Bagiku ayah adalah pahlawan superstarku…dia bagaikan cahaya bintang yang jatuh dari langit ke dalam jiwaku yang berada dalam kegelapan. Meskipun ia galak bagai serigala namun ia tidak memakan anaknya, karena cita-citanya agar kelak anak-anaknya harus meraih masa depannya dan jauh melebihinya. Dia seringkali menasihatiku agar kelak “jangan sekali-kali menjadi budak orang lain, tapi harus mampu berdikari, mampu menafkahi diri sendiri, dan keluarganya. Aku buta huruf yang mengajarimu jadi kamu harus jauh lebih baik dariku kelak”.
Ayahku seorang eksmiliter Portugis berpangkat Letnan satu. Tindakannya dalam mendidik anak-anaknya di kala itu, dengan didikan sistem kolonial ala Portugis. Semuanya harus dilakukan dengan cara kekerasan “palmatori” (sebuah kayu yang dibuat sedemikian rupa untuk memukul telapak tangan muridnya). Begitulah caranya aku dididik dalam kekerasan kala itu. Aku saat itu baru tiga tahun udah bisa bicara dan berjalan, mulai diperkenalkan dan diajarkan dengan sebuah buku yang berjudul “Cartilha” dibaca “Kartila”.
Sebuah buku untuk para pemula yang ingin belajar membaca dan menulis dalam bahasa portu. ABCnya penuh dengan ilustrasi, setiap huruf mempunyai artinya masing-masing, demi memudahkan para pemula untuk bisa membaca. Saya mengenal huruf pertama kali dengan buku “Cartilha”, hingga aku benar-benar mahir membaca. Setiap kali aku membaca salah harus terima pukulan “palmatori” sebanyak 10 kali, kalau baca benar ya syukur, tapi kalau salah baca, makan lagi palmatori.
Demikianlah aku dididik dan dibesarkan ala sistem portu waktu itu. Tak ada waktu untuk bermain sesuka hati layaknya seperti anak-anak lainnya yang bermain sesuka hati mereka sampai puas. Dikala bapakku dinas atau keluar rumah aku udah bernafas lega, karena bisa bermain dengan teman-teman sesuka hatiku, tapi begitu dia muncul tiba-tiba di pintu gerbang, aku lansung mencari dan mengambil buku “Cartilha” untuk membacanya.
Kalau tidak nanti akan makan lagi “palmatori”. Dengan cara ini, setiap hari aku selalu belajar, sampai setahun begitu umur saya memasuki 4 tahun aku udah bisa membaca dan menulis, dan melahap semua buku-buku yang ada. Dari buku Cartilha, Gramática (Tata-bahasa portu), buku-buku rohani saya sikat habis.
Maka ketika di tahun 1976 invasi Indonesia memasuki wilayah TimLes, saya lari bersama orang tua saya lari ke hutan untuk berlindung, bersembunyi dan mengungsi di sana sambil sekolah di hutan, belajar memakai alat tulis arang dan pelepah bambu dengan guru saya yang bernama “Mateus de Oliveira”. Waktu itu saya berada di sebuah aldeia/dusun “Ramahana”, pernah dikunjungi oleh seorang menteri bernama “Serakey”.
Untuk menyambutnya saya dipercayakan untuk membawakan sebuah puisi yang berjudul “Patria ou Morte” agar dapat membacanya di hadapan pak Menteri “Serakey” di sebuah kamp militer “Amahopan”. Kala itu aku membacanya dengan baik, dengan bahasa portu yang intonasi layaknya seorang anak portu.
Aku bangga karena punya bapak galak yang telah mengajariku menulis dan membaca hingga kini aku membawa sebuah puisi di hadapan pak Menteri “Serakey” waktu itu. Setelah sambutan puisinya selesai semua orang memberiku salam dan menciumku di kala itu. Hari-hari berikutnya aku dipercayakan untuk jadi sekretaris pribadi bapakku sendiri yang waktu itu menjabat sebagai politisi FRETILIN.
Aku mengungsi bersama keluargaku di hutan belantara dari aldeia “Ramahana” lalu pindah ke aldeia “Ofotuan”, karena bapakku yang pindah ke tempat itu menjabat sebagai “Adjunto” di aldeia tersebut. Selalu berpindah-pindah, hingga mengungsi ke gunung matebian.
Sampai di gunung Matebian keluargaku semuanya mengalami penyakit kulit “franbusia” dalam bahasa daerah “kaki”, kecuali saya sendiri yang tidak tertular penyakit kulit itu, maka setiap hari aku yang bertugas untuk mengambil air dari gunung matebian hingga ke kaki matebian. Berangkat dari tempat persembunyian berupa gua batu besar, jam 8 pagi berangkat dari gua dan tiba di mata air jam 12 siang, antrian hingga mengambil air lalu balik pulang hingga ke tempat persembunyian gua batu jam 5 atau 6 sore.
Kala itu bapakku selalu mendoakanku sehingga aku selalu dilindungi dari bahaya perang invasi dan aneka peluru dari berbagai penjuru, udara, darat dan laut, aku selalu menghindari dan luput dari maut itu dan tiba kembali ke tempat bersembunyian dengan selamat. Bapakku memang galak tapi berhati malaikat dan mempunyai iman yang kuat pada Tuhan kami Yesus Kristus dan Bunda Maria.
Setiap kali lari selalu berdoa rosari, minta perlindungan Tuhan agar selamat dari marabahaya serangan militer Indonesia yang waktu itu dengan 4 buah pesawat bombardir, kapal perang di laut dan tentara angkatan darat yang menyerang dari berbagai sudut. Atas jasa bapakku yang begitu yakin dan beriman radikal pada Tuhan hingga kami semua selamat dari hujan peluru serangan militer Indonesia pada saat itu.
Sekembalinya dari gunung matebian, karena invasi militer Indonesia yang berpotensi melebihi kekuatan militer Timor Leste saat itu, yang amat miskin dari persenjataan militer Indonesia yang hanya bersejatakan bambu runcing dan sisa-sisa senjata portu yang ditinggalkannya, serta kekurangan bahan makanan, maka menyerahlah pada tentara Indonesia dan turun dari gunung matebian untuk berintegrasi dengan Indonesia.
Sekembalinya dari gunung matebian tepatnya bulan november tahun 1978, aku turun bersama keluargaku ke kota kelahiranku Iliomar. Mungkin itu adalah rencana Tuhan pada keluarga kami, yang waktu itu semuanya dikutuk kena penyakit kulit “franbusia”, maka sewaktu turun dari gunung matebian, ada pemeriksaan di jalan kami tidak ditilang karena semuanya orang sakit, saya sendiri yang sehat tapi masih kecil dan membawa banyak barang jadi mereka tidak menghiraukanku, dan membiarkan kami lewat.
Sesampainya di kota kecamatan Iliomar, baru kami terima tahun baru 1979 disitu. Sepanjang tahun saya bersama keluarga hanya numpang sama keluarga lain karena tidak ada tempat khusus bagi kami untuk berteduh. Setiap hari kami pergi ke kebun kami di Fuat, sebelum mengungsi ke gunung matebian kami mengelolanya di hutan pengunsian, untuk mengambil makanan di kebun sana.
Pertengahan tahun 1979 itulah bapakku memasukkan aku ke salah sekolah dasar di kota kecamatan Iliomar yang waktu itu dikelola oleh militer dan polisi Indonesia yang mengontrol dan mendirikan sebuah Sekolah Dasar disana, jadi saya masuk disitu dan mendaftarkannya untuk bersekolah. Sesampai di sana, kami di tanya, “Siapa yang sudah bisa menulis dan membaca angkat tangan?“, maka saya mengangkat tangan, lalu disuruh langsung naik ke kelas dua. Saya adalah salah satu di antara puluhan anak yang sudah membaca dan menulis, maka pak guru tentara mencatat nama saya dan mendaftarkan saya ke kelas dua di SDN 1 Iliomar.
Semua itu adalah berkat dari ajaran dan didikan bapak, yang selalu berusaha terbaik untuk putra-putrinya, agar kelak menjadi lebih baik dari dirinya sendiri. Ia juga mengajari kami berdoa dan menanamkan benih-benih kepercayaan Kristen Katolik pada kami agar menaruh keyakinan dan kepercayaan pada Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria, serta mengajari kami etika dan moral agar berkelakuan baik bagi sesama dan orang-orang di sekeliling kami, sopan-santun pada orang yang lebih tua pada kita, dilarang merokok, main judi, meminum minuman keras.
Pada intinya dia (bapakku) mengajari dua hal penting padaku yaitu, “bisa menguasai ilmu pengetahuan dan berkeyakinan pada Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria”. Akulah anak pertama dari 8 bersaudara, diantara kami hanya ada satu wanita saja dan yang sisanya semuanya pria. Maka setelah saya besar sekarangpun tidak bisa main judi, berbicara kotor, merokok dan meminum minuman keras. Sekali-kali saya udah mencoba tapi tubuhku tidak kuat untuk menerimanya, jadi saya menghentikannya kembali.
Atas jasanya itu maka saya menamatkan sekolah SDku yang semula diperkirakan 6 tahun, saya menamatkannya dalam waktu 5 tahun saja, SMP yang 4 tahun karena tinggal kelas setahun, SMA tiga tahun, setelah itu langsung mengajar di SMPK João Paulo II Iliomar, kemudian melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi mengambil FKIP jurusan Fisika dan mengajar lagi ke SMA Conis Santana di Lospalos, lalu pindah ke SMA Lere Anan Timur, sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi seperti: ISC Kristal, UNITAL dan UNTL yang membuka cabangnya di kota Lospalos. Kini beralih fungsi jadi pegawai perkantoran di Kotamadya Kabupaten Lautem-Lospalos.
Akhirnya aku bersyukur dan berterima kasih setinggi-tingginya pada bapakku yang sekarang sudah berada di sisi Yang Mahakuasa, sejak 29 agustus 2008 lalu. Karena atas jasanyalah aku sekarang jadi manusia yang berdikari dan mampu menghidupi keluargaku sendiri, meskipun sederhana tapi penuh kebahagiaan. Semuanya itu melewati tahap-tahap sengsara membawa nikmat.
Aku tak lupa jasa bapakku dan selalu mendoakannya agar ia bahagia bersama adikku Custodio dan Tuhan Yesus Kristus serta Bunda Maria di tempat kekal di sisinya, menikmati kebahagiaan surgawi disana. Sejuta terimakasih kuhaturkan padamu bapakku tercinta “Inácio de Carvalho” atas jasamu yang begitu luar biasa padaku. Kini kumohon doamu dan lidunganmu agar kami selalu sehat-walafiat membangun keluarga, meraih cita-cita dan impianmu jadi penerus dan pengganti di bumi pertiwi Timor Leste, khususnya di marga “Uruhua”. Amin.
By Prof. Aldo Jlm’22
Edisi, 27/6/2022
