(Owner Yayasan Ibnu Khotib Cipatat dan Kepala MI Al Bayan Mandiri)

Oleh: Ghinda Aprilia

Ade Sopian lahir di sebuah desa di Kabupaten Bogor pada tanggal 19 Februari 1983. Terlahir dari keluarga buruh tani yang sederhana dengan ekonomi kelas bawah. Buruh tani berbeda dengan petani. Buruh tani adalah pekerjaan musiman yang menggarap tanah/sawah milik orang lain. Dari mulai mencangkul, membajak, menanam, sampai memanen, dengan sistem upah harian. Ade Sopian adalah anak ke dua dari sepuluh bersaudara. Ibunya bernama Siti Sopiah dan bapaknya bernama Didi Jasmudi. Ade memiliki seorang kakak laki-laki, lima adik laki-laki dan tiga adik perempuan. Dua orang adik perempuannya merupakan anak kembar. 

a Ade (begitu biasanya saya memanggil) adalah keponakan dari kakak pertamaku. Ciri fisik a Ade ketika masih kecil badannya kurus, berkulit hitam, bahkan paling hitam diantara ponakan-ponakan saya yang lain. Sejak lahir jari-jarinya “borokan” dan bernanah. Akibat penyakitnya itu tubuh a Ade gatal-gatal dan bau amis yang menyengat. Saking banyaknya borok, membuat tangan a Ade sulit digerakkan. Saat itu ada salah satu sepupu saya yang suka usil. Dia menunjukkan ketidaksukaan terhadap a Ade kecil. Dia juga sering berkata yang tidak baik yang kadang-kadang saya juga merasa jengkel dengan sikapnya. Penyakit adalah ujian, siapa yang menghendakinya? Ga ada kan!

Kehidupan seorang buruh tani dengan sepuluh orang anak memang tidaklah mudah. Jatuh bangun, susah senang, pahit getirnya kehidupan datang silih berganti. Tidak jarang uluran tangan tetangga dan saudara selalu dibutuhkan oleh keluarga a Ade. Upah seorang buruh tani memang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Apalagi dengan jumlah anggota keluarga yang cukup banyak.

Sejak kecil hobi a Ade adalah bermain peran, seperti berceramah layaknya seorang ustadz didepan teman-teman seusianya. Bermain peran menjadi seorang guru didepan teman sebaya, serta berpidato layaknya seorang pejabat di depan rakyatnya. Kebiasaan ini rupanya yang akan menghantarkannya kelak menjadi seorang pendidik. Ketika masa kanak-kanak a Ade cenderung agresif. a Ade tergolong anak yang bandel dan susah diatur. Tidak jarang membuat anak tetangga menangis karena ulahnya serta sering memecahkan piring dan kaca rumah.

Saat usianya memasuki 7 tahun, a Ade mulai disekolahkan di SDN Muara 02. Sekolah tersebut memang satu-satunya sekolah yang berada dekat dengan tempat tinggal keluarganya. Tidak ada alat transportasi yang tersedia untuk menuju sekolah, setiap hari harus berjalan kaki untuk menuju sekolah tersebut. Saat SD a Ade sempat beberapa kali tidak naik kelas, karena sering sakit ketika mau menghadapi ujian kenaikan kelas. 

Ketika bersekolah di SDN Muara 02, a Ade aktif di berbagai kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka, Paskibra, dan Paduan Suara. Beberapa kali pernah menjadi petugas pengibar bendera bersama teman-temannya di Desa Cibunian saat perayaan HUT Kemerdekaan RI. Karena a Ade termasuk siswa yang aktif, a Ade beberapa kali menjadi utusan sekolah untuk mengikuti perlombaan baik tingkat Kecamatan maupun tingkat Kabupaten. Perlombaan yang pernah diikuti yaitu, Cerdas Cermat, Gerak Jalan, Siswa Teladan, Deklamasi Puisi, Pupuh, dan Lomba Tingkat (LT) Gerakan Pramuka. 

a Ade lulus SD tahun 1997. Perasaan bingung ketika ada yang nanya, apa yang akan dilakukan setelah lulus SD. Memang kondisi ekonomi keluarganya kurang mendukung untuk melanjutkan sekolah. Kondisi ini sering membuat a Ade murung dan kadang tidak mau keluar rumah. Keinginannya yang tinggi untuk bisa melanjutkan sekolah, berusaha untuk disampaikan kepada ibunya, walaupun agak berat untuk dilakukan. 

Akhirnya a Ade memberanikan diri untuk menyampaikannya kepada orang tuanya sambil berharap semoga saja ibunya mau mendukungnya untuk melanjutkan sekolah. Agak berat memang dengan kondisi ekonomi keluarga yang sangat lemah ditambah lagi dengan jumlah tanggungan 10 orang anak.

Setelah menemukan momen yang tepat, akhirnya a Ade menyampaikan keinginannya untuk melanjutkan sekolah ke ibunya. Alhamdulillah ibunya mendukung, sambil berlinang air mata ibunya berkata, “Lanjutkan sekolahmu De, Insya Allah umi akan berusaha semampu umi, umi mendukungmu”. Itulah bentuk dukungan kakak saya kepada a Ade. Ibunya merekomendasikan a Ade untuk melanjutkan sekolah ke MTs Muhammadiyah Ciasmara. Alasannya adalah kakaknya juga sebelumnya sekolah disitu. Selain itu alasan lainnya adalah karena di MTs itu ada seorang guru yang kebetulan sahabat dekat bapakku. Beliau adalah bapak H. Burhanudin Soleh (Alm). 

Akhirnya a Ade melanjutkan sekolah ke MTs Muhammadiyah Ciasmara. Dia mendaftar sendiri ke sekolah tersebut tanpa didampingi oleh orang tuanya. Agak sedih juga kalau melihat teman-temannya yang lain, dihari pertama saat mendaftar rata-rata mereka diantar sama orang tuanya untuk sekedar menitipkan putra-putrinya kepada para guru di sekolah tersebut.

Hari-hari terus berlalu, lingkungan sekolah baru mulai membuat a Ade betah. Akan tetapi ternyata sikap agresifnya tidak hilang, malah semakin bertambah agresif. Beberapa kali pernah ikut terlibat perkelahian dengan anak-anak sekolah lain. Tapi Alhamdulillah walaupun a Ade termasuk siswa yang agresif, Dia selalu menjadi utusan sekolah untuk mengikuti berbagai perlombaan seperti lomba pupuh, lomba deklamasi puisi, pidato, sampai LT Gerakan Pramuka. Saat di MTs, a Ade selalu masuk peringkat tiga besar dikelasnya.

Tiga tahun berlalu, tepatnya pada tahun 2000 akhirnya a Ade lulus dari MTs Muhammadiyah Ciasmara. Lulus dengan nilai Ujian Nasional terbaik ke dua, tentu membuat a Ade semakin bersemangat untuk terus melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Akhirnya a Ade kembali menyampaikan keinginan tersebut ke ibunya. Pada dasarnya ibunya mendukung, tapi beliau agak ragu apakah a Ade bisa melanjutkan sekolah sampai jenjang SMA, yang tentunya memerlukan biaya yang cukup besar.

Setelah bermusyawarah dengan bapak dan ibunya. Kesimpulannya a Ade tidak jadi melanjutkan sekolah karena faktor biaya. Perasaan kecewa dan sedih sangat terlihat jelas diraut wajahnya. Akhirnya a Ade pergi ke Tangerang untuk menemui pamannya (adik saya) yang sudah cukup lama tinggal di sana. Tujuannya untuk mencari pekerjaan. Namun sesampainya disana, a Ade disuruh pulang lagi, dan disuruh untuk melanjutkan saja sekolah di Bogor. “Masalah biaya nanti saja kita pikirkan bareng-bareng”. Kata adik saya. Pada akhirnya a Ade mendaftar di MA Mu’allimien Muhammadiyah Leuwiliang Bogor, dan bersekolah disana sampai lulus.

Tahun 2003 a Ade lulus dari MA Muallimin Muhammadiyah Leuwiliang. Semangat belajarnya kembali menggebu. Ditengah keterbatasan ekonomi kedua orang tuanya, a Ade terus semangat untuk melanjutkan sekolah sampai setinggi-tingginya. Setelah lulus SLTA, a Ade tanpa pikir panjang langsung akan mengerjakan apapun yang bisa membuatnya kuliah. Setelah melalui ikhtiar yang cukup melelahkan, akhirnya a Ade mendapat pekerjaan sebagai guru di MI Muhammadiyah 01 Ciasmara. Walaupun sebetulnya guru bukanlah cita-cita yang ingin dicapai a Ade.

Dua tahun telah berlalu, a Ade menikmati posisi barunya sebagai guru. Di tahun 2005 a Ade memberanikan diri untuk daftar kuliah di STKIP Muhammadiyah Bogor. Akhirnya impian untuk menjadi mahasiswa sejak kecil tercapai di tahun tersebut. Selama berkuliah di kampus tersebut, a Ade membiayai dirinya sendiri dan dibantu oleh saudara-saudaranya yang sudah bekerja. Tahun 2018 a Ade pindah kampus ke UNMA Banten, hingga akhirnya lulus dan mengikuti Wisuda di UNMA Banten pada tahun 2010. Seperti mimpi memang, menjadi anak dan cucu pertama yang diwisuda dan memperoleh gelar sarjana, tentu ini sebuah kebanggaan, apalagi dengan latar belakang keluarga sebagai buruh tani.

Selepas lulus S1, tahun 2011 a Ade mendapat dorongan dari keluarga dan masyarakat Desa Cibunian untuk mendirikan sekolah di kampungnya. Hal ini dikarenakan, banyak anak-anak yang putus sekolah di Desa tersebut dengan alasan jarak tempat tinggal ke sekolah terdekat cukup jauh dan ditempuh dengan jalan kaki. Mengingat untuk Desa Cibunian belum dilintasi angkutan umum.

Keinginan tersebut akhirnya disampaikan juga ke saya (Ghinda) yang saat itu sedang bekerja sebagai BMI di Hongkong. Tanpa pikir panjang saya langsung menyetujui dan mendukung pendirian sekolah tersebut. Bahkan untuk mendukung pendanaan, bukan hanya uang infaq yang saya gunakan untuk operasional sekolah, bahkan uang pribadi pun saya kirimkan juga.

Akhirnya A Ade dengan dibantu oleh rekan-rekannya di organisasi Remaja Masjid Al Barokah (REISMA) berhasil mendirikan Yayasan Ibnu Khotib Cipatat dan sebuah sekolah dasar yang diberi nama MIS Al Bayan Mandiri. Sejak saat itulah a Ade mengepalai MIS Al Bayan Mandiri hingga sekarang. Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya sekolah tersebut memperoleh izin pendirian dan izin operasional di tahun 2015. Dan pada tahun 2018 untuk pertama kalinya mengikuti program akreditasi dan mendapat nilai Baik.

Tahun 2013, tak terasa usia a Ade sudah meninggalkan masa remajanya. Sibuk mengurusi ummat sampai lupa bahwa usianya sudah 29 tahun dan belum menikah. Dan mungkin kalau tidak diingatkan keluarga, a Ade sampai usia 30 pun belum tentu menikah. Atas nasihat keluarga akhirnya a Ade melangsungkan pernikahan di usianya yang ke 29. Sempat bingung juga ketika ditanya menikah, mengingat a Ade tidak seperti pemuda-pemuda kebanyakan. A Ade tidak pernah pacaran apalagi apel ke rumah teman perempuan.

Pertemuannya dengan teh Pipit (isteri a Ade) juga terbilang singkat dan unik. Mereka bertemu disebuah toko foto copy dan entah kenapa langsung akrab begitu saja. Setelah membangun komunikasi yang cukup intens, sepertinya ada kecocokan diantara mereka. Diketahui teh Pipit ternyata seorang yatim piatu, mungkin itu salah satu alasan a Ade memilih teh Pipit sebagai isteri, mengingat a Ade sangat peduli dengan anak-anak yatim.

Perjalanan rumah tangga a Ade terus mengalir begitu saja. Tak terasa dua tahun berlalu a Ade sudah dikaruniai seorang putra yang diberi nama Fatih Sofyan. Semangat belajar a Ade ditularkan juga kepada istrinya, karena walaupun sudah menikah, ternyata teh Pipit mampu diberi motivasi hingga mampu menyelesaikan S1 nya di STKIP Muhammadiyah Bogor.

Di tahun 2018 a Ade kembali ingin melanjutkan studinya. Mimpinya sejak kecil ingin kuliah di sebuah kampus ternama belum padam. Akhirnya a Ade memutuskan untuk kuliah mengambil S2 di SPs UHAMKA Jakarta. Setelah melalui perjuangan panjang, a Ade berhasil menyelesaikan S2 nya pada tahun 2021 lulus dengan nilai sempurna “Cumlaude”. Melihat semangat belajarnya yang tinggi, tidak menutup kemungkinan a Ade akan kembali melanjutkan studinya hingga S3 di tahun-tahun mendatang. Semoga saja.

Berbekal ijazah S2 yang sudah ditangan, a Ade mencoba ikut mendaftar seleksi menjadi Fasilitator Daerah (Fasda) Kabupaten Bogor. Berbagai tahapan seleksi pun diikutinya dengan serius hingga akhirnya a Ade pun lulus menjadi seorang fasda. Sampai tulisan ini dibuat, a Ade masih harus berbagi waktu untuk menjalankan tugas sebagai fasda dan mengurus MI Al Bayan Mandiri. Adapun tugas fasda adalah berkeliling ke tiap Kecamatan di Kabupaten Bogor, dan bertindak sebagai narasumber di kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) para guru.

Selain bertugas sebagai fasda, a Ade juga aktif di organisasi profesi kepala madrasah di Kecamatan Pamijahan (KKMI). Bahkan a Ade mengetuai organisasi KKMI tersebut untuk masa bakti 2021-2024.

Energi positif a Ade terus ditularkan ke adik-adik dan sepupu-sepunya, hingga tahun 2022 ini, keluarga Ibnu Khotib (penamaan keluarga a Ade) sudah berhasil mencetak 9 sarjana S1, bahkan dua diantaranya sedang menyelesaikan program S2. Kedepan  sarjana di Ibnu Khotib akan terus bertambah, mengingat saat ini pun masih ada 4 lagi adik dan sepupunya nya yang sedang kuliah S1.

Lahir dari keluarga ekonomi lemah, bukan alasan untuk tidak mendapatkan pendidikan yang layak. A Ade sudah membuktikannya, dengan ketelatenan dan semangat juang yang tinggi, bukan sebuah hal yang mustahil bisa kuliah sampai S2 dan bahkan mungkin beberapa tahun mendatang bisa sampai S3. Semangat ini yang harus tetap dijaga, dan ditularkan kepada generasi muda saat ini.

(Visited 197 times, 1 visits today)

By Ghinda Aprilia

Sebaik-baik hidup bisa berguna untuk diri sendiri dan orang lain.

2 thoughts on “Memoar Ade Sopian, M.Pd.”
  1. Hatur nuhun manini, masih diraba-raba. Tentu ini tak luput dari gemblengan Manini, hatur nuhun, sehat selalu nggih!🌹💪🙏❤️

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.