Di sudut persimpangan Jalan Bumi Permata Sudiang Makassar yang tidak terlalu ramai namun selalu dilalui warga, berdiri sebuah instalasi utilitas listrik berbentuk panel putih krem tinggi. Panel itu ditopang oleh dudukan beton berlapis keramik biru yang warnanya sudah pudar, terkelupas, dan dipenuhi jejak stiker iklan sedot WC.
Tepat di antara tiang beton abu-abu dan kotak panel tersebut, ada sebuah pemandangan yang sukses membuat saya geleng-geleng kepala, mengelus dada sambil mengelus dahi, terlihat seonggok kantong plastik transparan berisi sampah rumah tangga, diikat rapi dengan simpul simetris, tergeletak anggun di sana. Yang membuat keberadaan kantong sampah itu bukan sekadar kotoran biasa, melainkan sebuah misteri yang sangat menjengkelkan, adalah cara sang oknum meletakkannya. Sampah itu tidak dilempar asal dari atas motor. Tidak pula diseret atau digeletakkan di tanah begitu saja.
Pemiliknya menempatkannya dengan sangat presisi di atas dudukan keramik biru, seolah-olah tempat itu memang sebuah podium pajangan khusus yang sengaja didesain oleh arsitek kota untuk memamerkan sisa mika makanan, pembungkus plastik, dan gulungan tisu bekas.
Saya mulai menyadari keberadaan “karya seni” tidak diundang ini lebih kurang sepekan mengendap.
“Siapa sebenarnya manusia yang punya estetika aneh begini?” gumamku sembari memandangi kantong plastik itu. “Kalau mau buang sampah sembarangan, kenapa harus diikat sekencang dan serapi itu? Lalu kenapa ditaruh di atas keramik tempat panel listrik? Apakah dia pikir ini rak pajangan museum?”
Rasa penasaran bercampur jengkel itu ku tuangkan dalam media ini, agar segera dibereskan keberadaannya. Keberadaan oknum ini menjadi topik perbincangan paling hangat, mengalahkan isu kenaikan harga telur maupun rumor tetangga sebelah yang baru membeli mobil baru. Siapa sebenarnya sosok di balik tindakan absurd ini?
Teori-teori konspirasi liar pun mulai bermunculan di benakku. Menurutku, pelaku pastilah seorang pelari pagi (runner) yang sangat berdedikasi tinggi namun memiliki moralitas yang bengkok. “Pasti dia lari pagi sambil menenteng sampah dapur dari rumahnya. Pas sampai di tiang listrik, dia lelah, lalu ditaruhlah sampah itu di atas keramik biru. Biar tidak perlu membungkuk ke tanah!” tuduhku.
Teori berikutnya pelaku adalah pelari pagi, ikatan plastiknya tidak akan serapi itu. “Lihat simpul bagian atas plastiknya! Itu simpul mati ganda yang simetris, tegak lurus ke atas seperti kuping kelinci. Ini pekerjaan orang yang memiliki ketelitian tinggi, tapi sayangnya otak dan kesadaran lingkungannya sangat tumpul”.
Misteri ini makin menjadi-jadi karena dalam sepekan, setiap kali sampah lama diangkut oleh petugas kebersihan, kantong plastik baru dengan bentuk, posisi, dan gaya pengikatan yang persis sama selalu kembali muncul dari pandanganku. Selalu di tempat yang sama, menumpang di atas keramik biru, bersandar manis di tiang beton dan box panel utilitas, tepat di keramaian lalu lalang kendaraan seolah depresi melihat kelakuan sang oknum.
“Ini bukan manusia biasa, ini hantu sampah!”gumamku.
Pemandangan tak biasa ini tentu melelahkan mata orang-orang yang melintasinya. Cara dia meletakkan sampah itu seakan-akan menyampaikan pesan implisit.
Oknum ini pasti sudah tahu bahwa ini bukan tempat sampah, tapi pelakunya menaruhnya di gardu panel listrik dengan sangat rapi agar orang-orang bingung harus marah atau heran.
Hingga detik ini, kantong plastik bening itu tetap bersandar tegak tepat di panel listrik tersebut, seolah sang oknum tersenyum mengejek di balik kegelapan.
Sementara identitas sang oknum pembuang sampah misterius di atas dudukan keramik biru itu masih gelap gulita. Dia menjadi legenda urban lokal yang paling dibenci sekaligus memicu rasa penasaran.
Keberadaan kantong plastik yang selalu tertata rapi di samping kotak utilitas itu menjadi monumen harian atas betapa menjengkelkannya kombinasi antara kedisiplinan yang salah tempat dan tingkat kesadaran lingkungan yang nol besar.Kampret!!
