Oleh: Juharman Muliadi

Perkembangan digital yang semakin pesat, kini tak lagi membedakan kasta dan kekuasaan. Hampir semua kalangan merasakan dampak dari digitalisasi. Tak ketinggalan anak usia sekolah yang kini mayoritas menggunakan android. Di era modern dan serba digital memang tak mengapa jika anak pandai menggunakan android. Namun, penggunaan android di kalangan anak-anak harus tetap dalam pengawasan orang tua. Karena sudah banyak di antara anak-anak yang menyalahgunakan android, alat yang seharusnya bisa digunakan untuk lebih mudah dalam pembelajaran. Namun, karena kelalaian orang tua dalam pengawasan malah berdampak pada kecanduan main game. Padahal kita sudah disajikan beberapa fenomena dari dampak kecanduan main game, mulai dari terkena rabun di usia yang masih remaja sampai terkena sindrom hp karena kecanduan main game.

Terkadang ada juga orang tua yang mengawasi anaknya dalam mengunakan hp, termasuk membatasi waktu anak dalam penggunaan android. Namun, metode  yang diberikan terkadang memaksa anak untuk berbohong karena anak terpaksa main petak umpet agar tidak ketahuan dalam mengunakan hp. Hal ini terjadi karena terkadang kita sebagai orang tua hanya melarang saja, tanpa memberikan kesibukan lain yang dapat mengalihkan pikiran dari anak atau menyiapkan rutinitas yang dapat membantu anak dalam bersosialisasi secara langsung dengan teman sebayanya.

Masalah di era modern seperti ini dapat menjadi salah satu alasan mengapa orang tua perlu mendapatkan pendidikan terlebih dahulu. Saya teringat dengan kalimat Baginda Rasulullah Saw yang mengatakan,”Didiklah anak-anakmu 25 tahun sebelum dia lahir”. Kata yang sepintas terdengar seperti teka-teki. Namun, memiliki arti dan makna yang sangat berarti di dalamnya. Seorang anak pastinya butuh teladan dan itu harus dimulai dari orang tua, dan saya yakin orang tua yang memiliki pendidikan akan berbeda dengan orang tua yang tidak memiliki pendidikan dalam mengasih dan mengasuh seorang anak.”Itu baru seorang loh, apalagi kalau dua,” wkwkwk.

Hal yang terkadang menjadi kesalahan dan  perlu dihilangkan oleh orang tua adalah pemikiran bahwa setelah ia memasukkan anak-anaknya ke sekolah maka tugas mereka selesai. Sekarang semua menjadi tugas seorang guru di sekolah, baik itu afektif, kognitif, dan psikomotor. Orang tua kian lupa bahwa cinta dan kasih sayang orang tua akan jauh lebih berpengaruh terhadap afektif terutama akhlak dari seorang anak. Sebenarnya bukan cuma alasan waktu di rumah lebih banyak ketimbang di sekolah, tapi karena cinta dan kasih sayang seorang guru di sekolah terbagi dari beberapa anak yang ada dalam ruangan setiap harinya. Belum lagi kita berbicara tentang darah daging dari yang bisa membuat anak lebih patuh.

Semoga dengan membaca tulisan ini akan memberikan manfaat bagi orang tua dalam membimbing putra putri tercinta menuju masa depan yang gilang gemilang. Sadar bahwa mendidik dan membimbing anak bukan hanya menjadi tanggung jawab guru di sekolah, tapi tanggung jawab kita bersama.

(Visited 16 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: