Oleh: Sumardi

Banyuwangi adalah Kabupaten di ujung timur Pulau Jawa yang dipisahkan oleh sebuah selat dengan Pulau Bali. Jumat 11 Juni 2021 merupakan keadatanganku untuk yang pertama di kota Banyuwangi. Selama ini aku mengetahui “Kondang Kaloko-nya (keterkenalan)” Banyuwangi dari pemberitaan televisi, media sosial dan media on line. Tidak salah capaian kemajuan yang diperoleh Banyuwangi memang sanggup mengundang decak kagum banyak orang tidak terkecuali aku.  Infrastruktur jalan bagus, kota yang bersih dan rapi, kantor-kantor pemerintahannya terteta rapi dan fasilitas publik juga tersedia lengkap. Tidak ketinggalan akomoadasi berupa fasilitas hotel berbintang empat dan tigapun lengkap tersedia di ibukota Kabupaten ini. Sebutlah nama-nama sarana akomodasi yang tidak asing di telinga seperti Aston,  Luminor,  Grand Harvest Resort, El Hotel Royale tersedia di Kota Banyuwangi. Demikian juga hotel yang menggunakan brand lokalpun juga dengan mudah ditemukan di kota ini seperti nama So Long, Ketapang, Gandrung City dan Dialoog Hotel.

Penulis mendapatkan kesempatan berharga untuk bekerja dan belajar dari Banyuwang. “Wah luar biasa”, gumamku ketika menginjakkan kakiku untuk pertama kali di Kota Banyuwangi, sebuah kota yang dahulu terkenal dengan “santhet”. Kabupaten ini mendapatkan sentuhan inovatif dari seorang Abdullah Azwar Anas Bupati Banyuwangi dua periode yang kemudian diteruskan oleh istrinya Ipuk Festiandani berpasangan dengan Sugirah melalui perhelatan Pilkada di Tahun 2020. Dari pandangan kasat mata memang dapat dilihat kemajuan yang dicapai oleh Kabupaten di ujung timur Palau Jawa ini. Di bawah kepemimpinan Anas Banyuwangi berhasil meningkatkan pendapatan per kapita lebih dari dua kali lipat, yaitu dari 20,9 juta rupiah menjadi 45,8 juta Rupiah. Kunjungan wisatawan naik sepuluh kali lipat dari 12,5 ribu wisatawan menjadi 127 ribu wisatawan. Sementara tingkat kemiskinan dapat diturunkan satu digit dari 11,2% menjadi 7,8%. Sebuah capaian yang luar biasa. Oleh karena itu tidaklah mengherankan ketika Kabupaten Banyuwangi menyabet penghargaan sebagai “Kabupaten Terinovatif” pada Tahun 2018 dan 2019 di ajang penghargaan Innovative Government Award (IGA). Kunci keberhasilan semua itu adalah terletak pada inovasi yang dilakukan oleh Bupati Banyuwangi.

Dalam melakukan inovasi paling tidak terdapat lima prinsip inovasi yang dianut di Kabupaten Banyuwangi. Lima prinsip inovasi adalah pertama bahwa inovasi itu mencari jalan terpendek. Kedua inovasi itu fun. Ketiga, inovasi itu sedapat mungkin menyelesaikan beragam masalah sekaligus. Keempat, inovasi itu dilakukan secara terus-menerus. Terakhir, inovasi itu tugas semua orang buka hanya tugas pimpinan. Selain prinsip inovasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mempunyai lima strategi inovasi yaitu pertama, menggunakan logika terbalik. Kedua, memandang dan memperlakukan bahwa kelemahan adalah kekuatan. Ketiga, berani beda bukan mengikuti arus. Keempat, memodifikasi lebih ampuh dari mencipta. Kelima, aktif untuk melakukan “jemput bola bukan tunggu warung”.       

Inovasi yang dilakukan oleh Bupati Banyuwangi dipilah ke dalam empat bagian besar yaitu Bidang Pemerintahan dan Pelayanan Publik, Bidang Pariwisata dan Kreatif, Bidang Kesehatan dan Pengentasan Kemiskinan, serta Bidang Pendidikan. Inovasi pada Bidang Pemerintahan dan Pelayanan Publik meliputi inovasi berupa Smart Kampung; Mall Pelayanan Publik; Pasar Pelayanan Publik; E-Village Budgeting & Monitoring System. Selain itu  program 112 Call Center; Ruang  Terbuka Hijau; Sedekah Oksigen;  dan Satgas Jalan Berlubang. Inovasi lainnya adalah BUMN Dekat Dengan Rakyat; Bila Perlu; Inovasi Perencanaan Pembangunan; Sinergitas Tiga Pilar; dan Kerukunan Antar Umat Beragama. Juga inovasi Bunga Desa atau Bupati Ngantor di Desa; dan Cashless Bureaucracy.

Inovasi di Bidang Pariwisata dan Kreatif meliputi: Penyelenggaraan Gandrung Sewu; International Tour De Ijen Banyuwangi; serta Banyuwangi Ethno Carnival. Kemudian inovasi program Pembatasan Pasar Modern dan Hotel Berbintang 3 ke Bawah; serta Festival sebagai Alat Pemersatu. Program inovasi yang lain adalah penyelenggaraan Banyuwangi Culture Everyday; implementasi Arsitektur dengan Kearifan Lokal; Penataan Pasat Tradisional dan Street Food dan Pasar Wisata Tematik. Tidak ketinggalan inovasi lainnya berupa Warung Pintar; Rumah Kreatif; Festival Musik; dan Agro Expo serta Geo Park.

Pada Bidang Kesehatan dan Pengentasan Kemiskinan melakukan inovasi berupa Lahir Procot Pulang Bawa Akta; Mal Orang Sehat; dan Antar Obat Warga Miskin. Inovasi lain adalah Rantang Kasih; Laskar Ibu Hamil Resiko Tinggi (Bumil Risti); dan Festival Toilet dan Kali Bersih. Tidak ketinggalan inovasi berupa Garda Ampuh; Jemput Bola Rawat Warga; dan Satu Mahasiswa Satu Ibu Hamil serta Festival Bedah Rumah. Adapun di Bidang Pendidikan juga tidak ketinggalan melakukan inovasi berupa Siswa Asuh Sebaya; Banyuwangi Cerdas; dan Banyuwangi Mengajar. Inovasi lain berupa Sekolah Inklusif dan Difabel; Gempita Perpus; dan Kejar Paket Online dan Angkutan Pelajar Gratis.

Inovasi tiada henti yang dilakukan oleh Bupati Banyuwangi memang terbukti mengubah Banyuwangi miskin menjadi lebih maju seperti saat ini. Tidaklah mengherankan jika Banyuwangi akhirnya menjadi contoh atau role model bagi Kabupaten dan Kota lainnya di Indonesia. Beberapa Kabupaten/Kota berdatangan untuk menimba pengalaman dan ilmu dari Banyuwangi melalui kegiatan studi banding dan benchmarking. Penulis berharap semoga kemajuan yang nampak kasat mata di Banyuwangi tersebut benar-benar sebuah kemajuan atau capaian yang juga berkorelasi dengan tata kelola keuangan dan sumber daya aparaturnya. Ernterpreneur bureaucracy di Kabupaten Banyuwangi pantas disimak, ditengok dan dipelajari oleh Kabupaten/Kota lainnya di Indonesia.  

Penulis : PNS di KASN Republik Indonesia

(Visited 10 times, 1 visits today)

By Sumardi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *