Dengan penuh rasa hormat dan bangga, kami mempersembahkan buku “Setelah Kesempatan Kedua” sebagai wujud penghargaan atas dedikasi dan karya luar biasa Dr. Gugun Gunardi, M.Hum. (alm), atau yang akrab disapa Abah Gugun. Buku ini adalah kumpulan tulisan beliau yang dipublikasikan di situs Bengkel Narasi, tempat di mana Abah Gugun aktif berbagi ilmu dan pengalaman dengan para pegiat literasi.

Kehadiran Abah Gugun dalam komunitas Bengkel Narasi bukan hanya sebagai penulis, tetapi juga sebagai guru dan inspirator. Sosoknya yang bersahaja dan penuh kehangatan telah banyak memberi pencerahan bagi kami, terutama dalam hal pelestarian bahasa dan budaya Sunda. Seperti yang sering beliau ungkapkan, bahasa adalah identitas budaya. Dengan melestarikan bahasa Sunda, kita turut menjaga warisan budaya leluhur agar tidak hilang terkikis zaman.

Selama hidupnya, Abah Gugun selalu mengutamakan pendidikan dan literasi. Beliau tidak hanya berteori, tetapi juga turun langsung ke masyarakat untuk mengajarkan pentingnya memuliakan bahasa dan budaya sendiri. Dalam perjalanannya, Abah Gugun menunjukkan bahwa literasi bukan hanya sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup pemahaman dan apresiasi terhadap budaya lokal.

Pandemi COVID-19 membawa dampak besar bagi semua sektor, termasuk dunia literasi. Abah Gugun menyadari betul tantangan yang dihadapi oleh para penulis selama masa sulit ini. Dalam diskusi kami, beliau sering mengungkapkan keprihatinannya terhadap nasib penulis yang kesulitan secara ekonomi. Karena itu, Bengkel Narasi berusaha menjadi wadah yang tidak hanya menyediakan ruang berkarya, tetapi juga mendukung penulis agar tetap dapat berkarya di tengah keterbatasan.

Buku ini terbagi menjadi tiga bagian yang menggambarkan berbagai aspek kehidupan dan pemikiran Abah Gugun. Bagian pertama membahas pendidikan, terutama terkait Bahasa Indonesia dan Basa Sunda. Bagian kedua mengeksplorasi seni dan budaya Sunda, serta kehidupan di Bandung dan Jawa Barat. Bagian ketiga menceritakan perjalanan hidup beliau dari masa kecil hingga pengabdian terakhirnya sebagai tenaga pendidik di Universitas Padjadjaran dan Universitas Al Ghifari Bandung.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw berkata, “Umatku yang paling pertama masuk surga adalah Abu Bakar Ash-Shidiq.”Apa kelebihan yang dimiliki Abu Bakar ra hingga Rasulullah saw mengatakan, “Jika seluruh iman orang Madinah ditimbang, masih lebih berat iman Abu Bakar seorang diri.” Padahal, di situ ada Umar bin Khattâb ra, ada Utsmân bin Affân ra, ada Ali bin Abi Thâlib ra, dan ada beberapa sahabat lainnya?

Kelebihan Abu Bakar ra dibanding sahabat lainnya karena dia adalah seorang “penggerak utama perubahan”. Karena lisannya maka Umar, Usman, Ali, dan sahabat lainnya masuk Islam dan memperjuangkan Islam sampai akhir hayatnya. Karena itu, dari sejak zaman Nabi saw sampai akhir zaman, siapa pun yang bersujud memohon rida Tuhannya, amalnya akan mengalir juga ke Abu Bakar ra. Inilah yang disebut amalan abadi yang mengalir terus-menerus ke penggerak utama perubahan. Begitu dahsyat amalnya seorang penggerak perubahan.

Berkaca dari hikayat Abu Bakar ra, sebagai penghuni utama surga karena ia menjadi seorang “penggerak utama perubahan”, maka sesungguhnya “penulis” juga adalah penggerak utama perubahan. Peradaban dibangun di muka bumi karena jasa penulis. Ilmu pengetahuan dan agama sampai ke tangan kita karena jasa penulis.

Kami berharap pembaca dapat menemukan inspirasi dan pelajaran berharga dari tulisan-tulisan Abah Gugun. Semoga warisan pemikiran beliau terus menginspirasi generasi mendatang untuk lebih mencintai dan melestarikan budaya kita. Terima kasih kami sampaikan kepada keluarga Abah Gugun yang telah mengizinkan publikasi tulisan-tulisan beliau, serta kepada semua pihak yang telah mendukung terbitnya buku ini. Selamat membaca!

Bandung, Juli 2024
Ruslan Ismail Mage

(Visited 7 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.