“Dalam gelap maupun terang, dalam suka maupun duka, api perjuangan Kartini harus tetap hidup, berkobar, untuk mewujudkan peradaban Indonesia yang adil, makmur, aman dan damai.”
Dr. Nila Sastrawati Hamsir, M. Si.
Aku, Buku, dan Sepatu
(lakon dalam diam)

I
Hari ini
Buku yang sama tahun kemarin
Terletak pada posisi yang juga sama saat itu
Seolah tersenyum genit menatapku
Mungkin merayuku
Karena kerinduan akan jejak misteri
perjalanan setahun
Sejak terakhir kumenjamahnya
Membawa dalam peraduan seperti
tahun-tahun kemarin.
II
Setelah hari itu,
Tanpa sengaja mataku menatap kearah
sepatu coklat
Yang terkesan lusuh, lama tak tersapu semir
yang akan membuatnya tak elok dipandang
Kali ini ia tanpa senyum
Sudah lama senyumnya hilang untuk ku
Mungkin ia marah
Raganya Lelah menopang tubuhku yang berat
Namun kuabaikan untuk membuatnya cantik
III
Setelah dua hari percakapan dalam diam itu
berlangsung
Sejenak kulirik meja dimana buku biasa
teronggok sepi
Beralih ke samping tangga dimana sepatu
meringkuk lusuh
Keduanya tak kutemukan
Mungkin kucing tua di rumah ini telah
menggigit dan membawanya pergi dengan
kelusuhannya.
Tawa cekikian memalingkan wajahku
Keduanya menatapku lucu di atas meja ruang
tamu seolah ada yang tidak pantas dalam
pikiranku
Terkekeh sembari mengguman
Teruslah dengan pikiran dan anggapan dunia
yang berseliweran entah milik siapa,
dan menenggelamkan pikiranmu sendiri
Buku terus berguman,
Serasa tubuh dengan pikiran beda pemilik
Terkungkung dalam konstruksi termarginalkan
tanpa akhir
Terus terpuruk dalam pikiran yang bukan
milikmu
Akhirnya menjadi kewajaran dengan status
sebagai obyek
Kutundukkan wajahku
Seiring dengan itu buku melompat
kepangkuanku
Masih dengan berguman lirih,
Bawa aku Kembali ke peraduanmu
Kutatap lebih dalam
Dan tatapanku menggiring ego
mengorengnya dalam pikiranku yg panas
Entah, aku tersinggung dalam diam ku
Atau rasa malu karena realitas yang diterima
sebagai kewajaran.
Sejenak melupakan sepatu yang diam melihat
lakon kami
Seolah yakin, esok dirinya akan menjadi cantik
kembali.
Sembari membayangkan
Sang pemilik berjalan dengan tubuh dan
pikiran dirinya.
III
Ahad pagi yang cerah
Dia masih tertidur pulas
Lembaran lembarannya telah lusuh
Namun senyumnya terkulum manis
Kuraih dan kuusap namanya
“Membincang Postfeminisme”
Sekelumit senyum RA Kartini terbayang
Perjuangan masih panjang
Perempuan dengan kisahnya masing masing
pada situasi yang dibentuk belum untuknya.
Jangan biarkan kegelapan kembali datang, jangan biarkan kaum wanita kembali diperlakukan semena-mena.
RA.Kartini
Pao2/ 210422

Happy Kartini’s day untuk semua perempuan di Indonesia! kejarlah apa yang kamu impikan. tetap semangat .
Nila Sastrawati
