Oleh: Andi Satia

Aku masih setia berdiri di Dermaga Pelabuhan Tobaku ,ketika kapal fiber kakak tercinta kami Bang RIM,
telah bertolak berlayar mengarungi samudra nan luas. Serasa hati, jiwa, dan perasaan kami hampa. Seluruh panca indra kami seakan lumpuh. Dia telah pergi membawa separuh jiwa dan kepingan hati kami.

Sebelum dia bertahta yang kedua kalinya di pelaminan rindu, terlebih dahulu sukma pesona nurani Bang RIM telah bersemayam di jiwa Bumi Patampanua. Dia telah hadir mengisi hari-hari kami lewat rumah jiwa di angkasa, Bengkel Narasi (BN.)

Setiap saat dia selalu memperdengarkan seruling jantungnya berdetak untuk kita semua, lewat dentuman suaranya yang menggelegar di telinga, serta memperlihatkan gambar garis penanya di atas pelangi yang indah, mengajak kami semua merangkai satu narasi dalam bentuk cerita yang menarik, sarat dengan motivasi.

Sekarang, kenangan itu kembali muncul, seakan menari di pelupuk mata. Waktu yang kami lewati selama 6 hari lamanya , bersama merajut kasih sayang, penuh tawa canda ria,kini semuanya telah terenggut oleh sang waktu. Akankah kebersamaan dan kebahagiaan itu dapat terukir kembali bersama sang waktu?

Kini rasa rindu bergelayut manja,seakan enggan untuk beranjak, karena kenangan indah tidak akan pernah sirna dalam ingatan. Dia akan abadi bersemayam di dasar kalbu,membuat aku selalu terkenang dan merindukannya setiap saat. Karena rindu dan kenangan adalah satu rasa yang selalu berkecamuk, merongrong jiwa yang resah,membuat aku tak berdaya menghadapinya .

Kenangan indah yang tercipta lewat danau lembah cinta, yang bernuansa biru, sebiru hati kami, membiru terhampar meredup,namun, cahaya cinta itu menyalakan sinarnya pada semua insan pemilik hati Bengkel Narasi (BN) Kolut yang hadir mengukir cerita indah bersama Bang RIM kala itu .

Akan kutitip rinduku di langit cinta bernuansa biru, pada sang idolaku, kakak tercinta Bang RIM.
di mana momen kebersamaan benar-benar mengharu biru hati kami, atas hadirnya Bang RIM di tengah-tengah kita semua. Dia sang inspirator jiwa,selaku founder Bengkel Narasi Indonesia , penulis buku motivasi dan akademisi.

Semoga perpisahan ini secepatnya akan bertaut kembali.

 Kolaka Utara, 6 Juni 2022

By: Astia Hilmi


     
(Visited 5,647 times, 1 visits today)
12 thoughts on “Titip Rindu di Langit Cinta Bernuansa Biru”
  1. Waoooo keren banget tulisannya puang Andi Satia… Setiap paragraf pilihan katanya sangat mengoda bagi pembacanya…opuji ladde..
    🌹🌹🌹👍👍👍👋👋👋

    1. Waah..tulisannya keren
      Momen kebersamaan yang begitu dalam dan penuh makna…
      semoga momen kebersamaan RIM dapat terjaga Aamiin..

  2. Makasi bunda Ros ,itulah ikatan kasih sayang yang kuat pada abangnya ,yg telah pergi membawa separuh jiwa & kepingan hatinya,

    1. Titip rindu di langit cinta bernuansa biru saya salut bunda andi satya tulisan nya bagus banget

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.