Oleh : Aldo Jlm

Menurut kepercayaan umat Kristen Katolik bahwa manusia tercipta, teruji dan terpatri dalam tiga dunia. Dunia pertamanya adalah selagi ia terbentuk dan tercipta dari dua sel yaitu sel sperma dan ovum dan tumbuh selama sembilan bulan sepuluh hari dalam kandungan ibunya, diberi nafas kehidupan tubuh, jiwa dan roh, dan ketika tiba waktunya akan lahir ke dunia kedua sebagai manusia.

Dunia keduanya adalah dunia fana, dunia yang membesarkannya, mendidiknya hingga menjadi manusia yang mengenali dirinya sebagai citra Allah di dunia, dimana ia harus beradaptasi dan teruji selama ia hidup di dunia ini dan Tuhan mengujinya dengan berbagai cobaan, agar ia bisa lolos dari ujian ini dan suatu saat tiba kembali padaNya. Ketika ia melewati cobaan ini maka ia baru dikatakan lulus dari ujian hidup yang diberikan oleh Tuhan Allah semesta alam, yang maha pencipta, maha penyayang, maha pemaaf, maha pemurah, maha penguasa dan sebagainya…

Selagi ia masih hidup di dunia fana ini, ia berada dalam “gereja militante, tetapi setelah ia lulus ujian dan melangkah ke dunia lain ia akan teruji sementara dalam api penyucian (purgatory) guna menghapus sisa-sisa dosa yang masih ada pada dirinya menuju ke transeden, ia hidup dalam “gereja purgante dimana masih menunggu pertolongan kita berupa doa yang masih hidup di dunia ini untuk mendoakannya, agar dosanya benar-benar bisa terhapus lalu melangkah ke tempat Tuhan bersemayan yang dinamakan surga, dan hidup di “gereja triunfante” (kekal) bahagia bersama Tuhan selamanya.

Dunia ketiganya adalah, pada saat manusia meninggalkan dunia fana ini menuju dunia ketiga (ke alam baka atau tempat para arwah) itulah yang dinamakan “hari raya arwah” atau istilah orang Timor “loron matebian/FINADO”, yang sering dirayakan pada tanggal 2 november setiap tahunnya. Intinya untuk mendoakan para arwah yang sedang berada di gereja purgante (di api penyucian) menuju ke gereja triunfante (kekal), agar Tuhan dapat mengampuni dosa-dosa mereka dan menyucikannya baru masuk surga, dan hidup bahagia bersama Tuhan selamanya.

Pada hari itu orang-orang Kristen Katolik membawa bunga, lilin dan sejumlah uang tunai ke gereja, untuk meminta doa dari para Imam di gereja, agar mendoakan mereka di gereja purgante supaya dosanya dapat diampuni oleh Tuhan. Kejadian ini hanya dirayakan sekali dalam setahun, tetapi orang Kristen Katolik yang baik setiap saat mengikuti missa dan mempersembahan nama para arwahnya ke altar suci, akan didoakan oleh Imam yang memimpin misa, maka arwah keluarganya akan diampuni dosanya dan cepat melangkah ke surga. Lalu di surga dia akan mendoakan kita kembali, seandanya kita membutuhkan pertolongannya.

Karena dalam kitab suci tertulis bahwa, “segala sesuatu yang terlihat akan cepat berlalu, tetapi yang tidak tampak oleh mata selalu abadi selamanya”. Maka sebagai orang Kristen Katolik yang baik, kita diwajibkan untuk mendoakan para arwah sanak famili kita yang telah berada di dunia ketiga (gereja purgante) agar cepat diampuni dosanya dan masuk ke surga hidup abadi bersama dengan Tuhan sebagai orang kudus, yang dirayakan sehari sebelum hari raya arwah.

Sebagaimana sebuah kutipan dalam status Romo Icaysdb, bahwa: “hari raya arwah yang dikenal dengan FINADO atau Loron Matebian, merupakan hari cinta kasih. Menurut beliau bahwa ketika masih hidup, ada berbagai cara kita dalam menunjukkan cinta kasih pada sesama kita; tetapi ketika sudah tiba  waktunya untuk berpisah dari dunia ini, cinta kasih kita diperlihatkan lewat Perayaan Ekaristi, doa dan karangan bunga beserta lilin. Karena hidup merupakan berkat dan mati merupakan jalan menuju keabadian”.

Menurut ajaran “Kristen Katolik” manusia terdiri 3 aspek yakni: roh, jiwa dan tubuh. Roh kita adalah bagian dari diri kita yang paling dalam. Bagian inilah yang mempunyai potensi untuk memahami dan berhubungan dengan Allah. Iman kepada Allah selalu berasal dari roh kita. Tiga unsur ini yang dikenal dengan istilah “TRIKHOTOMI”. Trikhotomi adalah pandangan bahwa natur manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu: tubuh (daging), jiwa dan roh.

Pandangan ini berdasarkan pada pengertian bahwa, Allah menciptakan manusia, dengan memberikan tiga unsur utama di dalam diri manusia yaitu tubuh, jiwa dan roh. Sebagaimana juga dalam pandangan para filsuf Yunani, memandang bahwa tubuh, jiwa dan roh adalah satu kesatuan, yang ada dalam manusia yang hidup.

Menurut paham Ibrani, manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu tubuh, jiwa dan roh. Yang pertama dijadikan dari tanah liat, yang kedua ialah kehidupannya (nyawa), sedang yang ketiga ialah roh yang dapat merasa, mendengar, melihat, memikirkan, dsbnya. (1Tes.5:23; Kej.2:17; Bil,16:22)
Jiwa terdiri dari emosi, kehendak, dan pikiran kita, sehingga semua orang mengetahui apa yang dimaksud dengan tubuh. Kita berbeda dengan binatang, karena kita adalah makhluk yang memiliki roh. Binantang memiliki jiwa, walaupun tidak semaju sebagaimana jiwa manusia. Tentu saja binatang mempunyai emosi, kehendak, dan akal budi yang berbeda tingkatannya. Sebagai manusia kita ini unik. Anda dapat mengatakan bahwa kita adalah makhluk yang memiliki roh, yang mampu mengenal Allah. Kita mempunyai jiwa, dan kita hidup di dalam tubuh jasmani.

Tubuh adalah unsur lahiriah manusia, unsur daging yang dapat dilihat, didengar, disentuh dan sebagainya. Jiwa adalah, unsur batiniah manusia yang tidak dapat dilihat. Jiwa manusia ini meliputi beberapa unsur, pikiran, emosi (perasaan) dan kehendak. Dengan pikirannya manusia dapat berpikir, dengan perasaannya manusia dapat mengasihi dan dengan kehendaknya, manusia dapat memilih. Roh adalah prinsip kehidupan manusia. Roh adalah nafas yang dihembuskan oleh  Allah ke dalam manusia dan kembali kepada Allah, kesatuan spiritual dalam manusia. Roh adalah sifat alami manusia yang “immaterial” yang memungkinkan manusia berkomunikasi dengan Allah, yang juga adalah Roh.

Dalam surat Paulus kepada jemaat Ibrani bahwa, firman Allah itu “hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua sekalipun; ia dapat menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh… ”(Ibr.4:12), mengingatkan kita bahwa, efek ketajaman firman Allah yang memang dapat menegur kita dan mengetahui segala sesuatu, membedakan pertimbangan dan pikiran kita.

Ketika tubuh kita mati, jiwa spiritual kita tetap hidup, sebab jiwa kita bernilai abadi. (Katekismus Gereja Katolik/KGK; 997,1005) mengajarkan bahwa , pada saat kita mati, jiwa kita terpisah dari tubuh, tubuh akan mengalami kehancuran, sedangkan jiwa melangkah menuju Allah dan menunggu saat dimana kelak akan dipersatukan kembali dengan tubuh. Persatuan antara tubuh dan jiwa ini pada akhir jaman (Yoh.6:39-40; 44-54; 11:24; Lumen Gentium 48.KGK 1001).

Jiwa memiliki nilai yang lebih dalam dari sekedar perasaan, dan dengan demikian perasaan dapat dikatakan merupakan bagian dari  jiwa. Bila dikaitkan dengan orang sakit jiwa/gila, bahwa mereka tetap memiliki akal budi dan kehendak bebas, namun otak mereka tidak berfungsi dengan semestinya. Maka, orang yang sakit jiwa, tetap memiliki martabat sebagai manusia, walaupun otaknya tidak normal, karenanya ia tidak dapat berpikir/mengetahui sesuatu dengan baik.

Dalam kebangkitan orang mati di surga orang-orang “tidak kawin dan dikawinkan”. Karena setelah orang sampai di surga dan bersatu dengan Allah sendiri, maka lambang yang menunjuk ke surga tidak diperlukan lagi. Sebagaimana menurut Paus Yohanes Paulus II dalam Theologi of the Body mengatakan bahwa, “When Jesus say men and women will not be given to marriage in the resurrection, it is as if he is saying, (You no longer need a sign to point you to heaven, when you are in heaven)”.(TOB 66:2). Karena di surga tidak ada lagi keinginan badan seperti di dunia, yang ada hanya kasih yang meraja di dalam Tuhan yang adalah Kasih. Jadi perasaan di sini diartikan sebagai naluri duniawi, tentu perasaan ini tidak ada lagi di surga, tetapi perasaan di sini diartikan perasaan mengasihi, maka di surga perasaan kasihlah yang utama dan sempurna.

Oleh sebab itu kita orang Katolik percaya bahwa kita dapat memohon agar para kudus di surga mendoakan kita; karena mereka sungguh telah dibenarkan oleh Allah karena kasih mereka, dan kita mereka bersatu dengan Tuhan dalam KasihNya, sehingga doa mereka besar kuasanya (Yak.5:16)

Moga tulisan ini bisa bermanfaat bagi orang-orang Kristen (Katolik+Protestan) dan keyakinan lain seperti Islam, Hindu, Budha, serta dapat mengetahui arti sebenarnya dari hari raya arwah yang selalu dirayakan oleh umat Katolik seantero dunia.

By Aldo Jlm’22

Edisi, 021122

Sumber: Ide penulis dan Sarapan Pagi Biblika Katolik


(Visited 79 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Aldo Jlm

Elemen KPKers-Lospalos,Timor Leste, Penulis, Editor & Kontributor Bengkel Narasi sejak 2021 hingga kini telah menyumbangkan lebih dari 100 tulisan ke BN, berupa cerpen, puisi, opini, dan berita, dari negeri Buaya ke negeri Pancasila, dengan motonya 3S-Santai, Serius dan Sukses. Sebagai penulis, pianis dan guru, selalu bergumul dengan literasi dunia keabadian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.