Oleh: Ainul
Menunggu memang pekerjaan paling membosankan. Aku pernah menanti pujaan hati dengan sabar. Namun, kali ini penantianku betul-betul di ambang keputusasaan. Menunggu buku “Sumpah Pena” seperti menunggu sebongkah berlian dari Wali Band.
Menanti itu amat menyiksa. Jiwa meronta, hati menangis. Namun kusabarkan hati. Sehari serasa sebulan, hanya bisa mengusap dada, berusaha menenangkan emosi diri. Demi dikau sang pemikat hatiku. Buku “Sumpah Pena” kan selalu kunanti.
Ada rasa iri membuncah ketika membuka group WhatsApp. Melihat teman-teman sudah ada yang memegang buku itu. Bahkan, mereka sudah membacanya. Ditambah lagi celotehan Abang Mentor semakin menambah kegelisahan.
Jam demi jam berlalu. Setiap menit menanyakan kabar, tetapi jawaban tetap dalam penantian. Aku merasa serba salah harus berbuat apa karena yang kutunggu tak kunjung hadir. Di manakah dirimu? Kucoba bersabar dan menenangkan hati ini, tetapi kegelisahan semakin mendera.
Oh, inikah rasanya cinta? Getaran hasrat hati semakin kuat. Melihat teman-teman di seberang lautan sudah merasakan sentuhan kalimat yang ada dalam buku itu, sementara kami masih tetap menahan sesaknya dada. Namun, meski buku belum sampai di tangan, serasa sudah berada dalam pelukan. Saking luar biasanya gaung buku “Sumpah Pena”.
Ketika buku sudah di tangan, benarlah adanya: buku ini sangat luar biasa! Sejak mahasiswa sampai sekarang, mungkin ratusan buku telah kubaca. Tetapi jujur saja, aku belum pernah menemukan buku yang memiliki energi sedahsyat “Sumpah Pena”.
Melihat judul dan sampulnya saja aku seperti melihat hal sakral, sesakral sumpah. Ternyata, sebelum Tuhan bersumpah “Demi Waktu”, Tuhan terlebih dahulu bersumpah “Demi Pena”. Melalui buku ini, aku baru tahu bahwa Islam mengajarkan pentingnya membaca dan menulis. Aku yakin siapa pun yang memiliki dan membaca buku ini pasti akan merasa bersalah, bahkan berdosa jika penanya tidak digunakan untuk menulis.
*Karya bersama Bengkel Narasi Kolaka Utara

Kolut Keren…