Datang bersama adalah permulaan. Menjaganya agar bersama adalah kemajuan. Bekerja bersama adalah kesuksesan.

Henry Ford

Bisa jadi kalimat inspiratif Henry Ford tersebut yang menjadi dasar pemikiran kedua penulis buku ini: menyatukan visi, menyeragamkan arah, menggali data, dan merangkum fakta untuk memulai kerja sama dalam menggerakkan dunia literasi bangsa.

Sebelum pandemi COVID-19 melanda, sesungguhnya kami sudah menyusun jadwal acara “Workshop Penulisan Buku” di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sriwijaya Palembang dengan mengundang Sang Inspirator “Indonesia Menulis” Bung Ruslan Ismail Mage (RIM) sebagai narasumber tunggal. Bahkan, surat permintaan narasumber sudah terkirim ke kantor Sipil Institute Jakarta.

Namun, badai pandemi COVID-19 menunda semuanya. Insya Allah, jika suasananya sudah kondusif, workshop penulisan karya tulis tersebut akan tetap dilaksanakan karena sejatinya setiap mahasiswa – khususnya akademisi – harus bisa menulis buku.

Walau pandemi COVID-19 membuat iklim akademik di kampus terganggu, bahkan nyaris lumpuh, tetapi kerja intelektual dan kerja literasi tidak boleh berhenti. Tatkala kerja literasi terhenti, tertundalah putaran peradaban. Paling tidak, itulah yang dicontohkan kedua penulis buku ini. Walaupun gelombang pandemi melanda, mesin produktivitas keduanya tidak pernah berhenti dalam melahirkan karya-karya buku berkualitas.

Ketika seorang motivator andal Bung RIM menemukan “mutiara yang terpendam”, maka ia mengulurkan genggaman tangannya. “Jangan hanya di belakang layar saja. Ayo, muncul ke permukaan bersamaku.” Seketika itu juga potensi besar seorang weird genius Kuspriyanto menyeruak. Mereka berdua tampil menjadi duet maut penulis.

Buku “Sumpah Pena” ini adalah bukti konsistensinya. Paduan yang sempurna antara motivasi dan teknik jitu menulis. Sumpah Pena yang Bung RIM angkat di bab pertama langsung menguatkan pesan-pesan motivasi bahwa menulis adalah amanah Tuhan pada peradaban manusia.

Disambung dengan rangkaian teknik-teknik jitu how-to writing ala arsitek Bengkel Narasi, dipastikan Anda akan segera menghasilkan banyak tulisan setelah selesai membaca buku ini. Bahkan, naskah buku Anda nanti akan beresonansi dengan karya-karya para pegiat literasi menulis lainnya di mana pun berada.

Demi pena, sesungguhnya buku ini menjadi jembatan literasi lintas generasi. Dari generasi X yang harus puas dengan mesin tik dan tinta mesin cetak offset, generasi Y yang beruntung mulai mengenal floppy disc dan koneksi internet, hingga generasi Z yang sejak lahir sudah diabadikan dengan teknologi informasi dan tumbuh bersama gawai yang super canggih. Apapun generasinya, pada dasarnya menulis tetap sama, yang berbeda hanya perangkat dan teknologinya.

Demi pena, sesungguhnya buku ini adalah pintu gerbang dunia keabadian literasi. Selamat membaca dan mempraktikkannya!

Prof. Dr. Alfitri, M.Si.
Guru Besar FISIP Universitas Sriwijaya

(Visited 75 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Abah Iyan

Sosiopreneur, Writerpreneur & Book Publisher

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.