mini dengan plang nama bergaya klasik, tampak antrean panjang mengular.

Mereka bukan mengantre untuk croissant atau baguette, melainkan untuk sepiring kuliner pusaka dari pedalaman Sumatra Barat: Sate Danguang-Danguang.

Di balik panggangan, tangan terampil Uni Elia dengan cekatan membolak-balik tusukan daging sapi yang sudah dibaluri bumbu kuning keemasan.

Setiap kali bumbu itu menetes ke bara api, asap tebal yang wangi membubung, membuat orang-orang di antrean menelan ludah.

Bagi Uni Elia, aroma ini bukan sekadar jualan. Aroma ini adalah mesin waktu yang langsung membawan…

(Visited 8 times, 8 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.