Oleh: Devinarti Seixas
Hari itu penulis sedang menulis.Tiba -tiba penikmat sastra berkomunikasi. Ia bertanya apa kabar penulis?
Jawabnya singkat aku kabar baik jawab penulis.
Apa kabar juga kak panggilan halus antara penikmat sastra dengan penulis.
Ah aku baik jawabnya. Sorry lama tidak berkomunikasi kata penikmat sastra.
Ya semua karena kita sibuk pada karier masing-masing kak kata si penulis dengan nada manja.
Oh ya posisi di mana sekarang? Tanya penikmat sastra.
Aku lagi di rumah kak karena hari ini hari minggu.
Ah baik lanjut kerjanya jawabnya
Thanks buat perhatian kakak semenjak pertama kali hingga detik ini.
Okey sama-sama dek kata penikmat sastra.
Stop sebentar ia berkata lagi,dek bisa ngak hari ini kita berdua keluar bareng ?
Maksudnya kakak?Tanya si penulis.
Ya kita berdua keluar bareng aja jika ada waktu.
Hmmm apakah bisa ?
Ya bisa kenapa tidak jawab sang penikmat.
Oh ya emang mau bahas persoalan apa ya kok tiba-tiba ?
Intinya Aku ingin kita saling kenal secara dalam aja
Kok bisa jawab si penulis
Ya entar baru kita tentukan topik pembahasan dek.
Ya boleh kak jawab penulis
Okey jadikan ? Tanya si penikmat
Mau jalan-jalan bareng jam berapa kakak balik bertanya penulis
Tergantung adek
Okey jam 17.00 jawab penulis.
Ya tunggu aku segera mampir penjemput jika tiba jamnya
Okey jawab si penulis.
Tiba -tiba penikmat itu berkata lagi,sorry dek bisa tidak jika keluar jam 15.00 karena jam 17.00 ada deadline kata penikmat.
Terserah kakak karena aku free hari ini jawab penulis.
Okey jika gitu tunggu aku segera ke sana kata penikmat.
Si penulis pun lalu berlalu untuk bersiap menunggu penikmat.
Tiba-tiba saja penikmat nelfon tapi tidak diterima karena penulis lagi berdandan.
Lalu penulis nelfon lagi tapi penikmat menjawab jika dia ada sibuk dan minta maaf.
Pada pukul 15.00 penikmat berkata aku sedang makan selesai makan segera aku menjemput dek.
Okey aku tunggu di Jalan raya umum.
Tak lama kemudian, saat penulis tiba di jalan raya tiba-tiba penikmat pun datang dengan mobil.
Penulis langsung saja, masuk ke mobil dan mereka pun melaju dan berlalu dari jalan raya.
Tiba-tiba mobil mengambil jalur belok kiri dan menuju ke arah barat.
Penikmat tadi ingin mengenal secara dalam maka penulis mulai menceritakan jika ia sedang ada masalah serius.
Penikmat hanya terus menatap ke arah penulis sambil menyentuh dua tangan penulis dan berkata jadilah dirimu sendiri.
Maksudnya ? Tanya penulis.
Semua masalah ada solusi jadi seriuslah dengan menjadi diri sendiri.
Si penulis bingung saja kok tidak kayak komitmen awal katanya saling mengenal secara dalam tapi aku sendiri yang bercerita tanya penulis dalam hatinya.
Penikmat memandang aku sambil tersenyum.
Ah katanya saling mau bercerita kok aku sendiri tanya penulis.
Oh ya kita ke pantai saja .
Penulis mulai merasa jika feelingnya benar jika ia akan rapuh di hadapan penikmat karena rasa itu sudah terlintas meskipun salah satu di antara kedua pribadi tak ada yang open.
Mobil melaju sudah melewati batas kota lalu penikmat berkata kita akan melaju ke pantai di bagian barat.
Okey kan kita yang nyetir jawab penulis.
Di tengah perjalanan penikmat hanya diam sambil nyetir tatapan sudah berbeda tidak seperti pertemuan yang pernah terjadi sebelumnya.
Ah sambil memeluk si penulis.
Awas kak, tiba -tiba mulai terlintas kerinduan penulis terhadap perhatian penikmat sejak lima tahun lalu.
Sampai dekat pantai penikmat berkata kayaknya mesin mobil panas sekali.
Penulis menjawab jika tak bisa di lanjutkan pulang saja.
Penikmat pun berhenti dan cek mesin mobil lalu kembali melanjutkan perjalanan.
Sampai pada satu tikungan tak tahu penikmat tiba-tiba saja langsung berhenti.Sambil berkata eh buka masker dek kenapa shiii tutup mulut terus
Takut Covid 19 kakak jawab penulis santai.Tiba-tiba penikmat itu langsung mengeluarkan masker dari mulut penulis.
Awas kata penulis. Ah perasaaan penulis teringat lagi kata-kata penikmat jika ia pernah ungkapkan jika ia suka bibir si penulis katanya sexy.
Tidak sadar penikmat langsung mengecup kening dan dahi si penulis tanpa izin.
Kok gini sih kakak,ia pun tak mampu menolak jadi, sang penikmat bukan lagi menikmati tulisan penulis tapi justru memberikan ciuman liar di leher penulis dan berkata,j ika aku bukan hanya menikmati tulisanmu tapi aku bakalan menikmati hingga muntah.
Sambil berkata si penikmat tak lagi memberi balasan justru ia terus memeluk erat si penulis sambil mencium leher dan mengecup bibir hingga penulis tak mampu menolak.
Ia terus mendorong tubuh penikmat tapi tak bisa menolak karena tidak ada ciuman atau kecupan yang rasanya pahit.
Ia lalu berkata mari kita putar lalu ketepian pantai.
Si penulis hanya tersenyum sambil mencium kening penikmat. Sambil berkata salahkan aku mencintaimu kakak.
Tidak, lalu antara kedua orang itu pun larut dalam momen romantis di tepian pantai di bawah langit dan di atas bumi.
