Pada tahun 2003 aku pulang dari merantau negara Singapura, impian punya rumah sendiri, Alhamdulillah terwujud (walau masih ngutang (KPR BTN) di perumahan Cisoka Indah Regency.
Putriku Dilla menemani hari-hariku di rumah baruku. Sambil menunggu kepulangan suamiku dari negeri Jiran, Malaysia.
Aktifitas sehari-hariku, sama seperti ibu rmah tangga pada umumnya. Selain mengurus anak, mencuci, antar jemput putriku ke sekolah, aku belajar adaptasi dengan masyarakat di sana. Ikut Liqa, arisan juga mengajari anak-anak membaca Alqur’an. Awalnya cuma mengajari putriku di rumah, lama-lama anak-anak tetangga satu persatu berdatangan. Diantara mereka ada yang berpendapat;
“Belajar ngaji di Mamah Dilla cepat bisa,” ujar salah seorang wali murid. Padahal itu pendapat yang tidak benar, menurutku. Mereka cepat bisa karena murid-muridnya belum banyak. Lama-lama semakin banyak, akhirnya aku pindahkan ke Musholla di lingkungan perumahan kami yang baru saja dibangun.
Enam bulan kemudian tiba waktunya suamiku (sekarang mantan lho ya) datang juga, impian hidup bahagia bersama, setelah 5 tahun kami berpisah. Tentu menjadi kebahagian bagiku juga Dilla.
Di Saat kedatangannya mungkin aku di masa subur, merasa ada sesuatu yang aneh dengan perasaanku, aku memeriksakan diri ke Bidan. Dan benar, setelah cek urine hasilnya “positif.”
Alhamdulillah, bahagia sudah pasti, apalagi putriku Dilla menginginkan seorang adik.Tiga kali hamil aku mengalami hal yang sama seperti kehamilan pertama dan kedua, yaitu selalu keluar flek walau dalam keadaan hamil. Untuk menjaga kesehatan dan keselamatan janin yang aku kandung, aku berobat ke dokter kandungan. Ya, mungkin kandunganku lemah, setelah dokter memberiku obat sembuh, dan gerakan jabang bayi di dalam rahimku, super aktif, tendangannya sampai mengeluarkan suara.
Tidak semua wacana yang indah itu berjalan mulus, pernah usaha kecil-kecilan produksi kue basah bangkrut. Tetapi aku tak putus asa untuk mencoba usaha lainnya.
Di saat baru pulang, Mas Herman menawarkan diri membantu kami.
“Fah, kalau Luh punya duit, simpen di Aku,” tuturnya dengan logat betawi, saat kami berkunjung ke Lapaknya (itung-itung nabung ,dia sebagai juragan rongsokan). Kamipun sepakat, uang yang aku titipkan sebesar rp 5000 000.
Setiap hari suamiku mondar mandir Cisoka-Perumnas 2, di lapaknya Mas Herman. Entah apa yang dia kerjakan di sana. Aku tahunya dapur ngebul walau uang yang di bawa tak seberapa.Dia tidak punya pekerjaan, alias nganggur, sementara perutku semakin besar, si Utun semakin aktif dengan tendangannya. Aku bingung, darimana biaya untuk melahirkan?
Aku bicara sama adikku Sahrudin saat dia datang ke rumahku.
“Din, gue mungkin mau balik ke Bogor aje, gue gak punya duit untuk melahirkan.””Mau ngapain Luh balik? Di sini aje, pasti ada rezekinya,” (ah dalam bathin, luh mungkin mau bantu biaya untuk ke bidan, ngarep).
Semakin hari semakin dekat dengan tanggal kelahiran bayiku dari perkiraan bidan. Aku masih bingung, tidak sepeserpun duit di tangan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-haripun bingung.
Tralaaaaaa…Aku ingat masih punya simpanan di mas Herman, langsung aku menuju ke telepon umum, (kagak punya hp , aku telepon menggunakan koin).
“Assalamualaikum mas, aku mau ambil uangku yang aku titipkan,” ujarku di telepon umum, pinggir jalan raya Cisoka.
Lho Fah, kan dari dulu juga uangnya di ambilin terus sama suami luh!” Kalimat itu yang terdengar dari jawaban mas Herman.
Deeeer….rasanya seperti di sambar geledek, aku lemas, tidak bisa menahan tangis kesedihanku. Darimana aku bisa mendapatkan biaya untuk melahirkan?
Setiba suamiku pulang dari Lapak mas Herman, aku langsung bilang.
“A, tadi aku habis telepon mas Herman.” Tanpa diduga, dia langsung membentur-benturkan kepalanya ke dinding kamar kami. Sekuat tenaga aku mencegahnya, terbayangkan? “Bagaimana susahnya aku harus menguras tenaga untuk mencegahnya percobaan bunuh diri, tenaga perempuan dengan perut besar?” Percobaan bunuh diri ini bukan yang pertama kalinya.
Di saat waktu ashar aku buang hajat, perut terasa mules ada bercak darah di CDKu,” mungkin mau melahirkan,” gumamku dalam hati.”Aku masih dengan aktivitasku, mengajar anak-anak membaca Alqur’an, perut terasa semakin sering mulesnya. Selesai Isya aku bubarin lebih awal anak-anak mengaji. Aku bertahan tidak ke bidan dulu, aku jalan-jalan di depan rumahku di temani Dilla, putriku.
Lama-lama rasanya jabang bayi dah meronta-ronta minta cepat-cepat keluar, sakit, mual mules tanda-tanda mau melahirkan. Aku pergi ke bidan, sementara putriku aku titipkan ke tetangga.Alhamdulillah, tanggal 30 April putri mungilku dengan tangisan yang cukup menggema di seluruh ruangan kamar tempat bidan praktek. Asiku kering, bidan ngasih teh manis (kalau tidak salah), bayiku baru mau berhenti dari tangisannya.
Keesokan paginya, aku harus pulang, masih bingung dengan biayanya, duit di tanganku tidak mencukupi. Akhirnya bidan baik hati, aku diantar pulang, kekurangan biaya bisa menyusul kemudian. Kegiatan baru tentu mengurus bayiku sambil tetap mengajar anak-anak mengaji.
Sampai detik ini suamiku tidak punya pendapatan alias nganggur. Sebagai istri aku gak mau menuntut, sudah capek rasanya dengan teori-teorinya yang sangat indah dan menjanjikan. Sementara kedua putriku lagi membutuhkan gizi, “ya Allah entah apa yang harus aku perbuat?”
Suatu hari, di saat suamiku mengantar barang dengan adik angkatku Hary ke Pandeglang, ada kejadian yang tetap masih mengingatnya. Di hari itu, kompor kering tidak ada minyak tanah, air minum kosong, beras tak ada 1 butirpun.
Hanya bergelut dengan hati, “apa yang bisa aku makan hari ini?”
“Cantik, hari ini ke rumah Tante ya, Lha makan di sana,” itu yang aku katakan sama putriku, dia menurut.
Sementara aku masih bisa menahan rasa laparku. Ghina bayiku, mulai meronta-ronta, menangis, dia mulai menggigit puting susuku, karena setiap menangis, aku menyusuinya kering kerontang. Tiba saatnya waktu maghrib, aku panik, semakin kencang Ghina menangis, akupun hanya bisa menangis, aku panik sampai tidak melaksanakan kewajibanku shalat maghrib.
“Dilla, ke rumah Mamah Rizki ya, bilang mamah malam ini tidak bisa mengajar ngaji ke Mushollah, Ghina ngadat”.
Putriku anak yang patuh, dia langsung berangkat ke rumah Mamah Rizki, tetangga teman Liqaku.
Hampir Isya suamiku pulang, dia langsung memarahiku masih mendapati Ghina menangis, “Kenapa tidak ngutang dulu ke warung?” Aku tidak menyahut, aku hanya bisa menangis, sambil bergumam di hati, “Kalau ngutang darimana aku bisa membayarnya?” Dia langsung ke warung mbak Sri, tetanggku. Dia ngutang minyak tanah dan beras, dia juga langsung mengambil Pepaya mentah untuk direbus supaya asinya cepat keluar. Cobaan hidup yang tidak semudah itu aku melupakannya.
Aku pulang ke rumah mertuaku, berharap ada solusi, sementara putriku Dilla aku titipkan kembali ke mertuaku. Sesampainya di sana bukan solusi yang di dapat malah aku kena bencana Tsunami Pangandaran tahun 2006. Seminggu kami mengungsi ke Bukit, yang masih ku ingat kami kehujanan, tinggal di bawah pohon, beberapa jam kemudian baru ada tenda darurat. Mungkin itu yang menyebabkan Ghina paru-parunya kena flek. Hari berikutnya baru ada bantuan keperluan sehari-hari untuk kami dari Bank Mandiri.
Aku bingung, tak megang uang sepeserpun, aku pingin balik ke Tangerang. Setelah pinjam telepon petugas dari Mandiri, aku bisa mengabari keluargaku di Tangerang. Setelah sampai di nyatakan aman, kami kembali ke rumah mertuaku, aku bisa pulang di kirimin ongkos oleh keponakanku.
Dari kejadian itu langsung aku memutuskan untuk pergi ke luar neegeri lagi. Aku pamit sama pak Rw.
“Pak, maafin, aku pamit dari perumahan ini, aku tidak bisa melanjutkan mengajari anak-anak mengaji.”
“Mamah Dilla kami dan warga faham akan keadaan mamah Dilla, Kami dah sepakat dengan masyarakat, mamah Dilla tidak boleh pergi, dan kami akan mengusahakan supaya mendapatkan gaji.”
“Pakk Rw, terimakasih atas support dan perhatiannya, aku dah bulat dengan keputusanku.”Dalam hati aku bergumam, “kalau cuma makan mungkin masih bisa saja, tapi tanggungan cicilan rumah yang aku fikirkan”.
Pulang dari rumah pak Rw berpapasan dengan guru Liqaku.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh, apa khabar Ummi? Sekalian pamit ya Mi, aku putuskan mau pindah ke Bogor.” Beliau adalah guru inspirasiku, bersahaja , selalu mengutamakan orang lain walau dia sendiri masih susah.
“Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh, Alhamdulillah baik mamah Dilla, saya turut prihatin dengan musibah Tsunami di Pangandaran.” Jawab Ummi dengan ciri khas, suara lembutnya.
“Oh ya ini ada titipan dari Abinya,” sambungnya seraya mengeluarkan amplop putih dari Tasnya. Ya Allah hati ini sedih banget, di saat kesusahan masih ada yang ngasih, padahal aku juga tahu Ummi sangat membutuhkan. Dengan berat hati aku menerima walau sempat ku tolak.
Tiba di Bogor, aku mengutarakan maksudku untuk pergi ke Hongkong. Aku memberi tahu suamiku yang saat itu masih di Pangandaran lewat surat yang aku kirim via Pos. Sakit sudah pasti, ini yang kedua kalinya aku harus meninggalkan permataku Ghina, usianya baru 16 bulan. Lagi membutuhkan asi, terpaksa ku sapih.
Suatu malam Ghina berontak tidak mau minum susu kental manis yang mampu aku berikan. Tak tahan antara rasa bersalah dan ketidak berdayaanku harus menyapihnya.
“Kalau saja bapakmu bisa ngasih nafkah kita, tidak mungkin aku harus meninggalkanmu.” Spontan kalimat itu ku lontarkan sambil menangis disaksikan kakakku yang aku percaya mengasuh Ghina.
Tidak lama aku menunggu di PT, karena aku sudah pengalaman di Singapura dan itu cuma rumah penampungan, tidak ada kegiatan apapun selain giliran piket. Alhamdulillaah aku mudah beradaptasi dengan teman-temanku yang rata-rata dari Jawa. Selain piket aku ajak teman-teman belajar ngaji, shalat berjamaah, Yasinan bersama. Tak perlu menunggu lama aku dah mendapatkan majikan dan visaku turun, tanggal 12 bulan Januari 2007 hari pertamaku masuk rumah majikan.
Tanpa sepengetahuanku Ghina diambil alih ngasuh oleh Ummiku, aku pasrah daripada ribut. Cuma ya begitu yang namanya orang tua, mengasuh anakku dengan caranya sendiri.
13 bulan kemudian di saat cuti, aku melihat putriku matanya Celeng. Aku fikir biasa aje kali, tidak berbahaya, akupun cuek, ini kesalahan besarku kepada Ghina. Suatu hari aku mendapat pesan singkat dari ponakanku melalui hp jadulku.
“Bi, Ghina menabrak plang di Ancol, dia harus segera di bawa berobat. “
Ya Allah hati serasa hancur putriku matanya mins 4, rasa bersalah sudah pasti. Sejak itu Ghina berobat jalan, ada khabar baiknya bisa di operasi setelah umur 17 tahun.
Harapan tinggal harapan, ketika pulang cuti selalu singkat tidak ada waktu banyak untuk membawa putriku ke klinik. Pernah sekali membawanya berobat, itupun cuma periksa rutin dan ganti kacamata. Ghina termasuk jabrah (kurang hati-hati), entah berapa kali beli kacamata, sering pecah, gagangnya rusak. Terakhir di periksa, kerusakan matanya sudah sampai ke syaraf dan tidak memungkinkan untuk di operasi, untuk meminimalisir mins hanya dengan Vitamin yang dokter berikan.
“Ya Allah sembuhkan putriku, berikan keajaibanmu.”
“Maafkan atas keteledoran Mamahmu sayang.” Konon baru aku ketahui, penyebab matanya Ghina karena saat sakit tidak keburu, itu keterangan dokter . Ya mungkin juga karena kebiasaan Ummiku jika anak sakit cukup di Cebor (air dari orang pintar), atau obat warung. Aku tidak menyalahkan ummiku, akupun turut andil bersalah, telah meninggalkannya.
Mulai dari rahim Ghina super aktif, tendangannya sangat kuat, dia anak yang cerdas, satu lagi kelebihan Ghina pandai berbicara walau dengan orang tua.
Suatu hari Ade ponakanku cerita.” Bi, Ade aje kalah saat ngomong sama Ghina, dia pintar saat ngobrol, tidak kehabisan kata-kata, bisa saja tuh jawabnya,” ceracaunya. Sampai sekarangpun ku kalah kalau bicara dengan putriku yang satu ini. Aktif ikut-ikut perlombaan, dia juga punya prestasi yang bagus. Semoga cita- citamu ingin menjadi guru bisa tercapai nak, Amin.
Setelah tamat Tk di lanjut di MI Al Bayan Mandiri, 6 tahun kemudian aku mengirimnya ke Pontren, pesantren menjadi pilihanku karena di sana mendapatkan ilmu double, pendidikan umum dan pendidikan agama. Tetapi karena ada kekurangan dengan penglihatannya, aku tarik dari Pontren setelah lulus Mts. Perrnah Ghina jatuh dari loteng saat menjemur pakaian. Dengan alasan keselamatannya, aku pindahkan ke SMA Muhammdiyah Ciasmara yang letaknya tidak jauh dari kampung kami.

Maafkan mamah sayang, belum bisa menjadi ibu yang baik. Maafkan atas keteledoran mamah, sehingga membuatmu sakit. Doaku yang terbaik untukmu duhai permataku. Semoga keajaiban sembuh itu ada, cita-citamu menjadi seorang guru bisa tercapai. Terimakasih sudah menjadi anak yang baik, anak kebanggaanku walau nyaris kau tak mendapatkan kasih sayangku. Aku pergi untuk kembali, Mamah sayang Neng…
