Oleh: Alif We Onggang*
Lama terpisah dan berbilang tahun tak pernah ketemu fisik, tapi pemikiranlah yang mampu menyatukan saya dengan Ruslan Ismail Mage yang dipanggil familiar RIM sebagai akronim namanya.
Sejauh yang saya kenal, RIM adalah pembelajar sampai ia mencapai atribut sebagai seorang akademisi, penulis, pemikir, penggerak dan motivator, yang tidak banyak orang memiliki kapasitas itu. Namun, RIM mampu menggabungkan semua talenta itu menjadi satu spektrum.
Nah, RIM ada di wilayah itu sehingga membuatnya terus produktif dan bergerak, sebagai ciri manusia pembelajar tadi. Ini membedakan manusia rata-rata yang setelah tiada tidak mewariskan apa-apa.
Istimewanya, RIM dapat menginspirasi, sedikit banyaknya tentang bagaimana idealnya manusia yang bertugas di Bumi melegasikan karya yang kelak tercatat dan memiliki jejak bahwa hidup harus punya nilai dan orientasi pada pencapaian.
Sebab hidup yang singkat sejatinya meninggalkan warisan abadi. Sonata-sonata Bach meski diciptakan ratusan tahun silam masih terus dinikmati sekarang, seperti kita membaca Mukaddimah Ibnu Khaldun yang menginspirasi Zuckerberg membuat Facebook, dan cara berfikir kita yang algoritmis dalam bermedia sosial.
Dalam lingkup yang lebih kecil, RIM ada di posisi itu. Dan sejarah pasti merekamnya. Salah satu rekaman sejarah nanti adalah satu tahun terakhir RIM mendirikan rumah jiwa di angkasa bernama Bengkel Narasi (BN) yang mengumpulkan orang-orang rendah hati yang ingin belajar menulis. Ia menyebutnya rumah jiwa karena ratusan anggota komunitasnya pada umumnya tidak pernah ketemu fisik, tetapi secara gagasan dan pikiran menyatu di angkasa untuk membumikan gerakan literasi.
Komunitas menulis Bengkel Narasi berbeda dengan yang lain. RIM menginspirasi setiap anggotanya bagaimana menulis sambil memeluk kemanusiaan, menulis sambil mengurus kehidupan, dan menulis sambil berbagi ke sesama.
Sukses mendirikan Bengkel Narasi (BN), RIM kembali menginisiasi lahirnya Pena Anak Indonesia (PAI) sebuah panggung khusus anak-anak Indonesia untuk mementaskan gagasan dan pikirannya di angkasa. RIM sahabatku, jangan pernah berhenti menulis, biar sejarah terus mengabadikan kiprahmu.
*Jurnalis senior Jakarta
