Dalam beberapa kesempatan menyunting naskah buku, banyak pelajaran yang bisa saya dapat. Untuk bisa menyunting, tentu saja kita harus mahir menulis terlebih dahulu. Dengan menyunting, otomatis kita menjadi lebih pintar karena kita pun harus menelusuri sejumlah informasi dan data yang disajikan di dalam naskah buku. Nah, terkait penelusuran informasi dan data, satu pelajaran berharga yang saya dapat adalah terasahnya logika kita terkait informasi dan data yang kemungkinan salah, tidak utuh/lengkap, bahkan terbukti palsu (fake) atau hoaks.

Suatu waktu, saya pernah menyunting naskah buku seorang pejabat di instansi pemerintah pusat. Maksudnya sih baik, mencantumkan informasi dan data yang sekiranya bermanfaat bagi pembaca. Tetapi, feeling saya berkata lain. “Sebentar, sepertinya harus ditelusuri dulu nih,” pikir saya. Alhasil, benar saja informasi dan data yang disajikan tersebut ternyata hoaks. Untung saja ter-filter. Jika tidak, apa kata dunia? Seorang pejabat pemerintah turut menyebarkan hoaks. Saya pun akan terseret karena menerbitkan buku yang memuat informasi dan data hoaks.

Di lain kesempatan, saya menyunting naskah buku bergenre sains islami. Dalam naskah, tercantum sebuah foto yang menunjukkan tanda-tanda kebesaran ciptaan Tuhan. Sekali lagi, feeling saya berkata lain. Benar saja, foto tersebut adalah hasil editan. Niatnya sih bagus, ingin menguatkan pesan tentang keajaiban ciptaan Tuhan. Namun, ketika fotonya sudah diedit sedemikian rupa, tentu saja dikategorikan sebagai hoaks. Di sini, saya tidak bisa mengatakannya sebagai white lie. Jadi, foto tersebut akhirnya di-take down.

Kemudian, saya menerung sejenak. Betapa banyak artikel/berita yang dibagikan oleh teman-teman di media sosial. Tanpa berpikir panjang, mereka “copas” tautannya, lalu diberi bumbu copywriting untuk menguatkan pesan yang ingin mereka sampaikan. Apa yang terjadi? Artikel/beritanya satu, tetapi tafsirannya jadi bermacam-macam sesuai kepentingan si penerus (forwarder) pesan dan orientasi pemikirannya masing-masing. Masih bagus jika artikel/berita yang dibagikan itu bersumber dari media yang terpercaya. Sayangnya, sumber media yang terpercaya pun tidak lepas dari “selera” redaksi dan kepentingan yang tersirat.

Bukan hanya artikel/berita saja, gambar-gambar yang sifatnya infografis dan meme pun dengan mudahnya di-share. Hati-hati, isinya belum tentu valid semua. Bahkan, dengan teknik grafis atau manipulasi teks/gambar/foto, dengan mudahnya produk grafis hoaks tercipta. Lalu, kita dengan polosnya membagikan/menyebarkannya.

Saya pernah berdiskusi dengan seorang teman. “Sampaikanlah walau hanya satu ayat” menjadi dalilnya untuk berdakwah di media sosial. Menurut hemat saya, membagikan informasi dan data untuk tujuan yang baik dan mengedukasi masyarakat tidaklah salah. Namun, saya tidak setuju dengan aktualiasi diri seakan-akan merasa sebagai “pahlawan” jika sudah membagikan informasi dan data yang dianggapnya penting/baik/benar.

Lalu, harus bagaimana dong? Saran saya, mulailah menulis artikel/berita sendiri. Kuasai semua informasi dan data yang kita sajikan. Pastikan tidak mengandung unsur negatif seperti SARA dan hoaks. Siapkan ilustrasi/foto/gambar/infografis sendiri atau pastikan kita ambil dari sumber yang valid. Termasuk di sini pentingnya menggunakan produk grafis dan meme yang kita buat sendiri, berisikan identitas kita, bukan kita unduh dari sumber lain. Buatlah saluran publikasi kita sendiri. Terakhir, bagikanlah tautannya, beri copywriting sendiri dengan bijak. Dengan demikian, kita menjadi orang yang well-literated. Kita menjadi sumber berita, informasi, dan data, bukan sekadar penerus (forwarder). Risiko hoaks akan berkurang dan kita bertanggung jawab sepenuhnya dengan apa yang kita bagikan.

jadi, kapan mau bertobat sebagai forwarder? []

(Visited 60 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Abah Iyan

Sosiopreneur, Writerpreneur & Book Publisher

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.