Mengenal Tenun Tradisional Bugis dan Makassar
Buku : Tenun Tradisional Bugis Makassar
Penulis : Rukmini
Penerbit : Proyek Pengembangan Permuseuman Sulawesi Selatan
Tempat : Makassar
Tahun : 1979
Jumlah Halaman : v + 59
ISBN : –
Salah satu unsur budaya bangsa yang cukup banyak didokumentasikan adalah budaya tenun. Namun bagi suku Bugis dan Makassar, dokumentasi budaya tenun sangat sedikit. Buku tentang tenun Bugis dan Makassar tidaklah mudah ditemukan pada rak rak buku koleksi perpustakaan, baik di tingkat provinsi maupun pada kabupaten / kota.

Buku ini mencoba menjawab tentang kelangkaan dokumentasi buku yang membahas tenun Bugis dan Makassar. Meskipun sangat sederhana, namun informasi yang disajikan cukup beragam. Ada informasi tentan perkembangan tenun, fungsi tenun, peralatan yang digunakan, jenis pembuatan benang, tata cara menenun sampai corak dan motif tenun dibahas dalam buku ini.
Terdiri dari tiga bab, diawali dengan kata pengantar, kemudian pendahuluan pada bab pertama. Bab pertama ini mengulas tentang tujuan penulisan dan lokasi penelitian. Tujuan penulisan adalah untuk memperkenalkan tenun tradisional Bugis dan Makassar. Sementara itu penulis melakukan penelitian di daerah Bone, Wajo, dan Soppeng untuk suku Bugis, dan Gowa, Bantaeng dan Makassar untuk suku Makassar.
Bab kedua adalah inti pembahasan buku ini. Dengan judul bab “Tenun Tradsional Bugis Makassar” dijelaskan mulai dari perkembangan tenun Bugis da Makassar, termasuk sejarah pakaian dan proses pertenunan, keahlian menenun orang Bugis yang ada di Samarinda (Kalimantan) yang menjadikan kain “Samarinda” terkenal di seluruh Nusantara.
Fungsi fungsi tenun tradisional Bugis dan Makassar juga dibahas pada bab ini. Selain fungsi utamanya sebagai bahan pakaian fungsi lainnya adalah fungsi religius, etika dan moral, sosial, ekonomi dan budaya. Ada juga tentang warna baju yang dikenakan pada saat orang mulai beranjak dewasa, termasuk juga warna warna baju bodo sesuai status pemakainya.
Selanjutnya ada dijelaskan nama nama peralatan tenun tradisional Bugis dan Makassar. Ada yang disebut Lolisang, Palibutti, Ganra, Pussu, Laweang, Bulo Bulo, Assaureng, Umbara, Pappasiala, Jakka, Ulutennung, Jejjelek, Cacak, Pammaluk, Palapa, dan lain lain. Nama nama ini disertai nama dalam bahasa Makassar.
Tata cara pengolahan benang sutra juga dibahas pada bab kedua. Ada pula pembahasan tentang jenis benang tenunan, proses dan cara menenun, corak motif dan ragam hias. Corak dan motif tenun Bugis misalnya : curek lebbak dan curek rennik. Sementara bagi kain tradisional Makassar ada motif curak Gowa, motif bombang, motif moga, motif lacce genggang, curek pucuk, pittek palapa dan bali-arek.
Bab terakhir adalah penutup di mana penulis menyimpulkan gagasan gagasan yang ada pada bab pertama dan kedua. Pada bagian terakhir, ada gambar dan foto foto hitam putih (monokrom) dan berwarna. Ada foto peralatan tenun dan corak tenu tradisioal. Sayangnya karena buku tua, sehingga foto motif kain tenunnya sudah tidak jelas lagi. Bagian terakhir ada gambar peta Sulawesi Selatan dan juga daftar pustaka atau daftar bacaan.

