Oleh : Ruslan Ismail Mage*

Banyak orang tersenyum familiar menyapa kita, sebanyak itu orang tertawa melihat kita jatuh. Banyak orang mendoakan kita sukses, sebanyak itu orang menginginkan kita gagal. Itulah hitam putihnya kehidupan yang tidak bisa dihindari dalam menjalani rutinitas sehari-hari.

Jadi jangan pernah mencari zona tanpa pembenci, karena pembenci laksana bayangan kita yang selalu mengikuti ke mana saja kita pergi. Seperti permen karet yang nempel di mana-mana, karena itu pembenci jangan dilayani. Kalau sudah meyakini langkahnya sudah benar, teruslah berjalan walau di bawah tumitnya ada duri. Kalau sudah meyakini pilihannya sudah benar, jangan lagi terpengaruh nyinyiran orang. Karena hanya orang yang berani melangkah yang bisa sampai di garis finish.

Untuk terus menumbuhkan dan memupuk optimisme masa depan, maka di lingkaran keluarga inti, sahabat, dan mahasiswa, saya selalu berpesan bahwa, “Hanya empat hal yang bisa menghentikan langkahmu, yaitu melanggar norma agama, norma hukum, norma kesopanan, dan norma kesusilaan. Selama tidak melanggar salah satu dari empat norma itu, persetan apa kata orang lain”. Quote ini menjadi penting dijadikan spirit, karena manusia paling lihai menilai orang lain, tetapi buta menilai dirinya sendiri. Kalau selalu memperhatikan omongan orang lain, sama saja berdiri di atas pusaran air.

Untuk mencari data pembenar bagaimana nyinyiran orang tiada henti diproduksi, coba kita maknai nasihat inspiratif Luqmanul Hakim yang namanya diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai surat Luqman. Dikisahkan suatu hari, Luqman berkata kepada anaknya, “Wahai putraku! Teruslah berbuat kebaikan, jangan perdulikan apa kata orang lain kalau engkau sudah yakini tindakanmu benar dan tidak bertentangan dengan agama. Sesungguhnya, sebaik apa pun engkau tidak bisa menghindar dari ocehan, nyinyiran, dan kritikan orang lain”. Berikut pembuktiannya.

Luqman kemudian menunggangi keledai, sementara anaknya berjalan sambil memegang tali keledai. Orang-orang yang melihatnya langsung berkomentar, “Orang tua egois tidak punya perasaan, enak-enak menunggang keledai sementara anaknya yang masih kecil disuruh jalan kaki”. Mendengar ocehan orang, Luqman segera berganti posisi dengan anaknya. Ia memegang tali menuntun keledai, dan anaknya naik di atas keledai. Sesaat kemudian, orang yang melihatnya berkomentar, “Dasar anak tidak tahu diri, enak-enak di atas keledai sementara orang tuanya dibiarkan berjalan menuntun keledai. Bisa kualat nanti anak itu”.

Mendengar komentar orang-orang yang melihatnya itu, Lukman meminta anaknya turun dari keledai lalu berjalan bersama sambil memegang tali keledainya. Ketika memasuki sebuah perkampungan, orang-orang kembali memperbincangkan, “Orang tua dan anak sama saja bodohnya, buat apa punya keledai kalau tidak ditunggangi”. Mendengar ocehan itu lagi-lagi Lukman mengambil inisiatif, ia dan putranya kemudian menggotong keledai itu memasuki kampung sebelah. Seketika semua orang yang melihatnya terbelalat matanya penuh keheranan sambil berkata, “Dasar orang tidak waras, keledai yang semestinya ditunggangi tetapi kenapa digotong”.

Mendengar komentar orang-orang disepanjang jalan tersebut, Luqman pun berkata kepada anaknya, “Puteraku, coba kau dengar, apa yang mereka katakan tentang kita!.” Begitulah hukum kehidupan yang tidak bisa dihindari. Sebaik apa pun yang engkau lakukan selalu ada orang berkomentar miring. Jangan berharap semua orang yang mengelilingimu mendukung kebaikanmu, pasti ada yang tidak senang melihatmu sukses.”

Sahabat, Jadi ketika engkau sudah menentukan tujuan, fokuslan kepada tujuanmu dan jangan perdulikan apa kata orang. Ingat! Hanya pelanggaran norma yang bisa menghentikan langkahmu. Selama tidak melanggar norma, persetan apa kata orang lain. Hidupmu hidupmu, masa depanmu masa depanmu.

*Akademisi, inspirator dan penggerak, penulis buku-buku motivasi

(Visited 101 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.