Oleh: Magek Bapayuang*

Puluhan tahun silam bukanlah waktu yang sebentar. Rangkaian pristiwa kejadian bila direntang disusun bersambung bisa jadi dari puncak Monas Jakarta sampai digonjong Jam Gadang Bukittinggi Sumatra Barat.

Kisah yang tidak kurang panjang dari karya sastra terpanjang di dunia I La Galigo. Kisah kami tidak harus dibaca dari depan atau belakang, dari mana pun bisa dimulai. Semuanya memiliki riwayat sendiri, dan semuanya bermula dari satu kata yang mengandung sejuta catatan, yaitu “Pena”.

Kalau kisah awalnya I La Galigo menampilkan toko sentral bernama Sawerigading, seorang pangeran flamboyan bermata biru yang mampu mengubah warna birunya laut menjadi warna merah darah musuhnya. Maka, kisah kami menampilkan dua orang berbeda suku tetapi disatukan ikatan garis Khatulistiwa. Dua tubuh satu jiwa literasi yang tidak pernah berhenti berkarya dalam sunyi, hingga sejarah terpaku dan mencatatnya.

Saya dari suku Minangkabau Sumatra Barat dan saudaraku Ruslan Ismail Mage dari suku Bugis Soppeng Sulawesi Selatan. Kalau sabahat lain memanggilnya RIM, saya selalu memanggilnya “Ndan”, abreviasi dari kata komandan. Kami tidak pernah memanggil nama, tetapi saling memanggil “Ndan” sebagai panggilan familiar jiwa kami yang masing-masing memuliakan karya.

Mungkin sudah lebih tiga dasawarsa saya menjadi penerbit buku di ibu kota. Berbagai macam pula jenis naskah dan karakter penulis ditemui. Satu penulis yang tidak bisa Citra Harta Prima tolak naskah bukunya adalah sang inspirator Ruslan Ismail Mage. Bukan karena kenal baik dengan akademisi ini, tetapi karena setiap katanya bermakna dan kalimatnya bertujuan. Kemampuan menjerumuskan pembaca ke dalam kubangan tulisannya menjadi ciri khas karya-karyanya.

Relasi batin dengan RIM saya coba lukiskan dengan dua ungkapan bijak Bugis dan Minangkabau. Teringat kata pusaka nenek moyang Bugis yang mengatakan, “Mattulu perajo te’ppe’ttu siranrang, padapi mape’ettu iya.” Artinya kurang lebih menjelaskan, “Terjalin laksana tali pengikat batang bajak pada luku yang selalu bertautan, takkan putus sebelum ketiganya putus.” Maknanya melambangkan eratnya persahabatan. Masing-masing saling mempererat dan memperkuat sehingga tidak putus jalinan.

Sementara di dalam kata pusaka Minangkabau, “Sebaris berpantang lupa, setitik berpantang hilang.” Kemudian disematkan petatah petitih, “Cadiak indak mambuang kawan, gapuak indak membuang lamak.” Artinya, dengan kemampuan yang dimiliki tidak meninggalkan atau membuang teman. Gemuk (banyak makan) tak membuang lemak atau makanan. Maknanya, meskipun RIM telah memiliki kelebihan, kepintaran, kelihaiaan, tetap peduli dan memperhatikan. Beliau tidak menjauhkan diri atau memisah dari orang lain.

Melalui titian aksara mengumpul yang bertabur, menjalin kulindan bersuluh literasi, merekat sumpah pemuda menjadi zamrud kitab pusaka untuk diwariskan kepada generasi pemikir besar Nusantara. Kelak mereka tidak akan kehilangan pegangan, cahaya ilmu bersemayam menjadikan pedoman masa depan.

Demikian mulianya RIM mengedepankan literasi budi, akhlak mulia. Pertama akal untuk berpikir nan menimbulkan rasa, kemudian rasa inilah yang melahirkan budi. Kalau akal melahirkan pendapat atau buah pikiran, rasa melahirkan budi yang wujudnya menghadirkan sopan santun. Adatnya adalah budi, lembaganya adalah periksa yang dibawa ke otak dan rasa dibawa ke dada.

Begitu dalamnya RIM menjambo (menjangkau) lubuk hati yang sangat dalam, menyentuh dengan kasih. Sungguh pun di kemudian hari berpisah, selalu akan teringat. Jauh dikenang dekat menjelang (berkunjung silaturahmi dan canda tawa).

Salam literasi tanpa limit untuk Ndan-ku. Sekali keris terhunus, takkan masuk sarungnya sebelum menghalau musuh peradaban. Sekali “pedang pena” terhunus, pantang mundur setapak pun ke belakang demi kehidupan lebih beradab. Begitulah relasi batinku dengan RIM tanpa syarat tanpa limit. Puncaknya ketika kami berdua menulis dan menerbitkan buku, “Generasi Emas Minangkabau (Pemikir Gadang Bangsa)”.

*Penerbit buku dan owner Citra Harta Prima Jakarta.

(Visited 69 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.