Setiap manusia mungkin menginginkan kehidupan yang luar biasa apik, elok, dan bergelora. Dari mulai usaha bangun pagi sampai tidur pagi pun dilakukan, demi mencapai apa yang menjadi tujuan. Panas, hujan pun dilalui. Bahkan cemoohan orang dan kerikil tajam pun tetap diterjang tak dipedulikan. Semua itu demi tujuan hidup/apa yang ingin kita raih.

Seandainya langit ini dapat kita lukis sendiri warnanya dan seandainya bumi ini dapat kita putar sendiri perputarannya, mungkin terus – menerus akan kita lakukan demi mencapai tujuan kita. Tak ayal pikiran pun berkhayal, hati terpatri, dan gegap langkah terarah.

Namun apa jadinya bila hal yang selama ini kita inginkan, masih jauh dari harapan. Bak kita inginkan melihat pelangi, namun apa daya hujan pun belum turun karena langit masih dalam keadaan mendung. Sama halnya dengan pencapaian yang ingin kita dapatkan. Walau kita menginginkan kehidupan yang sungguh sangat luar biasa, namun apa jadinya bila jalan yang kita tempuh masih harus menemui banyak hambatan.

Saat kita merasa sudah berada di tempat kesuksesan, namun masalah internal maupun eksternal menghampiri hidup kita. Saat kita merasa selangkah lagi untuk mendapatkan kesuksesan, namun ternyata harus terjatuh sangat dalam bahkan di bawah titik nadir.

apakah semua kesalahan yang terjadi adalah salah kita? Apakah semua kondisi buruk adalah salah kita? Jawabannya bisa iya bisa tidak. Kita sebagai manusia yang beriman tentunya meyakini adanya kita dan adanya Tuhan/Allah sebagai pengatur hidup kita. Apa yang terjadi dalam hidup kita kemungkinan besar adalah salah kita. Namun apa yang terjadi dalam hidup kita kemungkinan besar juga merupakan goresan takdir. Lantas salah siapa?jika kita tidak pernah melakukan apa pun, jelas salah kita. Karena kita terlalu menganggap remeh hidup ini. Namun jika kita sudah berusaha dengan sekuat tenaga namun tujuan hidup kita belum juga terlaksana, mungkin hal itu adalah rangkaian takdir yang tak bisa dipisahkan. Sebagai manusia biasa, kita tidak perlu menyalahkan diri sendiri, karena kita adalah pembelajar. Sedari kita lahir sudah diajari caranya mengumandangkan adzan. Hingga kita meninggalkan dunia ini pun kita masih harus belajar cara bertemu dan berkomunikasi dengan Rabb kita. Jadi biarlah kesalahan sebagai pembelajaran, tidak ada yang perlu disalahkan. Karena seperti baju, jika tidak kotor, maka tidak akan pernah dicuci kecuali ingin lebih membersihkan baju tersebut. Layaknya sikap dan kehidupan manusia, ada yang belajar dari kesalahan, ada pula yang ingin meningkatkan kebaikan dari apa yang sudah baik.

Hal terpenting adalah diakhir cerita, kita menjadi insan yang baik. Layaknya pelangi itu, jika kita tidak bisa menikmati indahnya pelangi, paling tidak kita tahu bahwa kita pernah merasakan panas yang juga bermanfaat untuk kehidupan kita. Walau saat ini masih nampak mendung di langit harapan.

(Visited 28 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Uus Usnawati

Seorang perempuan yang selalu happy, berjuang untuk hidupnya, tak kenal lelah. Panggil saja Uuz happyday atau Miss Happy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.