Namaku pelangi. Meski namaku penuh warna, saat ini aku sudah tidak ingin mengisi hidupku dengan warna yang bisa menyilaukan mata hati ku.
Usia tak muda lagi mesti banyak berbenah, merenungi akan makna kehidupan.
Umur kita terus bertambah, setahun demi setahun terus berjalan. Tubuh menua dan mulailah penyakit banyak menggerogoti tubuh, semakin banyak pantangan yang membatasi kita dalam mengkonsumsi makanan begitupun aktivitas berat lainnya sudah tidak seperti dulu lagi.
Hari tua begitu cepat menghampiri kita, segala kejayaan, kesuksesan, dan kekuatan di masa muda dulu hanya akan menjadi kenangan. Tidak pernah kembali kehadapan kita lagi.
Semua pesta telah berakhir, tinggal menunggu detik-detik waktu kembali ke tempat asal kita berada.
Hidup ini bagaikan mimpi. seindah apapun mimpi kita, menjadi artis terkenal, menjadi orang berharta atau menjadi apa saja yang diinginkan, saat terbangun dari tidur semua akan hilang tak berbekas.
Demikian halnya dengan apa yang kita lakoni saat ini. Rumah mewah, nama dipuja dimana-mana, harta benda melimpah, kedudukan dan jabatan tinggi semuanya tidaklah kekal abadi.
Ketika kontrak kita berakhir di dunia, saat nafas terakhir tiba, maka semua yang diraih tidak dapat dibawa pergi. Sebatang jarum pun tidak mungkin menyertai kita. Bahkan sehelai benangpun tidak ikut bersama kita.
Semua tidak ada yang abadi kecuali tulisan yang sahabat semua sedang baca saat ini. Aku tulis ini bukan berarti aku telah siap menjadi orang sempurna namun aku sedang menjalani proses menuju ke hal yang lebih baik lagi. Semoga tulisan ini bisa menjadi renungan untuk kita semua.
Sangat tepatlah kalau seorang inspirator andal Ruslan Ismail Mage sering disapa bang RIM selalu mengabadikan kalimat inspiratifnya bahwa menulislah jika ingin abadi, apa yang terucap bisa saja terlupakan namun yang dituliskan akan selalu ada.
Terima kasih bang RIM yang sudah memberiku banyak pelajaran berharga dalam menjalani kehidupan. Semoga kelak bisa bertemu lagi.
