Oleh: Devinarti Seixas
Hari-hari indahku mulai berubah perlahan-perlahan
Aku terus mencoba untuk terus kuat & bersabar setiap waktu………….
Aku tidak menduga perasaan yang aku pendam sejak lama
Mampu membawa aku ke jurang yang paling dalam
Ketika itu ………..
Aku mencari suasana dengan berharap agar semua mampu berjalan apa adanya meskipun feeling berkata jika aku akan benar-benar rapuh waktu itu…………….
Ku duduk termenung ketika dalam perjalanan saat harapanku benar-benar membawa aku lupa atau sengaja lupa tentang sesuatu
Sambil bercerita karena komitmen awal………..
Hanya aku yang bercerita
Hanya aku yang mengeluarkan suara dan aku sadar aku telah terjebak
Aku sudah terjebak terlalu dalam dan hampir lupa siapa aku sesungguhnya
Menatap aku dengan tersenyum sambil berkata
Masalahmu butuh solusi
Kamu harus jadi dirimu sesungguhnya kata pujaan hati dari setiap tutur kata dan gaya bahasa yang aku kenal sejak itu………
Dia bukan lagi menjadi bayangan semu yang hadir dalam hidupku pada menit itu tapi dia adalah kenyataan dengan wujud dan paras tubuh yang ada di sebelah aku….
Aku, aku menatapnya dengan manja berharap ia bisa menjagaku hingga pulang
Kata-katanya selalu saja terlintas di benakku jika aku harus menjadi diriku sendiri
Bukan kali atau baru kali ini kami saling kenal tapi baru kali ini aku menatapnya dari dekat lewat pandangan mata
Ia adalah seseorang yang aku anggap orang terhebat di satu sisi saja….
Ketika kami melaju jauh dari kota kami dipertemukan
Tatapan matanya mulai berubah entahlah aku tidak mengerti karena sesungguhnya apa yang feeling ungkapkan akan benaran terjadi terkait oleh suasana sepi………………
Di tengah perjalanan ia berkata jadilah dirimu sendiri
Kerinduan hadir tiba-tiba & aku tak tahu harus berkata apa tapi aku jujur pada diriku
Sebelumnya aku menjadi diriku yang sesungguhnya
Darinya aku seolah menemukan solusi atau titik temu bahwa sesungguhnya aku akan menjadi diriku sesungguhnya berawal dari pemilik tutur kata yang sesungguhnya………………
Seorang penikmat sastra
Ia menatapku dan memberikan aku solusi
Solusi tentang bagaimana aku bisa menjadi diriku kalah itu yakni diriku yang sesungguhnya
Sambil menatap satu sama lain aku harap aku mampu mengikhlaskan sesuatu yang telah menjadikan aku lupa akan aku dan diriku sesungguhnya sesamanya
Banyak momen indah terjadi di bawah langit di tepian pantai dengan corak rasa
Apakah aku harus membenci diriku ketika aku harus jadi diri aku bersamaan dengan momen itu……………
Setelah sekian lama kami hanya dua manusia yang saling menyapa berjam-jam
Saling peduli dan saling menegur tanpa menyadari waktu hingga kami pun menikmati gaya bahasa itu dalam waktu yang kebersamaan di dunia nyata
Aku benar-benar merasakan adanya perubahan yang terjadi baik rasa takut,haru maupun berbaur rasa kerinduan ketika kami saling menatap di tepi pantai
Sungguh aku telah menjadi diriku yakni aku yang sesungguhnya dengan sedikit manja aku terbaring sambil berkata tanpa izin dunia aku pun memberi kecupan agar aku yakin jika tutur katanya benar dan ia benaran menikmati isyarat gaya bahasaku yang sesungguhnya
