Oleh: Gusnawati Lukman
Alunan suara halus nan merdu
Lembut mengalir bak mata air yang jernih
Melafalkan kalimat-kalimat suci, kalam suci.
Aku menyimak dengan seksama. Sesekali kupandangi wajahmu yang manis nan teduh.
Ustadzahku…
Dengan apa aku harus membayar ilmu yang engkau berikan
Sedangkan Ilmu itu begitu mahal laksana mutiara
Bagaimana aku bisa membalas semua jasa-jasa dan kebaikan hati, serta kasihmu yang melimpah laksana buih
Ustadzahku…
Tak terbilang kalimat-kalimat cinta yang aku titipkan untukmu
Rasa cinta itu tidak butuh narasi berkilo-kilo
Terpatri, tersimpan dalam hati, terbingkai abadi dalam balutan cinta dan kasih
Darimu aku mengerti arti kesabaran, ketulusan, dan keikhlasan
Darimu aku belajar arti memberi dan berbagi tanpa mengharapkan balasan apa-apa
Darimu aku belajar bahwa kerendahan hati diatas segala-galanya
Selalu bersifat seperti padi, semakin berisi semakin merunduk
Ustadzahku, Ummiku…
Kalau ilmu dan pengetahuan itu Allah titipkan melalui kebaikan darimu
Lalu engkau curahkan semuanya pada kami
Aku selalu berdoa, semoga segala amal dan kebaikan itu terus mengalir dan mengantarkanmu ke surga yang dirindu.
Ustadzahku, Ummiku…
Di majelis ilmu nan agung, wejanganmu menyentuh kalbu sampai lubuk terdalam
Terpatri dalam hati, menjadi pegangan hidup
Ilmu yang engkau berikan dengan penuh semangat dan tak mengenal lelah, akan menjadi bekal kami untuk mengarungi universitas kehidupan yang maha luas
Terima kasih tak terhingga atas guyuran semangatnya
Terima kasih atas segala jerih payahnya.
Ummi… Aku tahu beribu ucapan terima kasih yang kami ucapkan tak kan setara dengan jasa-jasamu
Beribu permintaan maaf tidak akan mampu bersanding dengan bekal ilmu yang engkau berikan kepada kami
Doa kami akan selalu mengiringi langkah-langkah perjuanganmu.
Surga untukmu Ustadzahku.
Watansoppeng, 21 Agustus 2022

Amiin