Tahukah kamu? Ada banyak caraku menanti kedatangannya tanpa rasa bosan. Seperti siang ini, duduk manis sembari menikmati kopiku perlahan. Ya, seperti yang kukatakan padanya, “Kala rindu, aku akan menemukan bayangmu dalam secangkir kopi di kedai ini.”
Entahlah, mengapa hujan datang terburu-buru. Mungkin sengaja untuk membuatku duduk berlama-lama di sini. Meskipun jas hujan memberiku pilihan rasional untuk beranjak pergi, kamu seakan-akan berbisik, “Jangan terburu-buru. Nikmati saja rasa yang ada, seperti rasa secangkir kopi yang ada di hadapanmu.”
Mungkin aku sudah gila berbicara dengan secangkir kopi. Namun, kamu mengajariku banyak hal tanpa harus bersusah payah menyimak bacot para motivator. Mungkin benar, yang hitam tak selalu kotor dan yang pahit tak selalu menyedihkan. Anak Jaksel bilang “healing“. Jika kina adalah obat malaria, secangkir kopi ini adalah obat malarindu.
Seruput pertama ibarat mantra. Seperti yang dia bisikkan, “Satu langkah kecil dari sebuah niat baik mampu membawa kita menuju sesuatu di luar imajinasi.” Untuk pertama kalinya aku membantah. “Kamu bukan imajinasi. Kamu nyata.”
Keluarga, teman, sejawat, dan kolega tidak akan pernah sama dengan secangkir kopi. Ia adalah sahabat sejati. Kamu tahu? Ketika kopi menjadi sahabat sejati, pagi bukan lagi sebuah misteri. Seperti dia yang selalu ada di hati, selalu mengisi hari-hari. Jauh di mata, dekat di hati.
Bagaimanapun juga, kamu hanya secangkir kopi. Jadi, tidak perlu terus mendikteku. Aku tahu cinta itu butuh dipelihara. Di dalam sepak terjangnya yang serba mengejutkan, cinta ternyata masih butuh mekanisme agar mampu bertahan. Ya, kami yakin mampu bertahan.
Titik-titik air hujan, lagu yang diperdengarkan, dan suara klakson yang sesekali terdengar dari luar sana: aku mendengar banyak suara. Namun, diammu berkata-kata.
Mengaduk kopi, mengadu sepi. Namun, kisahnya telah berganti. Tidak ada lagi patah hati. Dia sudah lebih dari cukup untuk melengkapi.
Filosopi Kopi
Kopi yang baik akan selalu menemukan penikmatnya. Yang mana kopi dan siapa penikmatnya, aku tidak peduli. Yang pasti, aku telah menemukannya. Dia telah menemukanku. [Bersambung]
