Oleh : Hamsah*
Ada rasa pernah dikejar, namun lekang akan waktu. Ada rasa pernah tersimpan, namun hilang karena ego. Akhirnya, ketiadaan rasa ternyata berujung pada kesepian. Bagaimana tidak, jika seperti ungkapan para pujangga, dunia pernah milik berdua akhirnya tak menjadi bagian dari dunia. Begitulah yang dirasa bagi orang yang skeptisme akan cinta. Ragu dengan apa yang telah dirasakan akhirnya harus lepas jauh meskipun tak rela.
Plato seorang filsuf Yunani mengatakan, “Tingkatan cinta yang paling rendah adalah cinta jasmaniah”. Karena itu, cinta karena ukuran fisik adalah level cinta paling dangkal. Tak mungkin bisa menyelami cinta pada level yang lebih dalam jika tabir cinta paling dangkal saja tidak bisa diselesaikan. Sepertinya benar, jika ukuran cinta harus dilekatkan pada aspek fisik atau materi maka sudah pasti tak ada yang ideal. Ibarat berjalan di belantara hutan mencari bunga yang paling mekar, maka dalam sepanjang jalan yang dilewati akan ada bunga-bunga yang berbeda dan semakin menarik sehingga sulit menentukan ukuran bunga yang paling ideal atau sempurna, hingga berujung tak memiliki satu pun.
Dalam perjalanan rasa, ternyata banyak yang terjebak dalam permainan dan pemahaman yang dangkal. Cinta yang dikejar dan yang dinanti tak lain adalah ketabuan. Tabu akan tujuan akhir, akhirnya berujung pada rintik-rintik kelukaan yang penuh makna. Meminjam pandangan Leonardo, “Sakitnya cinta adalah nikmat bagi yang mengalaminya”.
Ada masa kita mengejar rasa. Namun ,membuangnya di saat tak terasa. Oleh karena itu, cinta pada pandangan pertama adalah sebuah tantangan sebagian besar orang. Apakah ia akan berkomitmen atau justru berpaling karena melihat potensi rasa yang lain. Bagi yang sanggup bertahan maka ia akan langgeng dan bahagia. Namun, yang tak sepenuhnya maka ia gagal dan terluka dan pada fase inilah diorbitkan istilah mantan-mantan terindah.
Ada masa kita dihampiri rasa, namun diabaikan karena belum terasa. Melekatkan rasa pada orang yang pernah memiliki rasa dan yang belum tentu tantangannya berbeda. Bagi yang sudah pernah merasakan rasa, tentu menginginkan rasa yang lebih dibandingkan yang sebelumnya. Karena itu, pada fase ini kita diakrabkan dengan istilah jomblo, dan tidak sedikit orang yang memilih bertahan untuk mengenang rasa-rasa yang pernah ada atau bahasa lain sulit move on.
Jomblo artinya pernah ada rasa, namun menjadi tidak ada. Oleh karena itu, lebih sulit menyelami cinta orang jomblo dibandingkan dengan yang belum pernah merasakan cinta sama sekali. Ibarat orang yang berpengalaman akan luka akan senantiasa berhati-hati untuk menerima tawaran hati yang baru.
Ada masa kita menginginkan rasa, namun sulit mengungkapkan rasa. Di sini berlaku, mencintai itu mudah, namun mengungkapkannya sulit. Di saat rasa-rasanya semua orang bahagia karena rasa, namun justru sebagian lagi masih memikirkan bagaimana bisa mengungkapkan dan menentukan rasa. Di saat rasa pernah terasa ke mana-mana, akhirnya harus berada pada pilihan harus menentukan untuk berlabuh pada rasa yang terakhir. Namun, tak semudah itu ternyata, tak semudah menjatuhkan cinta pada pandangan pertama, ada banyak pertimbangan.
Sebagai kesimpulan, jika yakin bahwa dengan cinta akan menyebabkan kebahagiaan, maka dengan itu kita juga harus percaya bahwa mereka yang tanpa cinta pasti menderita karena sepi.
*Akademisi Universitas Negeri Manado

Orang yang selalu membanding bandingkan rasa, tidak akan pernah bisa memahami makna cinta yang sesungguhnya, dan akan berujung pada lara nestapa serta dibalut oleh rasa sepi yang berkepanjangan