Adik saya bernama lengkap Murobattoh Annas akrab disapa Annas, suami dari Winda Pranesti umur 30 tahun yang sekarang menderita sakit kanker payudara, payudara kanan dan kiri sudah diangkat. Sekarang ini masih dalam perawatan dokter di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Jl. Jend. Sudirman No.Km, 3,5 RW.5, Sekip Jaya, Kecamatan Kemuning, Kota Palembang, Sumatera Selatan 30126

Dalam tulisannya, Annas sapaan akrab Murobattoh Annas mengatakan, Winda itu orang baik, harus berjuang melawan kanker payudara setelah operasi pengangkatan kedua payudaranya.

Melihat tangis dan sakit yang istrinya rasakan sangat menghancurkan hatinya. Anas merawat dan menjaga istrinya itu selama 24 jam karena dia sudah tidak bisa berjalan disebabkan mengalami pembengkakan di kedua tangan dan kaki.

Lanjut Annas mengatakan, untuk buang hajat (besar ataupun kecil) di tempat tidur menggunakan pispot, belum lagi, adik saya Anas ini merawat kedua anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Anak pertama laki-laki berusia 6 tahun dan anak keduanya perempuan berusia 4 tahun

Pada Desember 2020 awal, ada benjolan di payudara kanannya tapi ia merahasiakan ke suaminya (Anas) entah karena apa, namun 6 bulan kemudian baru ia menceritakannya yang ternyata sudah stadium 3B, banyak pertimbangan untuk memberanikan diri operasi pengangkatan.

Akhirnya di bulan Desember 2021 baru operasi pertama namun berselang 2 minggu benjolan muncul lagi di payudara kiri membuat istrinya (Winda) drop sekali terlebih lagi saat dokter akan mengoperasi ke 3 kalinya dibagian perut, tapi ia memilih Radioterapi namun gagal saat pemasangan masker badan ke papan terapi.

Foto: Winda Pranesti saat dirawat di RSUP Dr. Muhamad Hoesin Palembang

Melihat hal tersebut perasaan bingung, stress, jenuh dan emosi bercampur di diri kami sekeluarga, metode alternatif pun sudah di tempuh namun tidak tuntas tidak berselang lama kami kembali memutuskan untuk operasi ke-3 yang sebelumnya istri sempat batuk dan sesak nafas di bulan Ramadhan 2021.

“Seminggu setelah lebaran kami mendapat kabar dari hasil Rongten kalau sel kanker sudah sampai paru-paru disitulah penyebab batuk dan sesak nafas tadi karena kedua paru berisi cairan yang dihasilkan kanker,” kata Anas dalam ceritanya.

Menurutnya, sekarang dada kanan tak kunjung mengering luka operasinya, malah muncul benjolan bernanah yang harus di tutup perban tiap harinya, ditambah pasang selang IPC di kanan dan kiri badan untuk mengeluarkan cairan dari kedua paru-paru, begitu juga tabung oksigen tidak bisa lepas dari dirinya.

“Banyak waktu sudah kami luangkan, banyak usaha sudah kami lakukan, banyak ikhtiar sudah kami maksimalkan, namun sampai saat saya menulis inipun istri masih di opname dan hanya saya seorang mengurusnya dirumah sakit,” tulis Murobatthoh Annas.

Ia menuturkan bahwa selama merawat istrinya, pekerjaan sehari-hari sebagai desain grafis/percetakan sudah tidak karuan, anak-anak diurus oleh ibu dan kakaknya yang tentunya tidak sepenuhnya terurus karena mereka punya kehidupan masing-masing, uang entah kemana, setiap saat sangat saya butuhkan.

“Saya benar-benar butuh bantuan, kalaupun tidak bisa dana, setidaknya motivasi dan doa dari saudara-saudara semua supaya istri saya bisa melewati ini. Tolong bila berkenan mohon doa untuk kesembuhan istri saya. Saya yakin Allah SWT akan membalas kebaikan saudara semua, semoga Allah mengirimkan berkah-Nya melalui teman-teman, Ia tidak akan membiarkan istri dan saya berjuang menghadapi ini sendirian,” pesan Annas.

‘Tolong doakan agar Winda Pranesti (istri) bisa sehat seperti sediakala,” pinta Murobatthoh Annas.

“Semoga Allah SWT memberkati kita semuanya, mukjizat pasti ada untuk kesembuhan istri saya, Aamiin,” pintanya haru.

Setelah membaca tulisan adik saya diatas tadi, tidak banyak kata-kata bisa terucap. Hanya menghela nafas dalam-dalam sambil sesekali mengelus dada. Betapa beratnya ujian yang mereka jalani.

Foto: Terpasang selang IPC di kanan dan kiri badan Winda Pranesti untuk mengeluarkan cairan dari kedua paru-paru

Terpisah jarak ruang dan waktu membuat saya tidak bisa menjenguknya langsung, padahal baru saja saya cuti ke Jawa Timur, sementara adik-adik saya posisinya di Palembang, saya berdomisili di Makassar. Andai ada jalur darat dari Makassar ke Palembang pengen banget kami membesuk kondisi istri dari adik saya ini.

Pasalnya untuk ke sana (Palembang) jalur tercepatnya hanya melalui udara, ya naik pesawat terbang. Itupun transit di Bandara Sotta Tangerang, baru naik pesawat terbang lagi ke Palembang.

Demikian jalur laut, lebih melelahkan lagi kudu turun Tanjung Priok Jakarta, kemudian naik bus nyebrang Bakahueni Lampung sebelum ke Palembang. Mudah-mudahan Allah SWT memberi rejekinya yang tidak disangka-sangka, sehingga saya bisa lagi menginjakkan kaki di Bumi Sriwijaya dengan kuliner empek-empeknya.

Pesan untuk diri saya sendiri dan pejuang kanker di tanah air tercinta, jangan pernah berhenti untuk berjuang karena penyakit ini harus di lawan agar kualitas hidup bisa lebih baik.

Selain itu, untuk saudara-saudara kita di rumah, sebaiknya jangan sepelekan keluhan apa pun yang dirasakan dalam tubuh kita. Bisa jadi itu adalah sinyal bahwa ada masalah yang terjadi pada tubuh kita.

Ingat, lebih baik mencegah daripada mengobati dan lebih baik mendeteksinya lebih awal agar bisa diobati lebih cepat. Tidak ada penyakit yang tidak dapat disembuhkan, kecuali tua dan kematian.

(Visited 49 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: