Berawal dari iseng menawarkan naskah buku ke penerbit mayor hingga memilih jalan sebagai seorang penyunting, aku menikmati peran di belakang layar munculnya sejumlah nama penulis. Lahir dari rahim Satu Birokrat Satu Buku (Sabisabu) Adrinal Tanjung dan dibesarkan dalam asuhan Bengkel Narasi Ruslan Ismail Mage (RIM), aku bersyukur (pernah) mengawal jalan literasi dua insan birokrat penulis tersebut.
Mengambil jalan literasi yang berbeda, nama Adrinal Tanjung dan Sumardi terus berkibar. Dengan genre dan topik kepenulisan yang berbeda, kedua birokrat yang meniti awal kariernya di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) ini memiliki segmen pembaca dan penggemarnya masing-masing.
Dengan gerakan Satu Birokrat Satu Buku (Sabisabu), Adrinal Tanjung mengambil strategi pendekatan literasi pada para pimpinan lembaga dan unit kerja di instansi pemerintah. “Kepalanya kepegang, ekornya pasti ikut,” begitulah kira-kira jalan literasi Adrinal Tanjung. Berkat ketekunannya, gerbong Sabisabu terus bertambah. Bahkan, Adrinal Tanjung dikategorikan sebagai salah satu birokrat penulis berskala nasional.
Sedikit berbeda dengan “Si Sontoloyo”, Sumardi mengambil jalan literasi dari level akar rumput. Aku menjulukinya “Birokrat Perjuangan”. Sejalan dengan tugas dan fungsi mengawasi pelaksanaan nilai dasar, kode etik, kode perilaku, dan netralitas serta penerapan sistem merit dalam kebijakan dan manajemen ASN, juga melaksanakan tata kelola ASN yang mandiri, profesional, dan akuntabel, Sumardi harus bisa memainkan peran sebagai “penengah” dan memberi alternatif win-win solution untuk permasalahan yang dihadapi para ASN. Baik itu ASN yang “nakal” ataupun ASN yang terzalimi, hingga Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK) yang perlu mendapat arahan dan “diluruskan”, Sumardi tetap berpegang teguh pada peraturan dan perundang-undangan. Semua itu dituangkan secara tertulis dalam bukunya dengan judul-judul yang agak nyeleneh.
Pagi ini, Aku sengaja mendesain gambar untuk konten postingan mereka, khususnya buku terbaru mereka yang aku terbitkan. Ada rasa haru bernostalgia. Ada ikatan emosional persaudaraan meski tanpa ikatan darah. Ada bisikan yang selalu tergiang-ngiang di telinga, “Sahabat itu menjadikanmu pegangan, bukan pijakan.”
Alhamdulillahi ‘ala kulli haal. Segala puji bagi Allah atas setiap keadaan. Betapa aku akan merindu hari-hari mengawal jalan literasi ini. []



