Oleh: Ruslan Ismail Mage*
Selama lebih dua dasawarsa menjadi akademisi, berbagai karakter akademisi saya jumpai. Tidak jarang dosen tampil laksana hakim yang memasang wibawa, seperti polisi yang ingin ditakuti, menyerupai jaksa yang ingin dihormati. Sebaliknya, tidak sedikit juga tampil laksana orang tua yang menasihati, atau motivator yang memberi semangat.
Semua karakter itu tidak menjadi masalah selama output yang dihasilkan mencerdaskan mahasiswa. Menjadi masalah kalau tidak memberi ruang gerak mahasiswa berbeda pendapat, atau berpikir kritis dalam menyikapi suatu fenomena. Lebih masalah lagi kalau sebagai pengajar menggunakan kewenangan akademik yang melekat dalam dirinya untuk seenaknya mengajar dan mengabaikan jadwal kuliah yang telah ditentukan.

Di antara beberapa karakter dosen itu, saya lebih memilih memposisikan diri sebagai “Pelayan Mahasiswa”. Melayani semua keperluan mahasiswa yang berkaitan dengan teori-teori keilmuan sesuai mata kuliah. Sesungguhnya itulah MoU dengan negara yang membayar saya setiap bulan untuk melayani kebutuhan keilmuan mahasiswa.
Sebagai pelayan, tentu tidak boleh mempersulit urusan mahasiswa selama sesuai dengan aturan dan norma akademik. Tidak boleh angkuh dalam bernarasi, tidak boleh sombong dalam berinteraksi, tidak boleh cuek mengabaikan waktu kuliah, tidak boleh otoriter berpendapat, dan tidak boleh menutup ruang pemikiran kritis.
Menyadari posisi sebagai pelayan mahasiswa, saya selalu membuka ruang dialog keilmuan, menyiapkan ruang diskusi permasalahan yang dihadapi, menyediakan panggung terbuka untuk mementaskan gagasannya. Hal ini penting agar mahasiswa mahir public speaking sebagai modal utama menembus level menengah dalam dunia kerja.
Sebagai pelayan intelektual mahasiswa, saya pantang menyalahkan pendapat mahasiswa di dalam kelas. Menyalahkan berarti secara tidak langsung mematahkan semangat, mematahkan semangat berarti mengaburkan mimpi anak negeri pemilik masa depan. Kalau ini yang terjadi, berarti saya telah mengkhianati negara yang telah menyiapkan gaji setiap bulan untuk melahirkan generasi emas penjaga ibu pertiwi. Karena itulah saya konsisten Istiqomah menjadi pelayan intelektual mahasiswa.
*Akademisi, inspirator dan penggerak, penulis buku-buku motivasi
