Senin pagi 12 Juli 2021, cuaca nampaknya tidak secerah hari-hari kemarin. Hujan turun membasahi alam, seiring air mata pilu menusuk ke jiwaku. Namun cuaca ini tiada sedikitpun menyurutkan semangatku melangkah menjemput harapan.
Bagaikan irama alam, hujan rintik-rintik, mengiringi langkahku keluar rumah menuju tempat parkir motorku. Bersama sikecilku menuju taman indahku, “Taman Kanak Kanak Mutiara Bunda.” Disinilah aku merangkai harapan, menyulam asa, menabur benih-benih ilmu pengetahuan di lahan jiwa anak didik kami.
Setiba dijalan yang sering aku lewati dengan aman dengan pendakian yang cukup extrim bercampur bebatuan kecil, aku harus ekstra hati-hati karena pagi itu jalan menjadi licin diguyur hujan dari subuh tadi. Dengan perasaan was-was aku tetap melanjutkan perjalanan dengan berhati-hati.
Sesuatu yang tiba-tiba membuatku panik dijalan berlicin ini, motorku tiba-tiba melintang di jalanan yang becek dan turunanan terjal. Sempat bingung sekejap, mau minta tolong tidak ada orang lain yang lewat, hendak melanjutkan perjalanan takut karena sedang bawa anak. Inilah kecemasan terdahsyat bagiku, membayangkan anak-anakku terancam kemungkinan menjadi korban dan sakit.
Kubujuk anakku mau turun dari motor dulu menunggu di tepi jalanan, agar bisa sendiri mengendarai motor turun pelan-pelan. Dengan mengucap “Bismillahirrohmanirahim,” Allah azza wajalla sebaik-baiknya tempat memohon pertolongan. Aku kemudian memberanikan diri untuk tetap melanjutkan perjalanan hingga sampai di jalanan rata. Alhamdulillah aku tiba dengan selamat.
Kusimpan motorku, lalu kembali berjalan naik tanjakan menjemput anakku, lalu menggendongnya menuju jalanan yang bagus dekat motor. Benar kata orang-orang bijak, “Induk ayam pun tidak akan pernah rela anaknya tersakiti, apalagi seorang manusia yang diberikan akal dan fikiran.”
