Oleh : A. Haslia Hs

Setiap orang hidup dalam tiga dimensi waktu, masa lalu, sekarang, dan yang akan datang. Entah kenapa saya tiba-tiba terkenang masa lalu yang penuh memori indah untuk dirangkai sebagaimana dalam perjalananku menemui cinta.

Rabu pagi 24 Juni 2015, kami berangkat dari kampung halaman Bulukumba dengan minibus jurusan Bulukumba-Palopo, menuju Kota Lasusua Kolaka Utara. Aku meninggalkan seluruh keluarga khususnya orang tua tercinta.

Lambaian tangan ibu dan doa tulusnya mengantar kepergianku. Tak terasa air mata mengalir deras. Belum begitu jauh, anakku Yasir menyadarkanku dari lamunan kota kelahiranku yang penuh suka dan duka. Aku pergi meninggalkan begitu banyak kenangan untuk menemui suami yang tinggal di Kota Lasusua Kolaka Utara.

Mama, berapa hari kita akan tinggal di Lasusua? Tanya anakku Yasir. Untuk kali ini kita akan tinggal lama bersama bapak. Entah setahun atau sampai tua nak, jawabku. Mendengar jawabanku, Yasir tersenyum dan perlahan tertidur di pangkuanku.

Memasuki Kota Palopo, Yasir terbangun dari tidur lelapnya, ketika Om sopir berhenti di sebuah warung makan. Ayo nak, kita turun. Mungkin ada yang ingin dibeli, kataku membelai Yasir. Saat memilih makanan ringan, Yasir menerima telpon dari bapaknya menanyakan bagaimana keadaan kami di perjalanan. Alhamdulillah, baik-baik saja pak, kata yasir kepada bapaknya. Kami lagi Istirahat di warung, tambah Yasir meyakinkan bapaknya.

Sesaat kemudian, perjalanan kami lanjutkan hingga tak terasa sudah menjelang tengah malam di Kota Masamba. Semua penumpang terlelap, tinggal saya yang temani Om sopir bicara supaya tidak mengantuk dan bisa fokus mengemudikan mobil.

Lagu Betharia Sonata yang sengaja diputar berulang-ulang dalam perjalanan membuat waktu tidak terasa sampai di Kota Malili. Om sopir menepi dan memutuskan untuk Istirahat sekaligus menambah bahan bakar. Semua penumpang turun dan diarahkan ke aula gedung Pertamina.

Penumpang bergegas mengambil tempat yang ada karpetnya di lantai untuk berbaring sekedar meluruskan badan yang seharian duduk. Aku tak sempat berbaring karena Yasir yang dalam gendonganku terbangun, dan minta belanja di mini market Pertamina.

Setelah menjalankan shalat subuh kami melanjutkan perjalanan. Terasa mengantuk sekali, jadi aku memejamkan mata sambil merangkul Yasir yang ada dalam pangkuanku. Aku tertidur mulai dari Tolala sampai Lasusua, hingga tidak sadar beberapa penumpang sudah turun.

Betul-betul tertidur pulas, nanti Om sopir berhenti depan rumah, baru Yasir berteriak memanggil bapaknya baru aku terjaga. Muncullah bapak Aci dari balik kaca jendela mobil, sambil bergurau, “Well Come to Lasusua My Honey”. Ia langsung mengendong Yasir buah hatinya turun dari mobil. Aku pun tersipu membatin, “Ya Allah ya Rabb, terima kasih Engkau telah menuntunku menemui cintaku”.

(Visited 27 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: