Buku : Kisah Tumpasnya Kahar Muzakkar
Penulis : Amak Syarifuddin
Penerbit : Penerbit GRIP Surabaya
Tempat: Surabaya
Tahun : 1965
Jumlah Halaman: 48
Ukuran : 14,7 cm x 19,5cm
ISBN : –
Inilah buku tertua yang membahas tentang Kahar Muzakkar, karena diterbitkan tidak lama setelah pemberontakan Kahar Muzakkar berakhir, dengan tertembaknya Kahar Muzakkar di tepian sungai Lasolo, Sulawesi Tenggara. Kertasnya juga sudah rapuh dan sebagian bagian pinggirnya sudah sobek. Bagian sampulnya juga masih ada yang menggunakan tulisan tangan, dan juga masih menggunakan ejaan Bahasa Indonesia yang lama dimana ‘j’ dibaca ‘y’, ‘dj’ dibaca ‘j’ dan lain lain.
Pada bagian awal, buku ditulis dalam bentuk kronologis dimulai dari tanggal 27 Januari 1965. Ada kata pengantar dari penulis, juga ada foto foto hitam putih yang sudah buram, diantaranya foto Peltu Umar Sumarna dan Kapt. Jayadi. Ada foto jenazah Kahar Muzakkar yang dibawa dari tepian sungai Lasolo. Peltu Umar Sumarna ini adalah komandan Peleton I Kompie D Jon Para 330 “Kujang I” Siliwangi yang berhasil menemukan dan akhirnya pasukannya menembak mati Kahar Muzakkar dan beberapa anggotanya.
Tidak banyak informasi pribadi Kahar Muzakkar yang dibahas dalam buku ini, kecuali istri istrinya yang berjumlan 9 orang. Dua istri Kahar Muzakkar yang banyak dibicarakan dalam buku ini adalah Corry Van Stenus dan Siti Hami.
Ada yang menarik pasukan Siliwangi berusaha menyergap dan melumpuhkan pasukan Kahar Muzakkar. Sebelum terjun ke hutan belantara Sulawesi Tenggara, para anggota pasukan sudah diperlihatkan foto foto Kahar Muzakkar saat masih menjadi anggota TNI aktif. Juga di ‘briefing’ bahwa diantara semua anggota pasukan Kahar Muzakkar, satu satunya yang memiliki radio transistor adalah Kahar Muzakkar sendiri. Anak buahnya tidak ada yang punya.
Pada sore hari tanggal 2 Januari 1965, jam 16.30 waktu setempat, tiba tiba di tengah tengah hutan, ditepian sungai Lasolo, terdengar mengalun indah lagu “Terkenang Masa Lalu” dari siaran Radio Kuala Lumpur, lewat radio transistor. Peltu Umar Sumarna dan pasukannya langsung merasa yakin kalau Kahar Muzakkar adalah pemilik radio sumber lagu itu. Pasukan Siliwangi ini pun mengendap endap mendekati dan mengepung sumber suara.
Anggota Peleton I pimpinan Peltu Umar Sumarni ini tidak langsung menyergap atau menyerbu pasukan Kahar Muzakkar sore itu. Masih menunggu waktu yang tepat. Mereka melewati malam gelap gulita, dingin dan lembab di tengah hutan belantara, mengintai segala gerak gerik pasukan Kahar Muzakkar. Baru pada pagi harinya, bertepatan dengan hari raya idul Fitri, pasukan TNI menyerbu dan berhasil menumpas pemberontakan Muzakkar yang telah mengganggu ketentraman hidup masyarakat Sulawesi Selatan dan Tenggara selama 15 tahun lamanya.
Ya, gara gara lagu “Terkenang Masa Lalu” pasukan TNI dibawa komandan Peleton I Peltu Umar Sumarna menghancurkan pemberontakan Kahar Muzakkar di hari raya Idul Fitri 3 Januari 1965. Dari pondokan pasukan Kahar Muzakkar di tepian sungai Lasolo, jenazah Kahar Muzakkar di angkat/ditandu menuju desa terdekat bernama Lawali melewati hutan lebat dan butuh waktu 12 jam untuk sampai ke desa tersebut. Di desa Lawali, telah menunggu helicopter TNI untuk menerbangkan jenazah Kahar Muzakkar menuju Makassar.
Jadi penasaran, bagaimana nada dan lirik lagu itu, dan siapa penyanyinya…. 😊

