Berpetualang dengan mendaki gunung ataupun hanya sekedar perbukitan, memang mengasyikkan. Selain dapat menikmati pemandangan yang terhampar bak permadani hijau, itu juga dapat menguji nyali untuk merasakan tantangan mendaki gunung yang biasanya cuma kaum laki-laki saja yang melakukannya.

Kali ini aku dan geng merencanakan untuk mencoba menapaki jalan setapak menuju puncak gunung atau mungkin juga cuma bisa dikatakan perbukitan yang kami belum tahu namanya. Kami harus berjalan melewati kompleks perumahan yang padat untuk mencapai tempat itu.

Menyusuri jalanan berbatu, kadang kaki terbentur dan ranting pepohonan menyambar kepala, tidak menyurutkan langkah kami untuk mendaki gunung yang tidak kami kenal itu. Tantangan menguji adrenalin sebagai perempuan petualang akan kami pecahkan lagi pagi ini.

Akhirnya kami sampai di puncak. Bulir-bulir keringat jatuh manis di pipi yang sudah merona. Berdiri tegak, menikmati matahari yang sudah mulai mengintip, menyapa umat yang mungkin masih banyak yang terlelap dengan mimpi-mimpi indahnya. Tiada rasa yang se nikmat ketika berada di ketinggian, Menghirup udara segar yang belum terkontaminasi dengan polusi-polusi jahat.

Memandangi wajah kota ku dari ketinggian ada rasa syukur yang muncul bahwa aku masih diberi waktu untuk merasakan semua nikmat ini. Begitu tenang, damai, dengan kicauan burung yang bak buluh perindu.

Hatiku damai, jiwaku tenteram, senyumku merekah. Ini adalah puncak terakhir yang sudah kami taklukkan.

Watansoppeng, 25 Juni 2021

(Visited 63 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.