Akhir-akhir ini para pencinta aglaonema banyak mengeluhkan tanamannya mengalami busuk akar, lonyot daun, bahkan mati. Mencintai tanaman tidak sekedar bermodalkan hobi saja, tetapi harus memiliki pemahaman yang tepat dalam perawatannya. Apalagi jika sang ratu daun hanya dipajang di teras tanpa pencahayaan yang pas.

Pengalaman penulis selama menggeluti seluk beluk aglaonema, selain media tanam yang menjadi rumah aglaonema, teknik pencahayaan merupakan faktor yang teramat penting bagi kelangsungan hidupnya. Bahkan dibutuhkan perhatian lebih. Sesekali aglaonema harus dilakukan penjemuran pada matahari pagi dengan waktu yang tidak terlalu lama, sekitar 30 menit.

Setiap jenis tanaman aglonema memiliki karakteristik dan ciri khas bentuk daun yang berbeda, baik dari warna maupun coraknya. Hal itulah yang membuat harga bandrol bunga aglaonema juga bervariasi. Semakin langka dan menariknya corak warna daunnya maka harga pun akan lebih pantastis lagi.

Para kolektor dan pencinta tanaman hias rela merogoh kocek yang banyak hanya untuk memiliki bunga aglaonema tersebut. Bukan hanya untuk menyenangkan mata namun sudah menjadi terapi jiwa.

Cr: koleksi pribadi

Ternyata apapun itu butuh perawatan biar hasilnya memuaskan, tidak terkecuali aglaonema. Dalam proses merawatnya tentu saja dibutuhkan ilmunya dengan banyak membaca literatur tentang tanaman khususnya aglaonema.

Salah satu literatur yang sering penulis jadikan panduan dalam merawat aglonema yaitu buku “Galeri Aglaonema” yang menyajikan 303 aglaonema cantik sebagai inspirasi untuk mengenal lebih lanjut si ratu daun.

Dalam buku ini kita akan mendapatkan pengetahuan praktis tentang kiat memelihara aglaonema, tips memilih aglaonema, teknik menyilang aglaonema, dan cara memperbanyak aglaonema.

Pada dasarnya merawat tanaman ibarat merawat anak sendiri, butuh lahan yg baik, pupuk yang benar, perawatan yang teliti, dan butuh Ilmu yang mumpuni.
(Bersambung).
Lasusua, 16 juni 2022

(Visited 338 times, 2 visits today)
Avatar photo

By Rosmawati

Saya Rosmawati — bekerja di Perpustakaan Daerah Kabupaten Kolaka Utara, mengajar di Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara, dan aktif di komunitas Bengkel Narasi serta Pena Anak Indonesia (PAI). Tiga peran itu berjalan bersamaan, dan saya menjalaninya dengan sadar. Di perpustakaan, saya dekat dengan buku dan dengan orang-orang yang datang mencari sesuatu — entah itu pengetahuan, ketenangan, atau sekadar tempat duduk yang tenang. Di ruang kuliah, saya belajar lagi setiap kali mahasiswa mengajukan pertanyaan yang tak pernah saya duga. Di komunitas, saya menemukan alasan yang paling sederhana mengapa literasi itu penting: karena ada anak-anak yang ingin bercerita, tapi belum punya kata-katanya. Saya menulis di Bengkel Narasi. Kadang soal hal-hal besar, kadang soal yang kecil saja — tapi selalu dari apa yang sungguh saya lihat dan rasakan. Kalau Anda ingin mengobrol soal literasi, pendidikan, atau dunia menulis — mari. 📍 Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara ✍️ bengkelnarasi.com 📚 Perpustakaan Daerah Kab. Kolaka Utara 🎓 Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara

2 thoughts on “Merawat Sang Ratu Daun”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.