Oleh : Gusnawati Lukman
Perayaan hari ulang tahun kemerdekaan RI yang ke-76 tidak lama lagi. Situasi pandemi Covid-19 ini membuat berbagai acara atau lomba yang biasa diadakan untuk memeriahkan HUT RI ditiadakan. Kegembiraan warga dan antusiasme mereka mengikuti acara dan lomba-lomba seperti lomba panjat pinang, lomba/acara malam kesenian, lomba makan kerupuk tidak nampak lagi.
Selama ini, semarak perayaan Hari Kemerdekaan RI selalu identik dengan berbagai perlombaan tersebut, dan salah satunya yang menarik adalah lomba makan kerupuk. Walaupun perlombaan makan kerupuk terlihat sederhana, namun menyimpan nilai sejarah dan filosofis di dalamnya.
Dikutip dari laman #kemdikbud.ri, dahulu, pelaksanaan lomba makan kerupuk hanya dilakukan oleh warga menengah ke bawah, tetapi sekarang tradisi lomba tersebut sudah berkembang dan merambah ke semua golongan masyarakat.
Sahabat pembelajar, yuk simak sejarah dan filosofi lengkapnya di bawah ini.
Kerupuk merupakan salah satu makanan pelengkap andalan bagi bangsa Indonesia, khususnya pada era 1930 hingga 1940-an.
Kala itu krisis ekonomi sedang terjadi di Indonesia dan menyebabkan harga kebutuhan pangan melonjak sehingga tidak terjangkau oleh masyarakat kalangan menengah ke bawah. Akhirnya kerupuk pun menjadi salah satu penyambung hidup lantaran harganya yang terjangkau.
Pada tahun 1950-an mulai bermunculan lomba-lomba untuk memperingati Hari Kemerdekaan RI, salah satunya adalah lomba makan kerupuk. Selain untuk menghibur rakyat setelah masa peperangan berakhir, lomba makan kerupuk juga menjadi pengingat bagi masyarakat Indonesia tentang kondisi sulit dan memprihatinkan pada masa perang.
Nah, itulah nilai sejarah dan filosofi lomba makan kerupuk saat HUT RI. Semoga pandemi ini segera berakhir, sehingga kegembiraan warga masyarakat dalam merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dapat terlihat lagi.
Sumber : #kemdikbud.ri
Watansoppeng, 12 Agustus 2021
