Oleh: Ruslan Ismail Mage*

Sebagai penulis buku-buku motivasi, kepemimpinan, dan politik, bertemu dengan pemimpin dari berbagai tingkatan di lokasi acara sudah biasa. Pada umumnya, keluar ruangan acara didampingi beberapa orang bergegas pulang karena sudah ada agenda lain menunggu. Paling menyalami orang-orang yang sudah lama menunggu, lalu menuju ke mobil dinas.

Namun, kali ini berbeda dari biasanya. Untuk keperluan membumikan gerakan literasi menulis, sudah dua jam saya menunggu seorang kepala daerah di pintu keluar tempat acara berlangsung. Ketika sang pemimpin keluar ruangan, seperti biasanya menyalami beberapa orang yang sudah menunggunya sambil berjalan.

Tiba giliran menjabat tangannya, saya sudah siap kecewa lagi sebagaimana pengalaman sebelumnya ketika ingin menemui dan berbincang dengan seorang pemimpin yang pada umumnya cenderung abai dengan orang-orang yang menunggunya. 

Ketika saya berjabat tangan dengannya, sang pemimpin memberi antitesa dari pemimpin pada umumnya. Tidak langsung bergegas meninggalkan tempat menghadiri acara berikutnya, tetapi sambil memegang tangan mengatakan, “Ikut ke rumah, kita diskusi.” Saya hanya mengangguk lalu termenung dan membisu. Saya termenung karena antitesanya dan membisu karena berpikir ini kesempatan berdiskusi di rumah jabatan.

Sesaat kemudian, saya sudah tiba di rumah jabatan Bupati Pesisir Selatan, Bapak Rusma Yul Anwar. Bersama Kepala Dinas Pendidikan Bapak Salim Muhaimin, kami menunggu di ruangan tengah rumah jabatan. Kurang lebih lima menit duduk menikmati secangkir kopi, sang bupati datang berjalan ke arah kami dan duduk berempat.

Mempertimbangkan sudah ada beberapa tamu lain yang menunggu, saya langsung memperkenalkan diri sebagai penulis buku “Generasi Emas, Pemikir Gadang Minangkabau”. Sambil menyerahkan buku, saya menjelaskan deskripsi singkat buku itu. “60% orang yang mendesain Indonesia merdeka adalah orang Minangkabau. Bukan hanya itu, 60% sastrawan dan penulis buku fenomenal Nusantara adalah orang Minangkabau.”

Karena larut dalam kebesaran tokoh-tokoh bangsa asal Minangkabau, tidak terasa sudah satu jam berdiskusi dengan sang pemimpin paling mandiri yang pernah saya kenal. Lalu, di mana saja letak sudut-sudut kemandiriannya? Ikuti dua tulisan berikutnya berjudul “Menenteng Sapatu” dan “Berpayung Daun Pisang”.

[Bersambung]

*Akademisi, inspirator dan penggerak, penulis buku-buku motivasi dan politik.

(Visited 534 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.