Sebuah kisah yang hampir semua orang tahu adalah tentang Adam dan Hawa, awal dari peradaban manusia. Kisah ini dimulai ketika kita masih tidak berdosa, sebelum kita menutup mata batin kita ribuan tahun yang lalu.

Dulu, kita tinggal di surga ketika mata batin kita masih terbuka. Ini tempat yang damai dan penuh sukacita, kebebasan, dan cinta yang abadi. Bagi kita, kisah Adam dan Hawa adalah kisah tentang cinta.

Di tengah-tengah surga, tumbuh dua buah pohon. Yang pertama adalah pohon kehidupan yang memberi hidup kepada segala sesuatu yang ada. Yang kedua adalah pohon kematian atau lebih dikenal sebagai pohon pengetahuan. Pohon pengetahuan itu begitu indah dengan buah yang ranum dan sangat menggoda.

Tuhan mengatakan, “Jangan dekat-dekat dengan pohon pengetahuan. Jika kalian memakan buah dari pohon itu, kalian mungkin akan mati.” Tentu saja tidak masalah. Tetapi, secara alamiah kita suka mengeksplorasi.

Kita bisa menebak siapa yang hidup di pohon itu. Pohon pengetahuan adalah rumah bagi seekor ular besar yang penuh dengan racun. Ular itu hanyalah simbol dari sesosok makhluk.

Ular yang hidup di pohon pengetahuan adalah seorang malaikat yang gagal. Sebelumnya, dia adalah malaikat terindah. Seperti yang kita tahu, malaikat adalah utusan yang menyampaikan pesan Tuhan, yaitu pesan kebenaran dan cinta. Tetapi, malaikat yang gagal itu tidak lagi menyampaikan pesan kebenaran. Dia menyampaikan pesan yang salah.

Pesan malaikat yang gagal itu adalah rasa takut, bukan cinta; menyampaikan kebohongan, bukan kebenaran. Bahkan, dalam kisah ini, malaikat yang gagal itu disebut Pangeran Kebohongan. Artinya, dia adalah seorang pembohong abadi. Setiap kata yang keluar dari mulutnya merupakan suatu kebohongan.

Pangeran Kebohongan itu hidup di pohon pengetahuan; di dalam buah dari pohon itu, yaitu pengetahuan yang telah terkontaminasi dengan kebohongan. Kita mendekati pohon itu dan bercakap-cakap dengan Pangeran Kebohongan. Kita tidak berdosa. Kita serba tidak tahu. Kita percaya kepada setiap orang.

Di sana hanya ada Pangeran Kebohongan. Dia adalah pendongeng pertama yang kita temui, makhluk yang sangat cerdas. Sekarang, kisahnya menjadi lebih menarik karena ular itu memiliki ceritanya tersendiri. Malaikat yang gagal itu berbicara, berbicara, dan berbicara. Kita mendengarkan, mendengarkan, dan mendengarkan.

Seperti yang Anda ketahui, ketika kita masih anak-anak, ketika kakek dan nenek kita bercerita, kita antusias mendengarkan semua yang mereka katakan. Itu sangat menggoda. Bahkan, kita ingin tahu lebih banyak. Tetapi, yang berbicara itu adalah Pangeran Kebohongan. Tidak diragukan lagi, tentunya dia berbohong. Kita tergoda oleh kebohongannya.

Kita percaya pada cerita malaikat yang gagal itu. Yang diceritakannya adalah suatu kesalahan besar. Artinya, Adam dan Hawa harus memakan buah dari pohon pengetahuan itu. Kita setuju dan percaya pada kebohongan itu. Kita menaruh iman di dalamnya.

Ketika kita menggigit buah khuldi, kita memakan kebohongan yang datangnya melalui pengetahuan. Lalu, apa yang terjadi ketika kita memakan kebohongan? kita mempercayainya dan “Boom!” kebohongan itu hidup di dalam pikiran kita.

Pikiran adalah tanah yang subur bagi konsep, ide, dan pendapat. Jika seseorang memberi tahu kita suatu kebohongan dan kita percaya itu, kebohongan akan berakar di dalam pikiran kita. Di sana, ia tumbuh semakin besar dan kuat seperti sebatang pohon.

Satu kebohongan kecil saja bisa sangat menular. Ia akan menyebarkan bijinya dari orang ke orang ketika kita berbagi cerita dengan orang lain. Nah, kebohongan itu masuk ke dalam pikiran kita dan mereproduksi secara keseluruhan Pohon Pengetahuan itu di dalam kepala kita, yaitu segala sesuatu yang kita ketahui.

Tetapi, apa yang sesungguhnya kita ketahui? Sebagian besar merupakan kebohongan. Pohon pengetahuan merupakan simbol yang sangat kuat.

Siapa pun yang memakan buah dari pohon pengetahuan itu akan memiliki pengetahuan tentang baik dan jahat; mereka akan tahu perbedaan antara apa yang benar dan apa yang salah, apa yang indah dan apa yang buruk. Mereka akan mengumpulkan semua pengetahuan dan mulai melakukan penilaian.

Itulah yang terjadi di kepala kita. Simbolisme buah khuldi adalah setiap konsep kebohongan, sama seperti buah dengan bijinya. Ketika kita menempatkan buah di tanah yang subur, biji buah tersebut akan menciptakan pohon lainnya. Pohon itu akan mereproduksi lebih banyak buah lagi. Dari buah tersebut, kita tahu pohonnya.

Sekarang, kita memiliki pohon pengetahuan masing-masing, yaitu sistem kepercayaan pribadi kita. Pohon pengetahuan merupakan struktur dari segala sesuatu yang kita percayai. Setiap konsep, setiap pendapat, membentuk cabang-cabang kecil dari pohon tersebut hingga sempurnalah pohon pengetahuan.

Segera setelah pohon ini hidup dalam pikiran, kita mendengar malaikat yang gagal itu berbicara dengan sangat lantang. Malaikat gagal yang sama, yaitu Pangeran Kebohongan, hidup di dalam pikiran kita.

Kisah Adam dan Hawa menjelaskan bagaimana manusia terjatuh dari mimpi surga ke dalam mimpi neraka; diceritakan kepada kita bagaimana kita berada seperti saat ini. Cerita yang biasa kita dengar selalu mengatakan bahwa kita hanya makan satu gigitan saja dari buah khuldi tersebut mungkin tidak benar. Mungkin kita memakan semua buah dari pohon itu. Kita menjadi sakit karena begitu penuh dengan kebohongan dan racun emosional.

Manusia memakan setiap konsep, setiap pendapat, dan setiap cerita dari pembohong yang dikatakan kepada kita, meskipun itu tidak benar. Saat itu, mata batin kita ditutup dan kita tidak bisa lagi melihat dunia dengan mata kebenaran. Kita mulai melihat dunia dengan cara yang berbeda. Semuanya berubah bagi kita.

Dengan pohon pengetahuan yang ada di kepala kita, kita hanya bisa memahami kebohongan. Kita tidak lagi tinggal di surga karena kebohongan tidak memiliki tempat di surga. Beginilah manusia kehilangan surganya; kita bermimpi tentang kebohongan.

Kita menciptakan mimpi seluruh umat manusia, baik secara individual maupun kolektif, semua berdasarkan pada kebohongan. Sebelum manusia memakan buah dari pohon pengetahuan, kita hidup dalam kebenaran. Kita hanya berbicara tentang kebenaran. Kita hidup di dalam kasih sayang tanpa rasa takut.

Setelah kita makan buah pengetahuan tersebut, kita mulai merasa bersalah dan malu. Kita mulai menilai diri sudah tidak cukup baik lagi. Tentu saja, kita menilai orang lain dengan cara yang sama. Dengan penilaian tersebut, muncullah perbedaan, pemisahan, dan kebutuhan untuk menghukum dan dihukum.

Untuk pertama kalinya, kita tidak lagi baik kepada satu sama lain; kita tidak lagi menghormati dan mencintai semua ciptaan Tuhan. Sekarang kita menderita dan kita mulai menyalahkan diri kita sendiri, menyalahkan orang lain, dan bahkan menyalahkan Tuhan.

Kita tidak lagi percaya bahwa Tuhan adalah sumber kasih sayang; kita percaya bahwa Tuhan akan menghukum kita. Itu tidaklah benar. Tetapi, kita percaya itu dan kita mulai memisahkan diri dari Tuhan.

Dari sini, kita mulai mengerti apa yang dimaksud dengan original sin. Original sin adalah percaya kepada kebohongan yang berasal dari ular yang ada di pohon pengetahuan, yaitu dari malaikat yang gagal.

Arti dari kata dosa adalah “untuk melawan”. Segala sesuatu yang kita katakan, segala sesuatu yang kita lakukan melawan diri kita sendiri adalah sebuah dosa. Berdosa bukan berarti menyalahkan atau hukuman moral. Berdosa adalah percaya kepada kebohongan dan menggunakan kebohongan tersebut melawan diri kita sendiri. Dari dosa pertama itulah dosa-dosa kita yang lain mulai muncul.

Berapa banyak kebohongan yang kepala Anda dapat? Siapa yang menilai, siapa yang berbicara, siapa yang memiliki semua pendapat itu?

Jika Anda tidak mencintai, itu karena suara dalam pikiran tidak membiarkan Anda untuk mencintai. Jika Anda tidak menikmati hidup, itu karena suara itu tidak membiarkan Anda untuk menikmatinya. Tidak hanya itu, pembohong dalam kepala kita memiliki kebutuhan untuk mengekspresikan semua kebohongannya, untuk menceritakan kisah tersebut.

Kita berbagi buah dari pohon kita dengan orang lain. Karena orang lain juga memiliki jenis kebohongan yang sama; sama-sama dalam kebohongan, kebohongan itu menjadi lebih kuat.

Sekarang kita bisa lebih membenci. Sekarang kita bisa lebih menyakitkan. Sekarang kita dapat mempertahankan kebohongan tersebut dan menjadi fanatik mengikuti kebohongan kita itu. Bahkan, manusia menghancurkan satu sama lain atas nama kebohongan.

Siapa yang bisa bertahan hidup dalam hidup kita? Siapa yang membuat pilihan-pilihan dalam hidup kita? Jawabannya sudah jelas.

Sekarang kita sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala kita. Pendongeng ada di sana; suara yang ada di dalam kepala kita. Suara yang berbicara, berbicara, dan berbicara. Kita mendengarkan, mendengarkan, mendengarkan, dan memercayai setiap kata-katanya.

Suara itu tidak pernah berhenti memberikan penilaian. Menilai apa pun yang kita lakukan, menilai apa pun yang tidak kita lakukan, menilai apa pun yang kita rasakan, menilai apa pun yang tidak kita rasakan, menilai apa pun yang orang lain lakukan. Hal itu terus “bergosip” di kepala kita. Apa yang keluar dari suara itu? Kebohongan, hampir seluruhnya merupakan kebohongan.

Kebohongan-kebohongan itu menarik perhatian kita. Apa pun yang kita lihat hanyalah kebohongan. Itulah alasan kita tidak melihat realitas surga yang ada di tempat yang sama, pada waktu yang sama.

Suara di kepala kita bukan milik kita. Ketika kita dilahirkan, kita tidak memiliki suara itu. Suara di kepala kita datang setelah kita belajar bahasa, belajar sudut pandang yang berbeda, hingga semua penilaian dan kebohongan. Bahkan, ketika pertama kali kita belajar berbicara, kita hanya berbicara kebenaran. Tetapi, sedikit demi sedikit seluruh pohon pengetahuan tersebut diprogram ke dalam kepala kita dan pembohong besar itu akhirnya mengambil alih impian hidup kita.

Anda bisa lihat, pada saat ketika kita terpisahkan dari Tuhan, kita mulai mencari Tuhan. Untuk pertama kalinya kita mulai mencari cinta. Kita mulai mencari keadilan, keindahan, dan kebenaran.

Pencarian dimulai ribuan tahun yang lalu dan manusia masih mencari surga kita yang hilang. Kita sedang mencari kebenaran seperti yang dulunya ada sebelum kita percaya pada kebohongan: otentik, kejujuran, penuh cinta kasih, penuh sukacita. Yang benar adalah kita sedang mencari diri kita sendiri.

Anda tahu, memang benar apa yang Tuhan katakan jika kita memakan buah dari pohon pengetahuan tersebut, kita bisa mati. Kita memakannya dan kita mati.

Kita mati karena sejatinya diri kita sudah tidak ada lagi. Yang hidup di dalam kehidupan kita adalah pembohong besar, yaitu Pangeran Kebohongan, suara yang selalu ada di dalam kepala kita. Anda dapat menyebutnya sebagai berpikir. Saya menyebutnya sebagai suara pengetahuan. []

Diterjemahkan dari The Voice of knowledge, Don Miguel Ruiz.

(Visited 94 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Abah Iyan

Sosiopreneur, Writerpreneur & Book Publisher

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.