Jauh dari keluarga, apalagi buah hati, bukan hanya kangen, tetapi sakit rasanya. Apalagi menjelang Ramadan dan Lebaran seperti ini, duh rasanya seperti campur aduk. Bawaannya ingin mewek. Bagaimana tidak? Ini adalah Ramadan dan Lebaran yang ke-15 di Hong Kong.
Alhamdulillah, aku bisa menjalankan ibadah puasa dan aktivitas sehari-hari seperti halnya di Indonesia. Hanya ada yang berbeda di saat makan sahur. Aku makan sahur dalam keadaan gelap-gelapan. Mungkin tidak hanya aku, tetapi teman-teman yang lain di rantau ini juga mengalami hal yang serupa. Namun, kegelapan tidak mengurangi nikmatnya makan sahur, justru jadi lebih bersemangat menjalankan ibadah puasa.
Pun saat berbuka puasa. Sebelumnya, di majikan-majikan yang lain, aku tidak berani makan duluan. Cukup minum air putih. Tetapi, di majikan yang sekarang ini bebas. Lagi pula mereka tidak ada di rumah. Tuan pulang kerja pukul 22.
Di bulan yang penuh berkah ini, aku masih bisa ikut kajian walau secara daring, tadarus walau masih beberapa juz karena berhalangan selama sembilan hari. Tentu menjadi kebahagiaan tersendiri karena di Hong Kong ini tidak semua pekerja migran bisa menjalankan ibadah salat atau puasa.
Seperti biasa, kegiatan hari liburku di bulan Ramadan adalah menjemput zakat fitrah dari teman-teman pekerja migran. Itu aku lakukan dari pagi hingga pukul 21. Jauh-jauh hari, aku sudah minta izin kepada Koko untuk mendapatkan hari libur secara full di bulan puasa.
Secara pribadi, tahun ini agak berbeda. Biasanya di tabungan infak selalu tersedia saldo. Namun, karena uang sudah dipakai untuk membangun gedung baru Al Bayan. Alhamdulillah, tiba pada waktunya ternyata bisa juga memberi santunan. Ya, di bulan suci ini, aku tidak memikirkan baju baru anak, tetapi bagaimana caranya bisa menyantuni yatim piatu dan duafa. Dengan istikamah dan kerja keras, alhamdulillah bisa membuahkan hasil.
Aku sudah terbiasa lebaran di rantau. Kami biasa merayakan bersama teman-teman seperjuangan. Melepas lelah, bergembira menyambut hari kemenangan. Dalam perencanaanku, waktu yang sempit ini bisa kami gunakan untuk berkunjung ke grup Buruh Migran Cerdas (BMC) di pagi hari dan grup Katalis Madani Filantropi (KMF) di siang hari.
Aku pun sudah menyiapkan daftar menu yang akan dimasak. Persiapan belanja sudah kulakukan sejak Selasa. Terbayang di hari spesial bisa memasak makanan kesukaan teman-teman. Sudah kangen hati ini untuk bisa berkumpul. Aku pun sudah menyebar undangan via WhatsApp. Tidak hanya teman organisasi, tetapi juga teman-teman pekerja migran lainnya.
Namun, takdir berkata lain. Setelah tahu tubuh ini minta diperhatikan, aku urungkan niat untuk bertemu dengan teman-teman. Masakan yang sudah jadi kutitipkan kepada teman. Begitu pun yang masih mentah. Membuat lontong dan sayur asem kesukaan teman-teman hanya sebatas wacana.
Hari ini, 8 Mei, seharusnya aku berada di tengah-tengah mereka. Namun, aku tetap memantau persiapan dari kejauhan. Untuk setiap undangan yang menghubungi, aku arahkan kepada teman-teman yang ada di lokasi.
“Teh, posisi dimana?” Pertanyaan yang sama dari beberapa teman.
“Lapangan rumput pintu pertama, belok kanan!” Tak lupa aku beri nomor hape teman-teman yang ada di sana. Ada perasaan bersalah, tetapi aku tidak bisa memaksakan diri untuk datang.
Ya, siang ini ada acara halalbilahal organisasi KMF Hong Kong. Jauh sebelumya, kami semua sudah merencanakan acara dengan rapi. Namun begitu hari H , qadarullah justru aku yang tidak bisa hadir.
Aku hanya bisa berbaring lemah tiada daya. Dalam hati ingin sekali berjumpa dan bersua, bersalaman di hari fitrah ini. Rindu untuk bercengkrama menjalin tali silaturahmi tentunya itu niat yang paling utama. Kerinduan ini membuat hatiku sedih dan down. Namun, alhamdulillah sejenak kemudian aku pun tersadar, mungkin ini ujian bagiku agar di hari yang fitrah ini bisa banyak mengevaluasi diri.
Ketika aku sedikit melamun membayangkan bisa bertemu dengan teman, tiba-tiba hape-ku berdering. perlahan kuangkat, walau keadaan terbaring.
“Assalamu’alaikum, Teteh. Gimana keadaannya sekarang?”
Jelas sekali teman-teman menanyakan tentang keadaanku, sudah membaik atau belum, Alhamdulillah, akhirnya rasa rindu itu pun terobati. Air mataku tak terbendung, akhirnya tumpah melihat teman-teman berkumpul, melihat semua berbahagia di hari yang fitrah. Aku menangis bukan karena menyesali kondisi sedang sakit atau tak bisa menghadiri acara tersebut. Aku menangis karena haru bisa melihat semua orang berbahagia.
Salut untuk semuanya, berinisiatif sendiri-sendiri tanpa harus disuruh. Kekompakan terlihat selaras dengan suasana gembira. Begitu banyak hidangan yang tersedia. Masing-masing angota mengambil peran penting di hari itu. Tamu-tamu undangan pun mulai berdatangan, bersalaman satu sama lain, menyapa, dan mempersilakan untuk duduk dan menikmati hidangan yang tersedia. Sungguh, ini membuatku bahagia dan haru. Terbersit rasa syukur yang tiada terhingga. Alhamdulillah, ya Allah, semua kemudahan atas izin-Mu.
Acara utama, yaitu membaca Yasin dan doa bersama pun digelar. Semua bermunajat agar kami mendapatkan rida dan keberkahan umur, waktu, keberkahan dalam organisasi KMF ini.
Meski aku tak bisa hadir, aku bisa melihat foto-fotonya dan video acara yang teman-teman share di grup. Bagiku, ada kebahagian tersendiri yang tak bisa kusembunyikan, terutama ketika melihat kebersamaan dan kekompakan teman-teman tetap terjaga.
Terima kasih untuk teman-teman semua atas kebersamaan dan kerja samanya. Tujuan utama kita untuk saling bahu-membahu membantu sesama karena mengharap rida Allah Swt. Semoga kebersamaan ini bisa mengantarkan kita ke Jannah-Nya.
Tahun depan, aku ingin berlebaran bersama keluarga tercinta. Harapanku, ini adalah lebaran terakhir di Hong Kong. []
