Oleh : Sayid Anshar*

Setiap kata adalah doa, begitulah ungkapan seorang ulama. Lain halnya dengan Prof. Dr. H. Andi Mustari Pide SH, MH., yang mengatakan, “Kata itu bagaikan pedang dan emas, bisa mengiris hati dan bisa menyenangkan hati”.

Dalam kamus bahasa Indonesia, kata atau ayat merupakan satuan bahasa yang mempunyai arti atau satu pengertian. Dalam bahasa Indonesia kata adalah satuan bahasa terkecil yang mengisi salah satu fungsi sintaksis (subjek, predikat, objek atau keterangan) dalam suatu kalimat.

Sedangkan kalimat menurut Fachruddin A.E A adalah kelompok kata yang mempunyai arti tertentu, terdiri atas subjek dan predikat dan tidak tergantung pada suatu konstruksi gramatikal yang lebih besar.

Hakikat dari “kata bermakna kalimat bertujuan” yaitu pemikiran rasional yang diartikan sebagai ungkapan yang mengandung unsur, sehingga ketika diucapkan akan memiliki makna yang beragam. Begitu pun dengan kalimat ketika diucapkan secara sistematis maka memiliki tujuan tertentu. Sehingga dibutuhkan kecerdasan dalam mengelola perbendaharaan kata dan kalimat. Seperti yang diucapkan Mahatma Gandhi,”Pikiran, perasaan, dan ucapan harus sesuai, agar menjadi kejujuran sejati”.

Kerangka berpikir di atas mengisyaratkan agar senantiasa selalu menjaga kata dan kalimat yang akan di ucapkan, karena ucapan itu bagaikan membuang angin, ketika sudah keluar, maka tidak bisa ditarik kembali. Kehormatan dan martabat seseorang diukur berdasarkan cara berucap dan bertingkah laku. Karena itu, mari kita selalu menjaga ucapan agar tetap menjadi emas. Jadi benar quote sang inspirator dan penggerak jiwa bapak Ruslan Ismail Mage, “Kata dan Kalimat itu liar, jadi ikatlah dengan adab sebelum melepaskannya”.

*Penikmat literasi membaca dan menulis

(Visited 79 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.