Oleh : Andi Satia
Memutar memori masa lalu laksana melukis pelangi di atas kanvas jiwaku. Penuh warna-warni, penuh cerita-cerita lucu, sedih, bahagia, dan rindu. Begitulah yang kualami sekitar 12 tahun lalu (1990).
itulah hari paling sepi yang pernah ada dalam hidupku. Saat itu saya mengarungi hari-hariku seorang diri di rantau, karena ditinggal pergi oleh sahabat rasa saudara yang selama ini selalu setia melangkah bersamaku, menerjang kerasnya kehidupan kota Ujung Pandang (Makassar).
Kisah persahabatan itu berawal di kampus Akademi Keuangan Perbankan (AKP) tahun ajaran 1985/1986 di jalan Mappaoddang. Dalam menjalani kehidupan kampus, saya punya sahabat dari daerah asal Bulukumba-Pinrang anak seorang bangsawan (karaeng). Teman-teman sering memanggilnya Andi Utha. Anaknya periang, lincah, supel dan baik hati.
Waktu terus berjalan, dan kami tak pernah terpisahkan. Selalu bersama berbagi suka dan duka. Selama tiga tahun lamanya teman-teman sering menjuluki kami berdua gadis tomboi. Bila ke kampus selalu memakai jeans dan tidak pernah memakai rok, apalagi yang namanya dandan itu jauh dari kamus kami berdua.
Banyak hal yang konyol pernah kami lakukan bersama. Pernah suatu hari kami main kejar-kejaran dengan polisi karena kami tidak memiliki SIM (Surat Izin Mengemudi). Bila mengingat itu semua saya jadi geli tertawa sendiri. Waktu itu Utha jemput aku pergi ke kampus, dan seenaknya saja melanggar lalu tancap gas. Celakanya tidak sadar kalau kami diikuti polisi dari belakan.
Mengetahaui dibuntuti polisi, Utha bukannya minggir, tapi justru bilang, “Pegangan erat Tia” lalu tancap gas kabur. Ketika melihat ada rumah pintu gerbangnya terbuka, kami langsung nyelonon masuk parkir di halaman. Untung tuan rumahnya lagi duduk santai baca koran di teras, dan hanya melongo menatap kearah kami. Setelah aman kami pamit minta terimah kasih, sambil mengusap dada nyebut,
Ya Allah ya Rabb ampuni kelakuan kami berdua. Sungguh sedikitpun tidak pernah terlintas di benak kami untuk melakukan hal tersebut.
Cerita seru lainnya yang mewarnai kehidupan kami berdua adalah ketika kami begadang mengerjakan tugas kuliah sampai larut malam. Akibatnya kami terlambat bangun jam 07.40 sementara ada UAS (Ujian Akhir Semester) jam 08.00. Karena terburu-buru kami tidak mandi lagi, hanya cuci muka, gosok gigi, pakaian, lalu berangkat ke kampus naik motor. Dalam perjalanan, perasaanku mulai tidak enak, karena sepertinya motor kehabisan bensin. Lebih celakanya lagi kami lupa membawa dompet. Motor kami mogok, distater berkali-kali tetap tidak bisa bunyi karena bensinnya habis. Lengkap sudah penderitaan kami.
Mampus deh, bakalan pecah perang dunia ketiga. Pasti kena damprat dari pak Jen Lessy dosen statistik yang super killer itu. Untung ada orang yang baik hati mau nolongin memberi uang membeli bensin untuk melanjutkan perjalanan ke kampus.
Sampai di kampus teman-teman suda pada bubar. Ketika kami suda pasrah terlintas kabar melegahkan jiwa, Alhamdulillah ternyata jadwal ujiannya di undur jam 10 .00. Sakin gembiranya kami lansung berpelukan seperti teletabis sambil tertawa lepas. Terima kasih ya Allah, Engkau telah memberi kejutan indah yang tak terduga.
Kebersamaan dan keceriaan menjalani hari-hari di kampus membuat waktu begitu cepat berlalu. Tidak terasa tahun 1989 kami berdua telah menyelesaikan perkuliahan. Saya memilih melanjutkan kuliah lagi, sementara Utha memilih menikah lalu di boyong oleh suaminya ke tempat kerjanya di Tembaga Pura PT. Preeport Indonesia. Sejak itu kami berpisah benar-benar lost contact.
Saya terus mencari kabar dan keberadaannya, tetapi nihil. Hingga tahun 2002 kami sempat bertemu selama dua hari. Bersama suami dan anaknya Utha cuti tahunan di Makassar.
Rasa rindu yang selama ini bersemayam di hati setelah berpisah di kampus telah terobati. Walau hanya sekejap namun begitu berarti bagi diriku.
Setelah berpisah ternyata kerinduan itu semakin menyiksa batinku. Terlalu sulit rasanya menemukan sahabat sejati seperti dirinya. Hanya dia yang bisa memahami dan mengerti diriku. Dia seperti kakak sekaligus ibu bagiku. Kami selalu berbagi dalam segala hal, suka, duka, bahagia, gembira kami rasakan bersama. Inilah mungkin yang disebut persahabatan jiwa yang menerapkan “manajemen satu rasa”.
Setelah lost contact lagi sejak tahun 2002 selama 19 tahun lamanya, selama itu pula saya selalu mencari kabar berita darinya. Satu-satunya harapanku hanya di dalam sujudku, memohon pada Allah Swt untuk bisa dipertemukan sahabat sejatiku di sisa hidupku ini. Alhamdulillah, ternyata Tuhan mengabulkan doa-doaku, kami dipertemukan lewat media sosial pada tanggal 26 Agustus 2021 pukul 23.00 malam.
Ternyata selama ini kami saling mencari kabar di media sosial, tetapi sulit ketemu karena akun satu sama lain bukan menggunakan identitas waktu kami bersama dulu di kanpus. Dia memakai identitas Utha Andi Sutrawan Asri, sementara saya memakai identitas Astia Hilmi Astia singkatan Andi Satia sedang hilmi itu nama suamku.
Kini telah terjawab segala kegundahan hatiku yang sekian lama terperangkap di alam kerinduan sahabat sejatiku. Pencarianku telah berahir bersemai di muara hati kami berdua. Kini senyumku kembali merekah di setiap langkahku, menyejukkan emosi jiwaku yang selama ini terperangkap di alam kerinduan

Keren Bu Andi Satia 👍👍👍👍
Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya
Waahh keren pung Andi Satia..
Kerinduan mendalam..
Kisah paling indah…
Kenangan manis…
Semoga dapat terulang kembali meskipun dibatasi ruang dan waktu.. akun media sosial merawat sahabat sejati…🙏🙏
Keren ibu.
Memory terindah with sahabat sejati.
🥰🥰🥰🥰🥰
Ceritanya sangat bagus….kisah yang paling indah dan penuh kenangan..semangat terus.
Mantap puang cerita yang sangat indah tentang kenangan bersama sahabat lama👍👍😘