Satu setengah tahun anak-anak belajar di rumah,apakah Anda pernah memperhatikan kebiasaan-kebiasaan apa saja yang berubah? Ya, ada yang mengatakan anak-anak jadi kurang disiplin, bangun siang, malas mandi, malas beres-beres, dan masih banyak lagi. Fenomena “mager” nyata sekali, kan?

Pernahkah Anda memperhatikan kata-kata apa yang biasa anak-anak ucapkan ketika kita menyuruhnya untuk ini dan itu? Benar sekali, kata “nanti” dan kata “bentar (sebentar)”. Tidak jarang kita jadi kesal, ya?

Kebiasaan mereka menunda-nunda sesuatu cukup merepotkan. Contohnya, dalam pengerjaan tugas sekolah.

“Gemana tugasnya, beres? Ada yang susah, nggak?”
“Udah…”

Namun, tiba-tiba kita mendapat informasi di grup WhatsApp tentang nama-nama siswa yang belum mengerjakan tugas dan nama anak kita ada di dalamnya. Kesal rasanya!

Bagi banyak orang, kebiasaan menunda-nunda adalah halangan besar bagi perubahan positif. Berdasarkan Teori Motivasi Temporal, disebutkan bahwa ada empat penyebab menunda-nunda. Keempatnya saling terkait.

Pertama, ekspektansi: kita meremehkan peluang kita melakukan suatu tugas dengan baik, yang menurunkan motivasi secara keseluruhan.

Kedua, sensitivitas pada penundaan: banyak dari kita tidak memahami seberapa parah menunda suatu tugas akan memengaruhi kesempatan untuk menyelesaikannya tepat waktu.

Ketiga, kegagalan mengapresiasi ‘nilai’ suatu tugas dan manfaat yang didapatkan dari menyelesaikannya tepat waktu. Ini berarti kita memilih kesenangan saat ini daripada konsekuensi jangka panjang.

Keempat, Wessek berpendapat bahwa kita kekurangan ‘metakognisi’ – kesadaran diri dan kapasitas untuk berpikir secara analitis tentang pikiran kita sendiri – yang akan memungkinkan kita mengidentifikasi cara-cara untuk menolak perilaku ini dan kembali ke jalur yang benar.

Jason Wessel merangkum prinsip-prinsip Teori Motivasi Temporal menjadi empat pertanyaan sederhana yang mengajak seseorang untuk mempertimbangkan:

Bagaimana orang sukses akan menyelesaikan tugas ini?
Bagaimana perasaan Anda jika tidak mengerjakan tugas yang perlu dikerjakan?
Apa langkah pertama yang perlu Anda lakukan?
Jika Anda bisa melakukan satu hal untuk menyelesaikan tugas ini tepat waktu, apa itu?

Wessel menegaskan, “Jika Anda menyadari bahwa Anda selalu menunda-nunda, itu bisa menjadi cara yang baik untuk mengontrol perilaku Anda”.

Hal terpenting, menurut Wessel, adalah secara teratur mempertanyakan tujuan apa yang sebenarnya penting buat Anda, dan mengecek apakah Anda sudah cukup memprioritaskannya. Berikutnya, Anda harus mencari cara untuk memecah tugas Anda menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, sebelum mengambil langkah pertama yang paling mudah.

“Dengan demikian, Anda dapat menciptakan semacam momentum yang akan mengurangi kemungkinan Anda menunda-nunda,” kata Wessel.

Dengan bahasa dan cara yang lebih sederhana, ada baiknya kita ajarkan tentang hal tersebut kepada anak-anak. Mulailah dengan hal-hal keseharian mereka. Arahkan mereka untuk membiasakan diri untuk fokus, meski sebentar. Ini akan membantu meningkatkan ketekunan, organisasi, dan efisiensi mereka dalam keseharian. Dengan demikian, anak-anak bisa punya lebih banyak waktu untuk dihabiskan pada hal-hal yang benar-benar penting. Selamat mencoba!

(Visited 28 times, 1 visits today)

By Iyan Apt

Writerpreneur, dan Book Publisher @ Elfatih Media Insani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: